Terjerat Skandal, Konsultan Big 4 Ini PHK Massal Ratusan Karyawan
Jakarta, CNBC Indonesia - Firma akuntansi raksasa KPMG Australia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 5% dari total tenaga kerjanya. Langkah efisiensi drastis ini akan berdampak pada 27 mitra dan sekitar 360 karyawan, di mana sebagian besar pemangkasan akan difokuskan pada divisi konsultasi dan layanan bisnis.
Mengutip Reuters, Senin (24/08/2026), perusahaan terpaksa mengambil keputusan berat usai terseret dalam skandal "penyalahgunaan informasi rahasia klien". Perusahaan juga memperingatkan adanya kondisi pasar yang sulit pada tahun depan, di mana "pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tetap lesu hingga setidaknya tahun 2028, yang membebani investasi klien dan memperpanjang rentang waktu pengambilan keputusan".
Dalam wawancara terbaru, CEO KPMG Australia, John Sams, mengakui kemelut yang sedang mendera perusahaannya. Sams sendiri mengambil alih kepemimpinan perusahaan Juli lalu.
"Mengenali tantangan yang diciptakan oleh kegagalan kami sendiri, dan pekerjaan yang harus terus kami lakukan untuk membangun kembali kepercayaan," ungkapnya. "Meskipun kondisi ini kemungkinan akan terus berlanjut, kami tetap fokus pada apa yang dapat kami kendalikan."
Sebagai informasi latar belakang, perusahaan ini telah berada di bawah pengawasan ketat dari pemerintah Australia dan klien-klien blue-chip sejak Maret lalu. Seorang pelapor (whistleblower) mengungkap bahwa staf KPMG telah menggunakan informasi orang dalam untuk memenangkan kontrak audit yang menguntungkan perusahaan.
Skandal memalukan ini langsung memicu perombakan kepemimpinan secara besar-besaran di KPMG. Bahkan, ini berujung pada hengkangnya mantan CEO, bos audit, ketua dewan, hingga mitra audit senior.
Secara finansial, skandal ini pun memberikan pukulan telak. Pendapatan keseluruhan KPMG Australia merosot 1% menjadi A$ 2,26 miliar atau sekitar US$ 1,6 miliar (Rp 28,32 triliun) pada tahun bisnis yang berakhir Juni 2026.
Kerugian dari hilangnya kontrak-kontrak dengan pemerintah secara langsung berkontribusi pada anjloknya pendapatan divisi konsultasi hingga hampir 17%. Buntut dari skandal dan tinjauan basis biaya perusahaan ini, rata-rata bayaran untuk mitra ekuitas juga ikut disunat turun sebesar 13% pada tahun ini.
Di tengah kondisi berdarah-darah ini, empat dari lima divisi KPMG sebenarnya masih membukukan pertumbuhan pendapatan. Divisi penasihat kesepakatan dan infrastruktur naik 3%, bisnis pajak dan hukum serta audit dan jaminan sama-sama melonjak 11%, dan divisi pasar menengah dan swasta naik 6,4%.
Untuk memperkuat kinerjanya, perusahaan menyatakan akan menyederhanakan sebagian strukturnya. Perusahaan percaya ini strategi menciptakan tim yang lebih terintegrasi dan selaras dengan layanan penasihat globalnya.
Skandal KPMG ini merupakan yang terbaru dari rentetan skandal di sektor akuntansi. Sebelumnya, skandal kebocoran pajak terjadi di PwC, pada tahun 2023 dan memicu penyelidikan parlemen.
Kondisi ini membuat pemerintah Australia mempertimbangkan untuk memecah dominasi firma akuntansi "Big Four" yang terdiri dari KPMG, Deloitte, EY, dan PwC. Keempat firma raksasa tersebut saat ini hanya diatur sebagai kemitraan sehingga kebal dari pengawasan ketat regulator perusahaan Australia, sebuah aturan yang kini berpotensi direformasi.
Sementara itu, pemerintah pada bulan Juni lalu menyatakan bahwa pihak KPMG Australia telah sepakat untuk tidak menawar pekerjaan baru apa pun dari pemerintah federal hingga 30 September. Perusahaan melakukan evaluasi mulai dari tinjauan terhadap tata kelola, budaya, etika, dan integritas firma tersebut masih terus berlangsung.