Vale Punya 3 Megaproyek Smelter Rp155 Triliun, Ini Kabar Terbarunya

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Kamis, 13/08/2026 19:05 WIB
Foto: VALE (REUTERS/Adriano Machado)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bersiap memasuki fase baru pengembangan bisnis hilirisasi nikel. Dalam waktu dekat, perusahaan menargetkan mulai mengoperasikan tiga megaproyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai sekitar US$ 8,7 miliar atau sekitar Rp 155 triliun (asumsi kurs Rp17.860/US$).

Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Budiawansyah memerinci ketiga proyek tersebut yakni proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Bahodopi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, proyek HPAL Pomalaa di Sulawesi Tenggara, serta pengembangan Limonit Sorowako di Sulawesi Selatan.

Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) yang dikembangkan untuk memenuhi komitmen perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), sekaligus mengoptimalkan nilai tambah sumber daya mineral nasional.


Berikut kabar terbaru dari ketiga proyek smelter Vale tersebut:

1. IGP Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah

Menurut dia, salah satu perkembangan penting telah tecapai pada proyek HPAL di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. Adapun, pemasangan dan peresmian autoclave menjadi salah satu milestone penting dalam pembangunan fasilitas HPAL tersebut.

Proyek yang dikembangkan bersama GEM dan EcoPro ini untuk memasok bahan baku industri baterai. Nilai investasinya mencapai US$ 2 miliar (sekitar Rp 35,8 triliun).

"Kalau mau ngomong soal Vale, itu jadi satu, saya sudah bilangin tadi itu adalah proyek PSN yang di Sulawesi Tengah ya. Yang di Sulawesi Tengah itu smelter yang BNSI ya. Seperti yang kawan-kawan lihat beberapa waktu yang lalu sudah ada milestone penting, itu adalah peletakan peresmian itu autoclave," kata Budi saat ditemui di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Nantinya, PT Vale akan memasok bahan baku berupa bijih limonit (bijih nikel kadar rendah) dari tambang Blok Bahodopi untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. Budi menyebut pengembangan kawasan tersebut diarahkan menjadi bagian dari ekosistem industri hijau.

"Karena kenapa green industry? Juga itu akan dilengkapi dengan fasilitas recycling oleh tenant-tenant lain, sehingga ini menjadi anchor industri," katanya.

Berikut rincian proyek:

- Tambang telah mulai beroperasi sejak kuartal I 2025.

Produksi tambang mencapai 5,5 juta WMT saprolit (bijih nikel kadar tinggi). Sementara pasokan bijih nikel untuk smelter dibutuhkan sebesar 10,4 juta WMT limonit per tahun. Adapun, konstruksi tambang fase pertama telah mencapai 99%. Proyek ini menyerap sekitar 1.979 tenaga kerja operasional.

- Pabrik HPAL berkapasitas 66 ribu ton MHP per tahun.

Progres pembangunan HPAL mencapai 22%. Target operasi pabrik pada 2026-2027. Diperkirakan menyerap 1.600 tenaga kerja operasional.

Di kawasan industri Sambalagi, pembangunan fasilitas pendukung juga terus berjalan, meliputi:

- Pabrik HPAL.

- Sulfuric Acid Plant dan Waste Heat Recovery Steam Boiler (WHRSB).

- Camp pekerja berkapasitas 700-800 kamar.

- Fasilitas pembibitan berkapasitas 3.000 bibit.

- Empat kolam pengendapan yang telah selesai dibangun.

- Pelabuhan khusus dengan 5 jetty yang telah beroperasi.

2. IGP Pomalaa, Sulawesi Tenggara

Sementara itu, proyek kedua yang tengah dikebut adalah HPAL Pomalaa di kawasan industri PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), Sulawesi Tenggara. Proyek ini dikembangkan bersama Ford Motor Company dan Huayou. Adapun, nilai investasinya mencapai US$ 4,5 miliar (sekitar Rp 80,5 triliun).

Budi menilai proyek Pomalaa saat ini menjadi proyek Vale yang paling maju. Proyek tersebut terintegrasi dengan tambang Vale dengan teknologi HPAL yang dikembangkan bersama Huayou.

"Nah, yang lebih advance lagi itu siap untuk diinikan itu adalah konstruksinya sudah advance, itu adalah proyek HPAL Pomalaa. Jadi Pomalaa ini di kawasan KNI ya," kata dia.

Berikut rincian proyek:

- Tambang nikel saprolit dan limonit. Adapun, produksi tambang mencapai 7 juta WMT saprolit dan 21 juta WMT limonit per tahun. Setidaknya, progres konstruksi tambang sekitar 60%. Target operasi tambang dimulai 2026 dan menyerap sekitar 2.133 tenaga kerja operasional.

- Sementara itu, untuk kapasitas pabrik HPAL berkapasitas 120 ribu ton nikel per tahun dalam bentuk MHP. Adapun, untuk progres pembangunan pabrik HPAL saat ini telah mencapai 50% dan ditargetkan beroperasi pada 2026 serta diperkirakan menyerap 3.017 pekerja operasional.

Untuk mendukung proyek tersebut, Vale juga membangun berbagai fasilitas penunjang seperti:

- Pelabuhan khusus berkapasitas 9 jetty.

- Feed Preparation Plant (FPP).

- Pabrik HPAL.

- Camp pekerja berkapasitas 120 kamar.

- Kolam pengendapan, dimana tujuh kolam telah selesai dibangun.

- Fasilitas pembibitan untuk reklamasi dengan kapasitas 3.500 bibit.

3. IGP Sorowako Limonite, Sulawesi Selatan

Proyek ketiga adalah fasilitas pengolahan bijih nikel limonit berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dengan target produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik.

Proyek ini dikembangkan bersama Huayou sebagai perluasan hilirisasi di kawasan operasi utama Vale. Adapun, nilai investasinya mencapai US$ 2,2 miliar (sekitar Rp39,4 triliun).

Saat ini, konstruksi proyek tersebut terus berjalan. Pembangunan pipa dan fasilitas Feed Preparation Plant (FPP) masih berlangsung, sementara persiapan lahan di kawasan industrinya juga mulai dilakukan.

"Nah, ini memang berdasarkan tenggat waktu yang ada juga di dalam UPK kita akan deliver dalam beberapa sekuensial tahun ini, tahun ini lebih advance Pomalaa dulu akan beroperasi, habis itu diikuti oleh di Bahodopi itu akhir tahun ini di Q4. Habis itu diikuti oleh Sorowako, pengembangan Sorowako Limonit," katanya.

Dia memperkirakan proyek Sorowako Limonit dapat masuk tahap operasi pada 2027-2028.

Rincian proyek:

- Produksi tambang mencapai 11,5 juta WMT limonit per tahun. Progres konstruksi tambang sekitar 37%. Menyerap sekitar 400 tenaga kerja operasional.

- Pabrik HPAL berkapasitas 60 ribu ton MHP per tahun. Progres pembangunan HPAL sekitar 17%. Target operasi 2027. Diperkirakan menyerap 1.600 tenaga kerja operasional.

Pembangunan proyek mencakup:

- Feed Preparation Plant.

- Pabrikasi tiga unit autoclave di China yang dijadwalkan tiba di lokasi pada pertengahan 2026.

- Camp pekerja berkapasitas 58 kamar.

- Stockpile limonit berkapasitas 7,4 juta ton dari rencana total 8,4 juta ton.

- Ekspansi workshop alat berat dan kantor tambang.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tata Kelola Masih Jadi Tantangan, Ini Kata Penambang Bauksit