Jenazah korban banjir Nepal, Prabita Roila, dikremasi di tepi Sungai Suryamati. Suaminya tak hadir karena terjebak di sisi perbatasan China.
Kerabat Prabita Roila (32 tahun), korban tewas dalam banjir bandang dan tanah longsor di Nepal, bersiap melakukan kremasi di tepi Sungai Suryamati, Trishuli, Distrik Nuwakot, Minggu (30/8/2026). Jenazah Prabita dibawa ke lokasi tersebut untuk menjalani prosesi kremasi setelah ditemukan sebagai salah satu korban bencana mematikan yang melanda wilayah tersebut. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Roila termasuk di antara 780 orang yang tewas setelah aliran deras yang membawa es, batu, dan puing menerjang lembah pegunungan di perbatasan China-Nepal pada Rabu (26/8/2026). Bencana tersebut juga menyebabkan lebih dari 3.000 orang dilaporkan hilang. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Krishna Prasad Bhatta, kerabat Roila berusia 69 tahun, mengatakan suami korban tidak dapat menghadiri prosesi kremasi. Ia masih berada di sisi perbatasan wilayah China, sementara akses jalan terputus akibat banjir. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Prosesi kremasi di tepi Sungai Suryamati dihadiri sekitar sepuluh kerabat Roila dan dilakukan sesuai tradisi Hindu. Ritual tersebut antara lain meliputi meletakkan batu di sungai, menyelimuti jenazah dengan kain, kemudian membakarnya. (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Bhatta mengatakan Roila merupakan satu-satunya dari delapan anggota keluarganya yang dilaporkan hilang yang telah ditemukan sejauh ini. Sementara itu, keberadaan tujuh anggota keluarga lainnya masih belum diketahui. (REUTERS/Athit Perawongmetha)