Ekonom Ungkap 'Harta Karun' Ekspor RI Selain Nikel-CPO-Batu Bara

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 13/08/2026 18:10 WIB
Foto: Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro. (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dinilai memiliki peluang besar mencetak mesin ekspor baru di luar komoditas andalan seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan nikel. Komoditas perkebunan seperti kopi, pala, cokelat, hingga kelapa disebut berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekspor sekaligus mendongkrak ekonomi nasional.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia. Selain itu, permintaan terhadap komoditas cokelat dan kelapa juga terus meningkat, terutama dari negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan Bangladesh.

Menurutnya, komoditas tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan ekspor baru dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan yang pada kuartal II-2026 hanya tumbuh 2,6% secara tahunan (year-on-year/yoy).


"Sektor ini harus mendapat perhatian serius. Kalau pertumbuhan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan bisa didorong lebih tinggi, ditambah dengan sektor manufaktur, Indonesia bisa tumbuh secara berkelanjutan di atas 5,5%, bahkan menembus 6%," kata Asmoro kepada CNBC Indonesia, Kamis (13/8/2026).

Ia menilai penguatan ekspor komoditas nontradisional menjadi semakin penting di tengah upaya Indonesia membalikkan kondisi neraca perdagangan yang dalam dua bulan terakhir mengalami defisit.

Momentum tersebut dinilai semakin terbuka seiring meredanya harga minyak mentah dunia. Berdasarkan data Refinitiv per Kamis (13/8/2026) pukul 09.55 WIB, harga minyak Brent berada di level US$87,95 per barel, turun dari kisaran US$90-100 per barel yang terjadi pada akhir kuartal I dan kuartal II tahun ini.

Andry memperkirakan harga minyak akan bergerak pada level keseimbangan di kisaran US$70-80 per barel. Jika kondisi tersebut bertahan, tekanan impor energi Indonesia berpotensi berkurang.

"Kalau itu bisa dipertahankan, mestinya beban impor kita menjadi relatif lebih ringan ke depan," ujarnya.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memanfaatkan momentum penurunan harga minyak untuk mengakselerasi pertumbuhan ekspor.

"Sekarang tinggal bagaimana menjaga supaya ekspor kita terus tumbuh di tengah peluang yang sebenarnya cukup besar," kata Andry.

Sebagai informasi, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan selama dua bulan beruntun. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Juni 2026 defisit sebesar US$450 juta, setelah pada Mei 2026 mengalami defisit yang lebih besar yakni US$1,61 miliar.

Kondisi tersebut turut memperlebar defisit net ekspor dalam komponen pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2026 menjadi minus 0,78%, dibandingkan minus 0,02% pada periode yang sama tahun lalu.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Negara-Negara Panen Cuan Kala Harga Kopi Makin Harum