MARKET DATA

RI Harus Belajar dari Malaysia-Thailand, Cegah Petaka Otomotif Jilid 2

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
24 August 2026 14:10
Suasana GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Kamis (30/7/2026).
Foto: Gilang Faturahman/detikFoto

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah menghadapi tekanan penjualan sepanjang 2025. Namun, momentum tersebut dinilai perlu dijaga dengan kebijakan yang tepat, terutama terkait struktur pajak kendaraan yang berdampak langsung terhadap harga mobil dan daya beli masyarakat.

Pengamat otomotif senior Bebin Djuana menilai pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan istilah insentif untuk mendorong pasar. Menurutnya, struktur kebijakan pajak otomotif secara keseluruhan perlu ditinjau agar harga kendaraan di Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara tetangga.

"Jangan lagi pakai istilah insentif, sebaiknya tinjauan ulang kebijakan pajak, jika tidak kita akan hadapi jilid 2 terpuruknya industri otomotif tahun depan. Apa yang salah harus berani dikoreksi & diperbaiki," kata Bebin kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (24/8/26).

Kekhawatiran tersebut muncul ketika Indonesia masih menghadapi persoalan harga kendaraan yang relatif tinggi, sementara pasar negara tetangga mampu mempertahankan volume penjualan yang besar. Pada 2025, penjualan mobil Indonesia tercatat 803.687 unit, turun 7,2% dari 865.723 unit pada 2024. Sebaliknya, Malaysia membukukan penjualan 820.752 unit, naik 0,5% dan menjadi rekor tertinggi.

Bebin kemudian menyoroti perbedaan harga kendaraan yang menurutnya menunjukkan persoalan daya saing harga tidak bisa semata-mata dibebankan kepada konsumen.

"Contoh sudah di depan mata, Xenia di negara kita harganya berapa, berapa harga Perodua yang notabene sama dengan Xenia yang dibayar orang Malaysia. Apakah mau katakan Xenia kita lebih bagus? Atau daya beli masyarakat kita lebih baik dari mereka?" ujarnya.

Mobil Listrik Jadi Tulang Punggung?

Perbandingan Indonesia dan Malaysia menjadi menarik karena Malaysia memiliki pasar yang lebih kecil dari sisi jumlah penduduk, tetapi penjualan kendaraan barunya kini mampu menempel bahkan melampaui Indonesia. Salah satu penopangnya adalah dominasi merek nasional Perodua dan Proton. Pada 2025, kedua merek tersebut menguasai 62,3% pasar Malaysia, dengan Perodua sendiri menjual 359.904 unit atau sekitar 41,4% pasar.

Di sektor kendaraan listrik, Indonesia sebenarnya bukan tertinggal. Penjualan BEV nasional mencapai 103.931 unit pada 2025, melonjak 141% dibandingkan 43.188 unit pada 2024 dan mengambil pangsa 12,93% dari total penjualan mobil nasional. Namun, pertumbuhan tersebut banyak didorong kendaraan impor, dengan sekitar 75% penjualan EV Indonesia pada 2025 berasal dari China.

Malaysia justru mencatat 30.848 penjualan EV pada 2025, naik 109% secara tahunan. Pangsa EV sekitar 5,1% dari registrasi kendaraan baru. Sementara Thailand jauh lebih agresif yakni penjualan mobil listriknya mencapai sekitar 140.000 unit pada 2025 atau hampir seperempat pasar, ditopang skema EV3.5, pembebasan pajak dan bea masuk, serta kewajiban produksi lokal.

Perbedaannya menunjukkan persoalan Indonesia bukan hanya infrastruktur pengisian daya. Thailand membangun ekosistem EV sekaligus memaksa investasi dan produksi lokal, sedangkan Malaysia memanfaatkan kombinasi merek nasional, pembiayaan yang kondusif dan kebijakan pajak. Thailand bahkan telah menarik investasi rantai pasok EV sekitar 140 miliar baht hingga Oktober 2025 dan memiliki lebih dari 7.000 DC fast charger.

Hilal 1 Juta Unit Tak Pernah Terlihat Lagi

Di sisi Indonesia, pasar mulai pulih pada 2026. Penjualan wholesales Januari-Juli mencapai 517.742 unit, naik 18,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara Juli sendiri mencapai 81.115 unit. Artinya, persoalannya bukan semata-mata tidak ada permintaan, tetapi bagaimana kebijakan harga, pajak, pembiayaan, strategi produk, lokalisasi industri, hingga layanan purnajual bisa membuat pemulihan tersebut berkelanjutan.

"Jika industri ini mulai bisa bergulir kembali harapannya bukan hanya kembali seperti sediakala, tapi menjadi lebih baik dan lebih kuat sehingga cita-cita bisa merengkuh angka penjualan 2 juta unit. Perlu diingat industri ini menyumbang pemasukan negara," kata Bebin.

Sebelumnya, LPEM FEB UI menganalisis data penjualan mobil nasional yang dirilis Gaikindo. Pada tahun 2011-2013, penjualan selalu melampaui produksi. Namun, sejak tahun 2014 hingga saat tahun 2024, produksi melampaui penjualan. Bahkan, gap antara kelebihan produksi terhadap penjualan semakin lama semakin bertambah tiap tahunnya.

Lalu, pada tahun 2025, penjualan mobil sejak Januari 2025 hingga Januari 2026, tidak pernah melebihi angka 100.000 unit, di mana secara rata-rata, penjualan berada di sekitar 60.000-70.000 unit. Hanya di Desember 2025 yang penjualannya nyaris menyentuh 100.000 unit, tepatnya di angka 94.102 unit.

Begitu juga di tahun 2026, sejak bulan Januari hingga Juni, penjualan mobil nasional masih di bawah 100.000 unit di tiap bulannya, baik secara wholesales maupun retail sales. Penjualan tertinggi tercatat di bulan Februari dengan 81.271 unit secara wholesales dan 78.239 unit secara retail sales.

Mirisnya lagi, penjualan mobil nasional terakhir melampaui angka 1 juta unit tercatat terjadi di tahun 2023. Setelah itu, penjualan tahunan selalu di bawah 900.000 unit.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Menkeu Purbaya: Penjualan Mobil Melonjak 32,9%, Daya Beli Masih Kuat


Most Popular
Features