MARKET DATA

Airlangga Ungkap Deretan 'Mesin' yang Bakal Pacu Ekonomi RI 6%

chd,  CNBC Indonesia
24 August 2026 12:00
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Konferensi Pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Foto: Humas Ekon

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mendekati 6% hingga akhir 2026. Target tersebut dipasang setelah ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I-2026.

Airlangga mengatakan capaian tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun terakhir dan termasuk yang terbaik di antara negara-negara anggota G20.

"Semester I ini kita tumbuh 5,45%, dan ini adalah pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir, termasuk di antara negara G20. Jadi menjelang sampai akhir tahun Bapak Presiden meminta kita mendorong supaya mendekati 6% di akhir tahun. Dan tentu ini bisa menjadi tantangan dan juga harus kerja keras," kata Airlangga, dikutip Senin (24/8/2026).

Menurut Airlangga, perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan, mulai dari konflik geopolitik, ketegangan di Selat Hormuz, hingga perang dagang yang memengaruhi arus perdagangan dan investasi dunia.

Meski demikian, ia menilai kondisi fiskal Indonesia tetap berada dalam posisi yang kuat. Pendapatan negara tumbuh 21,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara belanja negara meningkat 18,2%. Di sisi lain, defisit anggaran tetap terjaga di level 0,91% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Untuk 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% dengan inflasi 2,5%, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,9%, serta nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.500 per dolar AS.

Dalam rancangan tersebut, pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp3.426 triliun, sedangkan belanja negara diproyeksikan sebesar Rp4.097,2 triliun. Dengan kebutuhan pembiayaan Rp671,2 triliun, defisit APBN diperkirakan berada di level 2,4% terhadap PDB.

Pemerintah juga menargetkan tingkat pengangguran terbuka berada pada kisaran 4,30%-4,87%, tingkat kemiskinan 6,0%-6,5%, dan rasio gini 0,362-0,367.

Airlangga menegaskan, untuk mengerek pertumbuhan ekonomi dari 5,45% menjadi mendekati 6%, diperlukan sumber pertumbuhan baru yang lebih kuat. Salah satunya melalui percepatan investasi, terutama pada proyek-proyek bernilai tambah tinggi yang memanfaatkan rantai pasok domestik.

Selain itu, peningkatan produktivitas sumber daya manusia dan penguatan ekspor bernilai tambah juga menjadi strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

"Peningkatan produktivitas SDM, investasi yang lebih tinggi dari pertumbuhan PDB, serta ekspor yang didukung efisiensi logistik menjadi kunci untuk mencapai target tersebut," ujarnya.

Enam Mesin Pertumbuhan Baru

Dalam kesempatan itu, Airlangga juga memaparkan enam mesin pertumbuhan baru yang tengah didorong pemerintah.

Pertama, hilirisasi dan upstreaming yang saat ini telah mencatat 26 proyek groundbreaking. Kedua, swasembada energi melalui implementasi biodiesel B50 yang mulai berlaku sejak 1 Juli 2026.

Ketiga, pengembangan ekosistem bullion dan bank emas yang saat ini mengelola sekitar 179 ton emas dengan nilai mencapai Rp360 triliun.

Keempat, penguatan tata kelola devisa hasil ekspor sumber daya alam melalui Danantara Sumberdaya Indonesia. Kelima, pengembangan sektor digital, semikonduktor, dan artificial intelligence (AI). Keenam, pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Di sisi sumber daya manusia, pemerintah juga terus memperluas program magang untuk lulusan pendidikan tinggi dan vokasi. Saat ini program tersebut menargetkan 150 ribu peserta dan akan ditingkatkan menjadi 250 ribu peserta.

Pemerintah juga melanjutkan perluasan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program pembiayaan ultra mikro. Khusus bagi pelaku usaha perempuan, pemerintah menurunkan bunga pembiayaan PNM Mekaar dari 18% menjadi 8% untuk pinjaman hingga Rp15 juta.

Selain itu, pemerintah terus memperluas akses pasar melalui diplomasi ekonomi. Hingga saat ini Indonesia telah memiliki 25 perjanjian dagang yang telah diratifikasi, sementara 13 perjanjian lainnya masih dalam tahap negosiasi.

Airlangga juga mengungkapkan proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terus menunjukkan kemajuan. Indonesia telah menyampaikan laporan untuk 20 dari 24 bab yang dipersyaratkan atau sekitar 75% dari keseluruhan proses.

"Kita harus bekerja bersama-sama, sehingga apa yang kita capai betul-betul bisa dinikmati oleh seluruh stakeholders. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang prudent, dan kebersamaan antara pemerintah dan dunia usaha, kita ingin menjaga ketahanan ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif," kata Airlangga.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Airlangga Ramal Ekonomi RI di Kuartal II-2026 Tumbuh di Atas 5%


Most Popular
Features