Freeport Kembangkan Tambang Baru, Investasinya Bisa Capai Rp72 Triliun

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 18/08/2026 18:35 WIB
Foto: Area tambang terbuka Grasberg dan tambang bawah tanah Deep Mill Level Zone (DMLZ), PT Freeport Indonesia (PTFI). (PT Freeport Indonesia

Mimika, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) tengah mengembangkan blok tambang bawah tanah baru, yakni Kucing Liar. Pengembangan tambang baru tersebut diproyeksikan membutuhkan investasi total hingga Rp 72 triliun.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan bahwa proses pengerjaan proyek untuk area tambang baru tersebut terus berjalan. Hal itu juga sejalan dengan target operasional jangka panjang perusahaan.

Tony menegaskan bahwa investasi besar untuk Blok Kucing Liar merupakan bagian dari program keberlanjutan bagi Tanah Air.


"Pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar yang akan menjadi salah satu sumber produksi utama perusahaan di masa depan terus berjalan. Investasi tambang bawah tanah ini telah menghabiskan Rp 25 triliun dan secara keseluruhan nantinya akan mencapai Rp 72 triliun," jelasnya dalam acara Upacara HUT ke-81 RI, di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (17/8/2026).

Proyek tambang Blok Kucing Liar ditargetkan mulai memasuki fase produksi pada tahun 2029 mendatang dengan proyeksi produksi mencapai 130.000 ton bijih per hari. Tambang tersebut dirancang untuk menyokong total kapasitas produksi perusahaan agar tetap bisa mencapai target pada level 240.000 ton bijih per hari.

"Tambang ini diproyeksikan akan menghasilkan lebih dari 7 miliar pound tembaga dan 6 juta ounces emas sepanjang masa operasinya. Investasi ini menunjukkan bahwa di tengah masa pemulihan, Freeport Indonesia tetap melangkah maju," tambahnya.

Kehadiran blok Kucing Liar dinilai penting untuk mengimbangi proyeksi penurunan produksi alamiah pada tambang Grasberg Block Cave (GBC) di masa mendatang.

Bila perusahaan juga mendapatkan kepastian perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) setelah 2041, perusahaan juga berencana melakukan eksplorasi lebih jauh untuk menemukan potensi cadangan baru selain blok yang ada saat ini.

"Ini akan betul-betul mendukung karena GBC juga nanti akan depleted ya akan menurun jadi kita bisa continue stabil produksinya di level 240 ribu ton bijih per hari," tandasnya.

Seperti diketahui, dalam laporan Semester I-2026 Freeport-McMoRan (FCX), hingga 30 Juni 2026, setidaknya PTFI telah menggelontorkan investasi sekitar US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 24,9 triliun untuk pengembangan proyek tambang Kucing Liar tersebut.

PTFI sendiri sudah mulai mengembangkan tambang bawah tanah baru yang berlokasi di kawasan Grasberg, Papua Tengah tersebut mulai 2022. Mulanya, tambang itu ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2028, namun mundur ke tahun 2029 lantaran adanya kejadian longsoran material basah di tambang Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 lalu.

"Sejak tahun 2022, PTFI telah melaksanakan kegiatan pengembangan tambang jangka panjang di deposit Kucing Liar yang terletak di kawasan mineral Grasberg," tulis laporan kinerja Semester I-2026 Freeport-McMoRan (FCX) beberapa waktu lalu.

Menurut laporan FCX tersebut, produksi dari tambang Kucing Liar sendiri ditargetkan mulai meningkat bertahap (ramp-up) sekitar tahun 2030 hingga mencapai kapasitas desain sekitar 130.000 metrik ton bijih per hari.

Pada saat beroperasi penuh, Kucing Liar diperkirakan mampu memproduksi rata-rata 750 juta pon tembaga dan sekitar 735.000 ons emas per tahun. Hal itu dinilai sebagai salah satu strategi perusahaan untuk menjaga keberlanjutan produksi di kawasan Grasberg.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 22 Kg Emas