MARKET DATA
Internasional

"Duri dalam Daging" AS Taklukkan Iran: China

tfa,  CNBC Indonesia
27 August 2026 18:55
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Strategi ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menekan Iran menghadapi tantangan besar, yakni China. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu menjadi pembeli utama minyak Iran dan jalur penting bagi perdagangan Teheran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent meluncurkan apa yang disebut "Operasi Ekonomi Outcast", dengan ancaman sanksi terhadap negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran. Namun, efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada apakah Washington mampu membatasi akses Iran ke pasar China.

China selama ini membeli sebagian besar ekspor minyak Iran yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS per tahun. Beijing juga secara konsisten menolak sanksi sepihak AS dan menegaskan haknya untuk mempertahankan hubungan dagang dengan Iran maupun Rusia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan Beijing akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya. Ia juga memperingatkan kebijakan tersebut justru dapat meningkatkan ketegangan dan risiko terhadap perekonomian global.

"Perang ekonomi dan tekanan maksimum tidak akan membantu menyelesaikan masalah ini," ujarnya, seperti dikutip CNN International, Kamis (27/8/2026).

Tekanan Washington datang menjelang rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS bulan depan. Pertemuan tersebut dinilai penting untuk menjaga gencatan senjata perdagangan kedua negara, sehingga ancaman sanksi terhadap perusahaan China berpotensi memperumit hubungan Washington-Beijing.

Analis dari Shanghai Institutes for International Studies, Zhao Long, menilai ruang bagi China untuk memenuhi tuntutan AS sangat terbatas. China menurutnya tidak mungkin menerima situasi di mana Washington menentukan apa yang dapat diperdagangkan secara legal oleh perusahaan China dengan negara ketiga.

China sendiri selama bertahun-tahun menggunakan jaringan perdagangan yang relatif terisolasi dari sistem dolar AS untuk membeli minyak Iran. Kilang independen yang dikenal sebagai "teapot refinery", bersama jaringan pelabuhan, kapal tanker dan lembaga keuangan, memungkinkan perdagangan tersebut tetap berjalan meski berada di bawah tekanan sanksi.

Namun, AS tetap memiliki sejumlah titik tekanan. Max Meizlish dari Foundation for Defense of Democracies mengatakan sejumlah perusahaan yang terlibat memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan milik negara China yang terintegrasi dengan sistem dolar AS, sehingga Washington dapat menargetkan anak usaha untuk menekan induknya.

Bessent sebelumnya juga mengungkapkan bahwa Washington telah memperingatkan dua bank China terkait transaksi dengan Iran. Ia bahkan menegaskan tidak ada pihak yang berada di luar jangkauan sanksi AS, termasuk bank maupun perusahaan pelayaran China.

Meski demikian, Beijing memiliki alat tawar yang kuat dan dapat membalas jika Washington menyasar bank-bank besar China. Di sisi lain, China masih membuka ruang untuk mendorong perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, termasuk memulihkan jalur perdagangan di Selat Hormuz, tetapi menegaskan langkah tersebut bukan berarti membantu strategi tekanan maksimum Trump terhadap Iran.

"Jika Washington melewati ambang batas itu, Beijing hampir pasti akan merespons," kata Sun Chenghao dari Center for International Security and Strategy, Tsinghua University, seraya memperingatkan bahwa pertemuan Trump-Xi dapat berubah dari upaya stabilisasi menjadi pengendalian kerusakan.

 

(luc/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 9 Update Baru AS Serang Iran: Teheran Rudal Arab, China-Rusia Teriak


Most Popular
Features