Netanyahu Kian "Liar" di Depan Trump, Nekat Serang Negara Sekutu NATO
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah munculnya tanda-tanda ketidakharmonisan yang kian membesar antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, dampak dari serangan udara militer Israel ke situs militer Suriah diyakini dapat meluas hingga memicu pergeseran geopolitik yang jauh lebih luas.
Mengutip Newsweek, Kamis (20/08/2026), situs yang diserang Israel tersebut adalah Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib. Pangkalan tersebut sejatinya baru saja menjamu delegasi militer dari Turki beberapa jam sebelumnya, yang dilaporkan tengah berupaya merehabilitasi fasilitas itu karena Ankara tengah membina hubungan dengan pemerintah baru Suriah yang sebelumnya telah sukses menggulingkan rezim diktator Bashar al-Assad dari Damaskus.
Kementerian Luar Negeri Turki secara wajar langsung mengeluarkan kecaman keras atas serangan tersebut. Saat kantor Netanyahu membenarkan serangan brutalnya tersebut dengan menuduh Suriah telah melanggar kesepakatan keamanan dengan mengizinkan pasukan Turki ditempatkan di pangkalan udara dekat Aleppo, pemerintah Turki menepis tuduhan remeh tersebut.
"Untuk melegitimasi serangan udara ilegal Israel yang menargetkan kedaulatan dan integritas teritorial Suriah," tegas pihak kementerian.
Secara mengejutkan, Washington juga turut mengikuti langkah Turki dengan mengkritik tajam operasi konyol Israel tersebut. Utusan Khusus AS Tom Barrack secara terbuka menyatakan keprihatinan yang mendalam.
"Sebuah eskalasi yang tidak perlu," paparnya.
Ini bukanlah kali pertama pemerintahan Trump tampak lebih memihak Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dibandingkan Netanyahu. Apalagi, Trump juga belum memberikan dukungan secara penuh kepada PM Israel tersebut menjelang pemilu krusial pada bulan Oktober. Perpecahan ini mungkin akan terbukti sangat konsekuensial karena keduanya kini tengah bergulat dengan berbagai tekanan domestik yang memaksa mereka menuju arah yang berlawanan.
Beda Arah Kebijakan Trump dan Netanyahu
Mantan Pejabat AS, Brian Katulis, menjelaskan bahwa Trump dan Netanyahu saat ini sama-sama berada dalam posisi politik yang lemah di dalam negeri. Trump harus menghadapi tingkat persetujuan pemilih terendahnya dan publik yang lelah dengan rasa sakit ekonomi akibat perangnya di Iran. Hal ini berbanding terbalik dengan Netanyahu, yang reputasinya masih rusak parah akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
"Tujuan utama kebijakan dan politik Netanyahu berpusat pada penunjukan bahwa ia dapat melindungi warga Israel sekali lagi, oleh karena itu ia terus melakukan kampanye militer agresif di berbagai lini yang menarik bagi anggota koalisi sayap kanannya yang ekstrem," tutur Katulis.
"Trump, sebaliknya, menghadapi publik Amerika yang lelah perang dan merasakan penderitaan ekonomi, sehingga Trump mencari deeskalasi, arah yang berlawanan dengan arah Netanyahu," imbuhnya.
Di sisi lain, Trump telah mengkreditkan Erdogan karena perannya dalam menggulingkan rezim Assad di Suriah, dan terus mendukung langkah Ankara untuk merangkul pemerintah baru Damaskus pimpinan Presiden Ahmad al-Sharaa. Kerjasama AS yang mulai berkembang dengan Sharaa ini justru terus ditentang oleh pihak Netanyahu.
Tidak hanya di Suriah, Trump juga mengabaikan protes keras dari Netanyahu saat ia menyatakan akan mencabut pembatasan penjualan jet tempur siluman F-35 ke Turki, yang sebelumnya diberlakukan akibat pembelian sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia.
