Danantara Mulai Investasi di Semikonduktor, Ini Pembelinya

Khoirul Anam, CNBC Indonesia
Kamis, 13/08/2026 17:37 WIB
Foto: Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa menyampaikan pemaparan dalam Mindialogue dengan tema “Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI” di Jakarta, Rabu (12/8/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai berinvestasi ke industri semikonductor. Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa menjelaskan bahkan Danantara mencatat antusiasme permintaan kerja sama.

"Kita investasi cukup besar, ada satu platform yang cukup bagus, semiconductor 94% platform semiconductor itu menggunakan mitra yang kita pilih. Yang 6% adalah open source," ungkap dia dalam MINDialogue 2026 "Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI", Kamis (13/8/2026).

Dia menjelaskan Indonesia memiliki mineral kritis yang dibutuhkan dunia. Menurut dia tren dunia saat ini membutuhkan logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements sebagai komoditas yang eksklusif dan mahal.


LTJ merupakan kelompok 17 unsur kimia yang menjadi bahan baku krusial dan tak tergantikan dalam komponen cip semikonduktor modern, perangkat elektronik, kendaraan listrik, serta teknologi pertahanan.

"Jadi off-taker-nya menurut saya tidak hanya dipakai untuk global, domestik, tapi global juga siap, apalagi teman-teman yang berada di pasal 33, pasal 33 mineral ini teman-teman yang ada di ruangan ini, saya kira ini potensi global yang luar biasa sekali," ungkap dia.

Sigit menegaskan bahwa pengelolaan LTJE di Indonesia akan dilakukan secara langsung oleh PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Menurut dia, saat ini pihaknya tengah membangun Perminas sebagai perusahaan yang akan mengelola LTJ sekaligus mendorong pengembangan industri turunannya, termasuk industri magnet permanen.

"Kami di Danantara juga bangun Perminas yang akan mengelola dan akan industri magnet nanti ada motor traksi sampai motor mobil," ujar Sigit.

Di sisi lain, Sigit menjabarkan tantangan utama hilirisasi mineral adalah teknologi. Selama ini mitra yang masuk pun tidak fokus pada transfer teknologi, melainkan hanya mau mengambil bahkan baku.

"Oleh karena itu, proses teknologi masih menjadi tantangan pertama, namun sebenarnya, teknologi ini gap-nya tidak lagi untuk sebagian mineral, namun yang paling jauh gap-nya adalah pada mineral yang berbasis untuk semikonduktor. Juga untuk beberapa mineral khusus, berarti mineral memang agak jauh, karena memang hanya negara tertinggi yang bisa menangani," rinci Sigit.

Untuk mengatasi hal tersebut, Danantara mengambil langkah kemitraan strategis dengan perguruan tinggi demi membangun pusat riset dan pengembangan.

Langkah ini juga didukung Presiden Prabowo, yang telah mengumpulkan 2.600 rektor dan dekan untuk ditawarkan 31 sampai 40 industrialisasi dari Danantara. Menurutnya hal ini dilakukan agar perguruan tinggi mencari kekuatan masing-masing untuk bisa diajak berkolaborasi.


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Jurus Penguatan Mineral, Mendorong Hilirsasi & Peningkatan Nilai Tamba