FOTO Internasional

Duh! Gula & Perwarna Produk Tetangga RI Ini Ketinggian, Bikin Worry

Reuters, CNBC Indonesia
Kamis, 27/08/2026 19:40 WIB

Produk makanan dan minuman di India disorot karena kandungan gula dan pewarna buatan lebih tinggi dibandingkan produk serupa di negara lain.

1/7 Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India, pada 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India. Perbedaan kandungan produk makanan dan minuman di India dan negara lain menjadi sorotan, sebagaimana dimuat foto Reuters, Kamis (27/8/2026). (REUTERS/Francis Mascarenhas)

2/7 Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India, pada 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Fanta yang dijual di London mengandung 63 kalori per kaleng, sementara produk serupa di India memiliki kandungan gula tiga kali lebih tinggi dan menggunakan pewarna buatan. Di Eropa, penggunaan pewarna tersebut mengharuskan produk mencantumkan peringatan kesehatan mencolok. Namun, di India, informasi mengenai pewarna hanya ditulis dalam huruf kecil di bagian belakang kemasan. (REUTERS/Francis Mascarenhas and Hiba Kola/Illustration)

3/7 Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India, pada 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Sorotan muncul setelah badan pengawas keamanan pangan India membatalkan rencana penerapan label peringatan berwarna di bagian depan kemasan. Sebagai gantinya, perusahaan akan diminta mencantumkan tabel hitam-putih berisi informasi kadar gula, lemak, dan garam. (REUTERS/Francis Mascarenhas and Hiba Kola/Illustration)

4/7 Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India, pada 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Keputusan tersebut kini ditinjau Mahkamah Agung (MA) India setelah mendapat petisi dari aktivis kesehatan masyarakat. Mereka menilai label interpretatif di bagian depan kemasan dapat membantu konsumen mengenali kandungan nutrisi dan membuat pilihan makanan yang lebih sehat. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

5/7 Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India, pada 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Studi terbaru yang diterbitkan jurnal Lancet memperkirakan sekitar 450 juta penduduk India berisiko mengalami obesitas atau kelebihan berat badan pada 2050. Saat ini, sekitar 20 negara telah menerapkan label interpretatif pada bagian depan kemasan. (REUTERS/Francis Mascarenhas and Hiba Kola/Illustration)

6/7 Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India, pada 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Aktivis dan influencer India, Revant Himatsingka atau Food Pharmer, turut menyoroti perbedaan tersebut. Ia mengatakan Fanta di India mengandung sekitar 10 sendok teh gula per 300 mililiter, sedangkan produk di Eropa sekitar empat sendok teh. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

7/7 Seorang anak berjalan melewati deretan botol minuman ringan di dalam sebuah supermarket di Mumbai, India, pada 19 Agustus 2026. Foto diambil menggunakan ponsel. (REUTERS/Francis Mascarenhas)

Tekanan konsumen turut mendorong perubahan. Pada 2024, Nestle mengumumkan akan menjual Cerelac tanpa tambahan gula di India setelah aktivis mengkritik penjualan produk dengan tambahan gula selama sekitar 50 tahun, sementara versi tanpa gula telah lama tersedia di pasar lain.(REUTERS/Bhawika Chhabra)