Munculnya Koalisi Saingan
Di tengah ketegangan ini, berbagai pemain regional kini tampaknya mulai mempercepat upaya untuk menjajaki jaringan pencegahan baru akibat adanya pertanyaan besar mengenai sejauh mana komitmen keamanan AS saat ini. Perkembangan yang paling menonjol adalah ditandatanganinya perjanjian pertahanan timbal balik antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan yang kemudian dijuluki sebagai "Pakta Mekkah".
Formalisasi ketiga kekuatan Muslim Sunni tersebut terjadi tepat ketika Iran menggerakkan kekuatan koalisi Poros Perlawanan Muslim Syiah dalam perang yang sedang berlangsung. Di saat yang sama, Israel juga kian agresif memperluas heksagon aliansi yang beragam, termasuk dengan Uni Emirat Arab (UEA), India, Yunani, dan Siprus.
Mantan perwira intelijen Turki, Ali Burak Daricili, menilai bergabungnya Turki dalam Pakta Mekkah adalah langkah strategis untuk merespons langkah Israel.
"Penyelarasan strategis yang lebih erat antara Türkiye, Arab Saudi, dan Pakistan dapat membantu menyeimbangkan tindakan regional Israel yang semakin tidak terkendali," ucap Daricili.
"Blok strategis Sunni semacam itu dapat membatasi kemampuan Iran untuk membangun kembali pengaruhnya di Timur Tengah," tambahnya.
Namun, ia juga memperingatkan bahwa persaingan Erdogan-Netanyahu dapat terbukti menjadi sangat genting, karena Turki dan Israel sendiri juga sudah terlibat dalam persaingan yang serius di berbagai wilayah konflik lainnya, mulai dari Suriah hingga Sudan dan Somalia.
Sementara itu, Trump justru secara vokal memuji terbentuknya Pakta Mekkah tersebut.
"Bagaimana Timur Tengah bersatu dan bagaimana negara-negara akhirnya dapat membela diri dengan cara yang lebih bermakna," puji Trump.
Daricili menilai bahwa manuver konyol Trump ini justru menunjukkan bahwa AS sedang berupaya membangun tatanan regional baru dan lepas tangan di Timur Tengah demi beralih fokus secara besar-besaran untuk menghadapi ancaman China di Asia-Pasifik.
Namun, krisis berlarut-larut yang tak kunjung usai di Timur Tengah tampaknya telah membuat rencana tersebut kembali berantakan akibat terkurasnya amunisi senjata dan tertahannya kapal induk AS di kawasan tersebut.
Membatasi Agresi Israel
Dengan adanya potensi bentrokan langsung antara Israel dan Turki akibat berbagai manuver dan provokasi serangan ini, AS dipastikan akan berupaya keras untuk mencegah skenario terburuk tersebut. Di mata Wakil Rektor Universitas Tel Aviv, Eyal Zisser, kepemimpinan agresif Netanyahu di Israel saat ini tampaknya jauh lebih rentan terhadap eskalasi konflik berdarah di Timur Tengah.
"Pemerintah ini percaya bahwa hal terbaik yang harus dilakukan adalah selalu memukul tetanggamu," kata Zisser.
Selain itu, sentimen permusuhan terhadap Erdogan juga tampak semakin memuncak di kalangan elit politik Israel. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Konsul Jenderal Israel Ofir Akunis bahkan secara terang-terangan meremehkan pemimpin Turki tersebut dengan sebutan ekstrem dan gila akibat dukungannya terhadap armada aktivis yang berupaya mematahkan blokade Gaza.
Namun, Zisser meyakini bahwa bentrokan langsung yang nyata antara Israel dan Turki kemungkinan besar belum akan terjadi dalam waktu dekat. Ia meyakini pengaruh AS atas Israel yang bagaikan negara pengikut masih cukup kuat untuk meredam eskalasi liar, dan pada akhirnya Netanyahu tetap mengetahui batasan dari agresi militernya sendiri.
(tps/luc)