Peta Persaingan Industri Gadai Makin Berwarna, Ini Buktinya!

dpu, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 19:07 WIB
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah ketidakpastian ekonomi makro global dan pelemahan daya beli, industri gadai masih mencatatkan performa yang mengagumkan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pinjaman industri pergadaian secara nasional terus melaju kencang dengan pertumbuhan dua digit melebihi 33% Year-on-Year (YoY), dengan total penyaluran pinjaman menembus angka di atas Rp103,36 triliun.

Sebagai penguasa pasar utama, PT Pegadaian mencatatkan kenaikan Outstanding Loan (OSL) Gross yang fantastis hingga lebih dari 58% YoY. Yang menarik, di tengah bayang-bayang kredit macet di sektor keuangan lain, rasio Non-Performing Loan (NPL) industri gadai justru membaik di level yang sangat sehat, yakni di bawah 1%.


Peta persaingan pun kian berwarna. Tak lagi didominasi penuh oleh BUMN, lanskap pergadaian nasional kini diwarnai ekspansi masif dari pemain gadai swasta berizin resmi OJK. Nama-nama seperti Pusat Gadai Indonesia, Gadai Top, Raja Gadai, hingga Beli Gadai tumbuh menjamur di sudut-sudut kota hingga pemukiman padat penduduk. Kehadiran aturan tegas seperti POJK Nomor 39 Tahun 2024 dan UU P2SK kian mempercepat pembersihan pasar dari pemain gadai informal, menjadikan industri ini semakin modern dan tepercaya.

Mengapa pergadaian begitu digandrungi? Jawabannya terletak pada skema penjaminan berbasis aset (collateral-based lending). Saat perbankan formal makin selektif menyalurkan kredit akibat kekhawatiran risiko, dan pinjaman online (pinjol) tergerus stigma bunga mencekik, gadai hadir sebagai katup pengaman yang aman, cepat, dan terprediksi.

Yang menarik, narasi industri gadai hari ini telah bergeser jauh dari stigma usang "tempat orang terdesak". Jika di loket-loket jalanan rakyat kecil menggadaikan emas 2 gram atau sepeda motor, di belahan kota yang lain, di balik pintu-pintu suite hotel bintang lima dan ruang rapat privat korporasi, transaksi serupa terjadi dalam skala yang mencengangkan.

Fenomena gadai kini merambah segmen kelas atas (High-Net-Worth Individuals / HNWI) dan para pemilik bisnis beraset besar. Mereka menggadaikan barang-barang koleksi bernilai fantastis seperti jam tangan edisi terbatas Patek Philippe, Audemars Piguet, dan Rolex, tas desainer dunia seperti Hermès Birkin, perhiasan berlian murni, hingga logam mulia batangan skala besar.

Perbedayaannya mendasar yakni jika masyarakat segmen bawah butuh dana untuk bertahan hidup (subsistence), kalangan atas memanfaatkannya sebagai instrumen rekayasa finansial (financial engineering) dan manajemen arus kas taktis.

Salah satu pemain utama yang melopori pergadaian swasta premium adalah PT Lesca Gadai Premier. Mengincar segmen niche yang sangat spesifik, Lesca Gadai Premier menjawab dahaga likuiditas para pebisnis nasional yang membutuhkan suntikan modal kerja hingga miliaran rupiah tanpa harus memicu gejolak di pasar modal atau merusak reputasi bisnis mereka.

Navigasi Finansial Pengusaha

Memasuki paruh kedua tahun 2026, kenaikan harga emas dunia yang menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di tengah ketidakpastian geopolitik global justru membuka peluang emas bagi para pebisnis. Kenaikan harga instrumen safe haven ini dimanfaatkan Lesca Gadai Premier untuk menawarkan program optimalisasi portofolio tengah tahun.

Direktur Lesca Gadai Premier, Bastian Purnama, menjelaskan bahwa dalam manajemen kekayaan modern, menjual aset fisik premium yang nilainya sedang menguat secara konsisten saat membutuhkan likuiditas adalah keputusan yang kurang taktis.

"Kenaikan harga emas perhiasan dan logam mulia di pasar global saat ini adalah kesempatan emas bagi para kolektor dan pengusaha. Melalui skema pendanaan berbasis aset (asset-backed lending) yang kami tawarkan, mereka dapat memanfaatkan nilai laten dari koleksi premium tersebut secara maksimal. Mereka bisa mendapatkan pencairan dana hingga miliaran rupiah berdasarkan taksiran harga pasar terkini yang sedang tinggi, namun aset fisik mereka tetap utuh di bawah kepemilikan mereka," ungkap Bastian dikutip Rabu (26/8/2026).

Tantangan terbesar bagi para CEO, pendiri startup, dan pengusaha kelas atas dalam mencari dana cepat adalah risiko reputasi (reputational risk). Mengajukan pinjaman institusional berskala besar atau menjual aset operasional secara mendadak sering kali memicu signaling effect negatif di mata investor dan kompetitor di mana pasar bisa mengira mereka sedang mengalami krisis arus kas.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Lesca Gadai Premier mengusung konsep Discreet Liquidity yang disokong oleh ekosistem layanan privat bertajuk White Glove Service.

"Bagi para pemimpin bisnis, waktu dan reputasi adalah komoditas yang paling berharga. Menunggu proses persetujuan kredit perbankan konvensional yang memakan waktu berminggu-minggu tentu akan membuat momentum ekspansi hilang. Di sisi lain, mereka tidakingin pasar mencium bahwa mereka sedang membutuhkan dana taktis. Di sinilah konsep Discreet Liquidity yang kami tawarkan menjadi solusi mutlak," tegas Bastian.

Melalui White Glove Service, nasabah premium tidak perlu mendatangi kantor atau gerai fisik. Tim penilai (appraiser) senior Lesca Gadai Premier akan mendatangi lokasi yang diinginkan nasabah mulai dari ruang rapat pribadi kantor hingga kediaman pribadi. Taksiran nilai dilakukan secara ilmiah dan pencairan dana miliaran rupiah dieksekusi secara langsung via transfer bank dan online langsung.

Aspek keamanan dan integritas ini ditopang oleh sertifikasi internasional ganda yang diraih perusahaan, yakni ISO 9001:2015 untuk Manajemen Mutu dan ISO/IEC 27001:2022 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi.

Ekonom Senior Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai fenomena menjamurnya pergadaian ritel hingga pergadaian mewah sebagai pertanda pergeseran cara pandang masyarakat dan dunia usaha terhadap manajemen modal.

"Bagi segmen kelas atas, efisiensi biaya modal (cost of capital) dan perlindungan reputasi adalah kunci. Meminjam dana dengan jaminan aset mewah yang sedang menguat nilainya jauh lebih efisien dibandingkan harus menarik deposito berjangka lebih awal atau menjual kepemilikan saham di saat pasar saham sedang bergejolak. Lembaga seperti Lesca Gadai Premier berhasil mengubah persepsi gadai dari sekadar solusi darurat menjadi alat bantu navigasi keuangan yang sangat elegan," ujar Piter.

Di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi dan ketatnya likuiditas, gadai berdiri kokoh di tengah persimpangan yakni menjadi jaring pengaman sosial bagi rakyat kecil di akar rumput, sekaligus menjadi mesin pelumas arus kas bagi para penggerak roda bisnis nasional.


(dpu/dpu)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pegadaian Kini Berstatus Persero, OJK Buka Suara!