MARKET DATA
Internasional

Warga Ramai-Ramai Buang Yen Jepang, Lari ke Mata Uang Ini

tps,  CNBC Indonesia
19 August 2026 17:45
FOTO FILE: Hologram, yang menampilkan gambar dan warna berbeda tergantung sudut pandang, terlihat pada uang kertas baru 10.000 yen Jepang saat uang kertas baru tersebut dipajang di museum mata uang Bank Jepang, pada hari uang kertas baru 10.000 yen,
Foto: REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan mata uang franc Swiss kini menjadi konsekuensi tak terduga dari langkanya manuver intervensi gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Jepang untuk menopang yen. Situasi mengejutkan ini justru membawa angin segar bagi berbagai perusahaan dan pembuat kebijakan di Swiss yang selama bertahun-tahun telah berjuang keras menghadapi dominasi kekuatan mata uang lokal mereka.

Mengutip Channel News Asia, Rabu (19/8/2026), nilai tukar franc sebenarnya masih 12% lebih kuat terhadap euro jika dibandingkan dengan lima tahun lalu, meskipun baru-baru ini mulai mengalami sedikit pelemahan. Kekuatan yang terus menekan pertumbuhan ekonomi dan membuat ekspor negara tersebut lebih mahal ini didorong oleh rentetan surplus transaksi berjalan Swiss yang gigih, keuangan publik yang sehat, inflasi yang sangat rendah, serta derasnya aliran dana safe-haven.

Di pasar global, baik yen maupun franc sangat dipengaruhi oleh manuver carry trade valuta asing (valas). Mata uang ini akan melemah ketika para investor meminjamnya akibat tawaran suku bunga yang rendah, di mana dana tersebut kemudian akan langsung dijual kembali untuk membeli aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi di tempat lain, dengan sasaran utamanya sering kali adalah pasar negara berkembang.

Yen sejatinya telah lama menjadi mata uang pendanaan pilihan utama di pasar. Namun, mata uang ini diperkirakan akan tetap bergejolak dan gelisah karena para pedagang kini sangat waspada terhadap risiko intervensi lanjutan, yang secara langsung memicu dimulainya rotasi modal ke franc Swiss.

Manajer Portofolio Senior Neuberger Berman, Fredrik Repton, menyoroti dinamika pergeseran selera para investor tersebut. Menurutnya, kinerja franc yang baik telah memicu para investor untuk memburu mata uang Negeri Alpen itu.

"Pelaku pasar akan memikirkan tentang merotasi beberapa posisi pendanaan mereka. Jika Anda melihat kinerja euro-Swiss, itu mungkin lebih instruktif tentang bagaimana lingkungan pasar telah terbentuk," paparnya.

Saat ini, franc berada di kisaran 0,9385 yang mendekati level terlemahnya dalam kurun waktu sekitar satu tahun terhadap euro. Angka tersebut turun sekitar 4% dari level tertinggi 11 tahun di bulan Maret yang berada di dekat 0,9, serta anjlok hampir 7% dari level tertinggi 11 tahun terhadap dolar AS pada Januari lalu.

Sejalan dengan proyeksi tersebut, bank asal Belanda, Rabobank, pada pekan lalu juga telah merevisi naik target 9 hingga 12 bulan untuk pasangan euro/franc Swiss menjadi 0,95 dari sebelumnya 0,94. Langkah taktis ini mencerminkan ekspektasi kuat bahwa franc akan terus melemah ke depannya.

Kepala Pasar Global ING, Chris Turner, membeberkan bahwa intervensi di Jepang baru-baru ini telah mendorong pelepasan posisi jual yen secara masif. Hal tersebut sukses mendongkrak jumlah posisi yang beredar menjadi jauh lebih dekat dengan posisi franc.

"Dibutuhkan banyak hal untuk beralih dari yen sebagai mata uang pendanaan, tetapi ada banyak hal di luar sana yang dapat menghilangkan kebiasaan orang-orang tersebut," ungkapnya.

Faktor lain yang membuat investor berpikir dua kali untuk bertaruh melawan yen mencakup ekspektasi kenaikan suku bunga Jepang dan spekulasi bahwa Dana Investasi Pensiun Pemerintah (GPIF) raksasa milik Jepang dapat mengalihkan alokasi menuju investasi domestik.

Kepala Strategi FX G10 Global BofA, Adarsh Sinha, menjelaskan daya tarik franc sebagai alternatif carry trade yang paling logis untuk menggantikan mata uang Jepang. Suku bunga Swiss saat ini diketahui ditahan di angka 0%, jauh di bawah level suku bunga Jepang yang kini dipatok sebesar 1%.

"Suku bunga Swiss tidak hanya lebih rendah dari yen Jepang, tetapi volatilitas franc juga lebih rendah," ucapnya.

Setiap pelemahan franc akibat pergeseran penggunaannya untuk mendanai carry trade dipastikan akan disambut dengan sangat baik oleh Bank Nasional Swiss (SNB). Otoritas moneter tersebut bahkan sebelumnya telah menyatakan dengan tegas bahwa mereka siap untuk campur tangan jika diperlukan demi melemahkan mata uangnya.

Terkait keselarasan kepentingan antarnegara dalam pergeseran tren pasar valas ini, Turner kembali memberikan kesimpulan bahwa sebenarnya situasi ini telah diinginkan oleh baik publik Jepang dan Swiss.

"Orang Jepang menginginkan yen yang lebih kuat, orang Swiss menginginkan franc yang lebih lemah, jadi itu masuk akal," pungkasnya.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dolar Kembali Tembus Rp18.000, Purbaya: Tanya ke Bank Sentral Lah


Most Popular
Features