Pipa Sepulau Jawa Sudah Tersambung Tapi Pasokan Gasnya Kurang!
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah tuntas membangun Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap I dan II. Artinya, pipa transmisi gas sepulau Jawa, dari Jawa Timur melalui Pipa Transmisi Gas Gresik-Semarang (Gresem), hingga Jawa Barat sudah tersambung.
Namun sayangnya, terbangunnya infrastruktur gas bumi ini tidak diikuti dengan pasokan gas yang mencukupi kebutuhan gas di Pulau Jawa.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengakui bahwa pasokan gas yang bisa dialirkan melalui Pipa Transmisi Gas Cisem ini belum optimal.
Dia menjelaskan, saat ini Jawa masih mengalami defisit gas. Berdasarkan catatan Ditjen Migas Kementerian ESDM, terdapat defisit gas di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena berkurangnya pasokan gas dari beberapa lapangan di Wilayah Kerja (WK) Madura Strait.
Oleh karena itu, pihaknya pun tengah mengupayakan untuk bisa mendapatkan tambahan pasokan gas, di antaranya dari Lengo yang dikelola Kris Energy, Bukit Panjang yang dikelola PCK2L, dan lainnya.
"Pasokan gas ini memang semua masih mengupayakan agar pemanfaatan gas di Jawa Timur ini bisa optimal dialirkan untuk pipa Cisem I dan Cisem II ini. Tentu ini memerlukan diskusi-diskusi dan optimalisasi, sehingga nanti juga tidak bertentangan dengan meningkatnya juga kebutuhan gas di wilayah Jawa bagian Timur," jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (27/8/2026).
Berdasarkan catatan Ditjen Migas Kementerian ESDM per Juli 2026, defisit gas Jawa Tengah dan Jawa Timur rata-rata di kisaran 100-125 MMSCFD.
Tercatat, pada Januari 2026 pasokan gas "hanya" sebanyak 563,01 MMSCFD, lebih rendah dibanding kebutuhannya sebanyak 674,19 MMSCFD. Akibatnya, terdapat defisit gas sekitar 111,18 MMSCFD.
Defisit pasokan gas terbesar tercatat terjadi pada Februari 2026 dengan kekurangan mencapai 276,79 MMSCFD, di mana pasokan yang tersedia hanya sebesar 473,64 MMSCFD untuk memenuhi permintaan yang mencapai 750,43 MMSCFD.
Pada Juli 2026, defisit gas mencapai 104,16 MMSCFD, karena dari kebutuhan 753,89 MMSCFD, pasokan gas yang tersedia "hanya" 649,73 MMSCFD.
Kondisi kekurangan pasokan gas itu juga diproyeksikan akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026. Pada Desember 2026, pasokan gas diperkirakan "hanya" sebesar 634,02 MMSCFD, lebih rendah dibanding kebutuhannya sebanyak 760,63 MMSCFD. Akibatnya, defisit gas pada Desember 2026 diperkirakan mencapai 126,61 MMSCFD.
"Kalau tadi ada semacam gap kekurangannya, maka kekurangan tersebut sudah ada juga kita dapatkan informasi yang memadai, khususnya dari SKK Migas, ini bagaimana menutupi kekurangan gas yang ada di ruas pipa tersebut. Namun memang ini masih dalam bentuk potensi bagaimana nanti mengutilisasinya," imbuhnya.
"Ditjen Migas bersama SKK Migas nanti akan melakukan pengaturan-pengaturannya, tetapi bahwa kekurangan tadi bisa ditutupi dengan adanya potensi tambahan dari wilayah-wilayah yang diperlihatkan di dalam slide ini," imbuhnya.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, pemerintah telah menyiapkan strategi melalui pencarian tambahan pasokan dari sumber baru seperti Lengo yang dikelola Kris Energy, Bukit Panjang yang dikelola PCK2L, Lapangan ENC yang dikelola PT Energi Mineral Langgeng, lalu dari TIS Blora Fase 2, Pertamina EP Asset 4, Lapangan Paus Biru yang dikelola Medco Sampang, West Sidayu oleh SIPL, Lapangan MBF dan MDK oleh Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML), dan lainnya.
Dalam rencana jangka panjang periode 2027 hingga 2035, potensi tambahan pasokan gas bumi di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah diproyeksikan akan meningkat secara bertahap. Peningkatan produksi gas bumi tertinggi diproyeksikan akan terjadi pada tahun 2030 hingga 2031.
Pemerintah memetakan sejumlah lapangan potensial yang siap dikembangkan di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kontributor utama yang menjadi tulang punggung tambahan pasokan tersebut adalah lapangan Lengo-Kris Energy yang diproyeksikan menyumbang volume 84,49 MMSCFD mulai tahun 2030, serta lapangan Bukit Panjang-PCK2L yang memberikan kontribusi stabil hingga 50 MMSCFD pada periode 2032-2033.
Adapun, realisasi pemanfaatan gas bumi nasional per semester I-2026 tercatat sebesar 5.327,72 BBTUD dengan porsi penggunaan domestik mencapai 74,55%.
Secara keseluruhan, rata-rata produksi gas bumi sepanjang Januari hingga Juli 2026 berada di angka 6.544 MMSCFD, yang mana sektor industri dan kelistrikan menjadi penyerap terbesar energi bersih tersebut di dalam negeri.
Selain Pipa Cisem, pemerintah kini tengah membangun Pipa Transmisi Gas Dumai-Sei Mangkei (Dusem). Proyek pipa transmisi gas sepanjang 541 km ini ditargetkan rampung pada 2028.
Bila ini tuntas, maka artinya Indonesia sebentar lagi bakal memiliki jaringan pipa transmisi gas bumi yang terhubung dari Aceh hingga Jawa Timur.
Laode mengatakan bahwa pembangunan pipa transmisi Dusem saat ini telah mencapai sekitar 30%.
"Dan apabila pipa ini sudah terhubung, maka pipa transmisi besar mulai dari Aceh sampai dengan Jawa Timur untuk gas bumi sudah tersedia dan pola pengiriman gasnya dapat dilakukan di setiap titik pipa-pipa ini berada," katanya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, proyek pipa transmisi gas Dusem ini membutuhkan investasi sekitar Rp 2 triliun. Proyek ini terbagi ke dalaï dua segmen, antara lain:
- Segmen 1 (SKG Belawan - St.Labuhan Batu), realisasi pembangunan fisik/ konstruksi pipanya kini sudah mencapai 39,34%.
- Segmen 2 ( St.Labuhan Batu - Duri), realisasi pembangunan fisiknya sudah mencapai 36,39%.
(wia)