Bukan Cuma Premium, Ritel Kini Dipenuhi Stok Beras Khusus-Fortifikasi

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 20:15 WIB
Foto: Stok beras di gerai ritel modern kawasan Setiabudi mulai tersedia, Senin (1/9/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beragam jenis beras dengan karakteristik khusus kini semakin mudah ditemukan di ritel modern. Selain beras premium dan medium, konsumen dapat memilih beras long grain, beras untuk kebutuhan tertentu seperti diabetes, hingga beras fortifikasi yang diperkaya vitamin.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah menilai bertambahnya pilihan tersebut tidak serta-merta akan menggeser keberadaan beras medium maupun premium di pasar ritel modern. Menurutnya, setiap produk memiliki segmen konsumen masing-masing.

"Ya sebenarnya kalau anggota Hippindo mempunyai konsep ya, setiap market tuh punya kelas ya. Jadi ada beras yang (harus sesuai) HET (harga eceran tertinggi), ada beras yang memang mahal. Konsumen itu mempunyai daya beli masing-masing. Ya ada yang memang (mencari beras) organik misalnya," kata Budihardjo saat ditemui di Swissotel PIK Avenue, Jakarta, Rabu (26/8/2026).


Kendati demikian, Budihardjo menyebut pelaku ritel memiliki tanggung jawab untuk memastikan produk yang dijual sesuai dengan informasi dan klaim yang tercantum pada kemasan. Hal ini penting untuk menjaga perlindungan konsumen, terutama pada produk dengan karakteristik khusus seperti beras organik atau beras fortifikasi.

"Namun yang kami harapkan, sebagai sektor ritel kami kan bukan produsen, menjualnya harus sesuai. Kalau ngomongnya organik harus organik. Jadi itu adalah perlindungan konsumen. Karena pada waktu kami didatengin supplier atau pabrik, ya kami percaya dengan penawarannya. Kami mendukung pemerintah bila ada ketidakbenaran dalam kemasan atau produk itu ya harus ditindak," ujarnya.

"Namun kalau sudah benar dan memang di situ sudah harganya lebih mahal karena di dalamnya kontennya mungkin ada vitaminnya atau ada apanya, (membuat) harus dijual lebih mahal, ya kami harapkan pemerintah dapat memberikan sesuai dengan harganya. Jadi harus seperti itu," sambung dia.

Dia menilai tren beras khusus muncul karena kebutuhan pasar yang semakin beragam. Karena itu, keberadaan produk-produk tersebut tidak berarti mengurangi pilihan konsumen terhadap beras medium atau premium.

"Sebenarnya kalau menggeser juga nggak, masing-masing punya market. Ada yang orangnya diabetes, ya kayak gitu-gitu yang penting begitu ngomong less sugar ya harus less sugar gitu, nggak boleh lain sama kemasannya. Jadi semua ada marketnya," jelas Budihardjo.

Budihardjo menilai semakin beragamnya pilihan beras di ritel modern merupakan bagian dari upaya pelaku usaha menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan karakteristik konsumen. Menurutnya, perbedaan preferensi, termasuk dari konsumen warga negara asing yang tinggal di Jakarta, turut menciptakan permintaan terhadap produk pangan tertentu.

"Lebih menyesuaikan market yang ada saja gitu. Iya kan market sekarang juga terutama ini tadi kan banyak orang asing, daya beli juga di Jakarta jauh lebih tinggi. Nah orang asing kan bahkan orang Jepang ya dia maunya beras dari Jepang, ya itu harus dipenuhi oleh market kita ya," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, menurut dia, pelaku ritel pada dasarnya hanya mengikuti kebutuhan konsumen. Semakin beragam permintaan pasar, semakin beragam pula produk yang disediakan di rak-rak ritel modern.

Budihardjo juga menegaskan pentingnya memastikan informasi yang tercantum pada kemasan sesuai dengan produk yang dijual. Hal tersebut menjadi bagian dari perlindungan konsumen, terutama untuk produk yang dipasarkan dengan klaim atau karakteristik khusus.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Cek Kesehatan Gratis: Cegah Penyakit, Tekan Beban Biaya Kesehatan