Kebijakan Trump "Makan Korban" Toyota & Honda, Bisa Tutup
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan tarif 50% terhadap mobil impor dari Kanada. Kebijakan ini berpotensi menghantam Toyota dan Honda, yang menjadi pemain terbesar dalam industri otomotif Ottawa.
Toyota dan Honda menyumbang lebih dari tiga perempat produksi mobil Kanada. Jika tarif tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 2027 sesuai rencana, kedua produsen Jepang itu berpotensi memangkas atau menutup sejumlah jalur produksi di Kanada.
"Jika Anda benar-benar ingin menghancurkan industri otomotif Kanada, Anda bisa melakukannya dengan tarif ini," kata Julie Boote, analis otomotif di Pelham Smithers Associates, London, seperti dikutip Reuters, Senin (31/8/2026).
"Toyota dan Honda kemungkinan harus menutup sejumlah lini perakitan mereka di Kanada," tegasnya menyebut ancaman penutupan.
Menurut analis Barclays, dampaknya cukup besar karena Kanada merupakan basis produksi penting untuk pasar AS. Mobil buatan Kanada menyumbang hampir 24% penjualan Honda di AS dan sekitar 17% penjualan Toyota pada tahun lalu.
Keduanya menjadi produsen besar yang paling terpapar rencana kenaikan tarif Trump dari 25% saat ini menjadi 50%. Toyota mengekspor sejumlah model penting dari Kanada ke AS, termasuk RAV4, sedangkan Honda mengirimkan CR-V.
Kebijakan tarif ini datang ketika produsen otomotif Jepang juga menghadapi tekanan persaingan dari kendaraan listrik (EV) China berbiaya rendah di Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin. AS masih menjadi pasar terbesar Toyota dan Honda, sekaligus pasar yang relatif terlindungi dari pesaing China seperti BYD.
Toyota telah berupaya mengurangi ketergantungan pada produksi luar AS dengan memperbesar investasinya di Negeri Paman Sam. Perusahaan berencana menggelontorkan hingga US$10 miliar (sekitar Rp177 triliun) dalam lima tahun untuk memperluas operasi AS, termasuk pembangunan pabrik senilai US$3,6 miliar (sekitar Rp63,7 triliun) di Texas.
Bagi Honda, tekanan tarif datang saat perusahaan tengah berupaya membalikkan bisnis otomotifnya yang merugi. "Ini akan mewakili perubahan besar dari masa lalu," kata analis senior Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, Seiji Sugiura, mengenai potensi perubahan rantai pasok akibat tarif.
Sementara itu, seorang eksekutif pemasok Jepang mengatakan pihaknya memilih untuk "tidak bereaksi berlebihan". Karena, tambahnya, belum jelas apakah kebijakan tersebut benar-benar akan diberlakukan.
(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]