Turki-Israel Memanas! Kian Sengit Rebutan Pengaruh di Timur Tengah

Redaksi, CNBC Indonesia
Sabtu, 29/08/2026 21:45 WIB
Foto: Bendera Turkey- Bendera Israel. (Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Turki dan Israel kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara ke sebuah pangkalan udara nonaktif di Suriah utara pekan lalu. Serangan itu diklaim Israel sebagai langkah pencegahan atas dugaan rencana penempatan pasukan Turki di lokasi tersebut. Baik pemerintah Turki maupun Suriah membantah ada rencana pengerahan pasukan ke pangkalan itu, dan untungnya tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan khusus untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, bahkan turut mengkritik serangan itu sebagai eskalasi yang tidak perlu.

Rivalitas kedua negara sebenarnya bukan hal baru, namun belakangan semakin terbuka dan tajam. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam beberapa tahun terakhir kerap melontarkan kritik pedas terhadap Israel, termasuk menyebutnya sebagai "negara teror" dan membandingkan PM Benjamin Netanyahu dengan Hitler. Netanyahu tak tinggal diam - ia balas menyebut Erdogan sebagai diktator antisemit, sementara sejumlah pejabat Israel menuding Turki mendukung terorisme dan bertindak layaknya negara musuh.


Sehari setelah serangan ke Suriah, Netanyahu menegaskan lewat video di media sosial bahwa Israel tidak akan menerima kehadiran militer Turki yang meluas ke arah selatan karena dianggap mengancam keamanan negaranya. Dua hari berselang, Turki membalas dengan mengumumkan upaya penangkapan Netanyahu melalui Interpol atas tuduhan genosida dan penyiksaan, terkait kasus domestik Turki soal perlakuan Israel terhadap aktivis pro-Palestina yang dicegat di laut dalam perjalanan menuju Gaza.

Para analis menilai akar ketegangan ini berasal dari dua peristiwa besar. Pertama, perang Israel di Gaza yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel - perang balasan Israel disebut otoritas kesehatan Gaza telah menewaskan sekitar 73.000 orang, termasuk puluhan ribu perempuan dan anak-anak. Kedua, jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah akhir 2024 yang melahirkan pemerintahan baru pimpinan Ahmed al-Sharaa, sosok yang memiliki hubungan erat dengan Turki namun dicurigai oleh Israel.

Suriah kini menjadi titik gesekan paling berbahaya antara kedua negara. Turki menginginkan Suriah yang stabil dan bersatu di bawah kepemimpinan yang didukungnya, sementara Israel justru lebih memilih Suriah yang terpecah dengan militer lemah agar tidak menjadi ancaman. Perbedaan visi yang fundamental ini membuat kedua negara terus saling curiga di kawasan tersebut.

Persaingan Turki dan Israel juga meluas jauh melampaui Timur Tengah. Di Tanduk Afrika, Turki memiliki hubungan erat dengan Somalia lewat kehadiran diplomatik dan militer yang signifikan, sementara Israel pada Desember lalu menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Somaliland - langkah yang langsung dikecam keras oleh Erdogan. Di Mediterania Timur, Israel mempererat kerja sama militer dan energi dengan Yunani serta Siprus, dua negara yang punya sengketa wilayah lama dengan Turki.

Sebagai respons atas dinamika ini, Turki bulan ini menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi dan Pakistan, yang menurut para analis sebagian ditujukan untuk mengimbangi pengaruh Israel di kawasan. Meski demikian, para pengamat sepakat bahwa kecil kemungkinan kedua negara akan terlibat bentrokan militer langsung, terutama karena Amerika Serikat - sekutu dekat keduanya - memiliki kepentingan besar untuk mencegah konflik terbuka antara Turki dan Israel.

Sejumlah analis Israel bahkan berspekulasi bahwa serangan ke Suriah turut dimanfaatkan Netanyahu untuk memperkuat citra keamanan nasionalnya menjelang pemilu Israel pada Oktober mendatang. Di sisi lain, Turki dan Israel sama-sama tidak populer di mata publik negara rivalnya, sehingga retorika keras terhadap satu sama lain dinilai juga menguntungkan secara politik di dalam negeri masing-masing.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rencana Damai Trump Ditolak, Israel Tetap Bertahan di Gaza