MARKET DATA
CNBC Insight

NTT Pernah Diguncang Gempa M7,8-Tsunami 25 Meter, 2.500 Orang Tewas

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
15 August 2026 14:15
Warga dievakuasi dari bangunan Hotel Jayakarta yang runtuh akibat gempa bermagnitudo 7,7 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Sabtu (15/8/2026). (REUTERS/Stringer)
Foto: Warga dievakuasi dari bangunan Hotel Jayakarta yang runtuh akibat gempa bermagnitudo 7,7 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Sabtu (15/8/2026). (REUTERS/Stringer)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa bumi berkekuatan magnitudo M7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Gempa tersebut memicu tsunami di sejumlah wilayah pesisir NTT.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan gempa dahsyat semacam ini di wilayah NTT terakhir kali terjadi sekitar 30 tahun lalu.

"Gempa ini terjadi akibat sesar naik busur utara Flores, gempa berkekuatan M7,7 ada potensi gempa maksimal M7,8-7,9. Pernah terjadi gempa sebesar ini tahun 1992, dengan magnitudo M7,5," kata Wijayanto dalam konferensi pers BMKG via Zoom, Sabtu (15/8/2026).

Yang dimaksud Wijayanto adalah Gempa Flores yang terjadi pada 12 Desember 1992. Kala itu, gempa besar mengguncang wilayah Flores dan kemudian memicu tsunami yang menerjang pesisir utara pulau tersebut.

Pusat gempa berada di lepas pantai Flores, sekitar 35 kilometer sebelah utara Maumere. Guncangan sangat kuat membuat ratusan bangunan di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, runtuh. Sejumlah kampung pesisir bahkan ikut tenggelam akibat daratan yang ambles.

Beberapa menit kemudian, bencana berubah menjadi lebih dahsyat ketika air laut mulai naik dan gelombang tinggi menerjang pesisir. Air laut meluluhlantakkan kawasan pesisir utara Flores hingga sejauh 75-300 meter dari garis pantai.

Daya rusak tsunami semakin besar ketika gelombang masuk ke teluk-teluk yang menyempit. Teluk Maumere dan Teluk Hading di wilayah Larantuka menjadi dua kawasan yang mengalami kerusakan parah. Harian Kompas (23 Desember 1992) melaporkan tiga kampung pesisir di Kabupaten Flores Timur bahkan lenyap disapu gelombang.

Kondisi serupa terjadi di Pulau Babi, yang berada di utara Teluk Maumere. Permukiman warga Buton di pulau tersebut berubah menjadi puing setelah diterjang gempa dan tsunami.

Kesaksian penyintas menggambarkan betapa cepatnya bencana tersebut datang. Bali Post (21 Mei 1993) mencatat gempa dan tsunami datang tanpa peringatan, menyapu hampir seluruh benda yang dilewatinya. Rumah dan berbagai barang hanyut terbawa air, sementara pohon kelapa menjadi salah satu yang masih berdiri.

Tsunami tersebut tercatat mencapai ketinggian hingga sekitar 25 meter di sejumlah titik. Korban jiwa pun sangat besar.

Mengutip situs BNPB, bencana ini menewaskan lebih dari 2.500 orang. Sekitar 500 orang dinyatakan hilang dan 447 lainnya mengalami luka-luka, sementara sekitar 5.000 orang harus mengungsi.

Wilayah terdampak tsunami membentang di pesisir utara Kabupaten Ngada, Ende, Sikka, hingga Flores Timur. Kerusakan infrastruktur juga sangat luas. Diperkirakan sekitar 18.000 rumah, 113 sekolah, dan 90 tempat ibadah hancur akibat bencana tersebut.

Gempa Flores 1992 akhirnya menjadi salah satu bencana gempa dan tsunami paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Lebih dari tiga dekade kemudian, gempa besar kembali mengguncang NTT dan mengingatkan masyarakat pada sejarah panjang ancaman gempa serta tsunami di Flores.

(mfa/mfa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 2.000 Warga Evakuasi Usai Gempa M 7,7 NTT, Pemerintah Pusat Meluncur


Most Popular
Features