Jawa Kekurangan Pasokan Gas, Proyek Migas Baru Ini Jadi Penambalnya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Kamis, 27/08/2026 19:30 WIB
Foto: Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung didampingi Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman pada hari Rabu (18/3/2026), meresmikan Pengaliran Gas Bumi (Gas-in) Pipa Transmisi Gas Bumi Ruas Cirebong-Semarang Tahap 2. (CNBC Indonesia/Verda Nano Setiawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan sejumlah sumber gas bumi baru di Jawa Timur untuk mengatasi defisit pasokan gas di wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur. Hal itu juga untuk menjamin ketersediaan pasokan gas bumi untuk Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap I dan II yang sudah rampung dibangun.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa terdapat beberapa lapangan migas baru yang bisa berpotensi menambah produksi gas bumi untuk wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur.

Dia menjabarkan, beberapa sumber pasokan gas baru tersebut antara lain berasal dari Lapangan Lengo yang dikelola Kris Energy, Bukit Panjang yang dikelola PCK2L, Lapangan ENC yang dikelola PT Energi Mineral Langgeng, lalu dari TIS Blora Fasę 2, Pertamina EP Asset 4, Lapangan Paus Biru yang dikelola Medco Sampang, West Sidayu oleh SIPL, Lapangan MBF dan MDK oleh Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML), dan lainnya.


"Kalau tadi ada semacam gap kekurangannya, maka kekurangan tersebut sudah ada juga kita dapatkan informasi yang memadai, khususnya dari SKK Migas, ini bagaimana menutupi kekurangan gas yang ada di ruas pipa tersebut," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (27/8/2026).

Dalam rencana jangka panjang periode 2027 hingga 2035, potensi tambahan pasokan gas bumi di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah diproyeksikan akan meningkat secara bertahap. Peningkatan produksi gas bumi tertinggi diproyeksikan akan terjadi pada tahun 2030 hingga 2031.

Pemerintah memetakan sejumlah lapangan potensial yang siap dikembangkan di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kontributor utama yang menjadi tulang punggung tambahan pasokan tersebut adalah lapangan Lengo yang dikelola Kris Energy yang diproyeksikan menyumbang volume 84,49 MMSCFD mulai tahun 2030, serta lapangan Bukit Panjang yang dikelola PCK2L yang memberikan kontribusi stabil hingga 50 MMSCFD pada periode 2032-2033.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk mengoptimalkan cadangan gas yang ada. Penemuan sumber gas baru ini sangat penting agar jaringan pipa yang sudah tersambung dapat berfungsi secara maksimal.

"Namun memang ini masih dalam bentuk potensi bagaimana nanti mengutilisasinya Ditjen Migas bersama SKK Migas nanti akan melakukan pengaturan-pengaturannya," imbuhnya.

Jawa Defisit Gas

Berdasarkan catatan Ditjen Migas Kementerian ESDM per Juli 2026, defisit gas Jawa Tengah dan Jawa Timur rata-rata di kisaran 100-125 MMSCFD.

Tercatat, pada Januari 2026 pasokan gas "hanya" sebanyak 563,01 MMSCFD, lebih rendah dibanding kebutuhannya sebanyak 674,19 MMSCFD. Akibatnya, terdapat defisit gas sekitar 111,18 MMSCFD.

Defisit pasokan gas terbesar tercatat terjadi pada Februari 2026 dengan kekurangan mencapai 276,79 MMSCFD, di mana pasokan yang tersedia hanya sebesar 473,64 MMSCFD untuk memenuhi permintaan yang mencapai 750,43 MMSCFD.

Pada Juli 2026, defisit gas mencapai 104,16 MMSCFD, karena dari kebutuhan 753,89 MMSCFD, pasokan gas yang tersedia "hanya" 649,73 MMSCFD.

Kondisi kekurangan pasokan gas itu juga diproyeksikan akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026. Pada Desember 2026, pasokan gas diperkirakan "hanya" sebesar 634,02 MMSCFD, lebih rendah dibanding kebutuhannya sebanyak 760,63 MMSCFD. Akibatnya, defisit gas pada Desember 2026 diperkirakan mencapai 126,61 MMSCFD.

Secara keseluruhan, produksi gas bumi nasional hingga 31 Juli 2026 rata-rata mencapai 6.544 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Angka ini masih lebih rendah dari target dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 6.837 MMSCFD.

Begitu juga dengan realisasi salur gas. Hingga Juli 2026 baru tercatat rata-rata sebesar 5.208 MMSCFD, lebih rendah dari target APBN 2026 sebesar 5.508 MMSCFD.

Bila dibandingkan dengan realisasi pada 2025, produksi dan salur gas sepanjang 2026 ini juga terlihat mengalami penurunan. Pada 2025, produksi gas tercatat mencapai 6.753 MMSCFD dan salur gas tercatat sebesar 5.425 MMSCFD.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Pemerintah Akan Perketat Penyaluran LPG 3 Kg, Agar Tepat Sasaran