CNBC Insight

Gempa Terkuat Dunia di RI: Bangunan Hancur Dalam 41 Detik, 1.117 Tewas

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Rabu, 12/08/2026 12:25 WIB
Foto: Keruskaan saat gempa melanda Padang Pariaman di Provinsi Sumatera Barat tahun 2009. (Dok. usgs.gov)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu dengan lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa berkekuatan Mw7,4 mengguncang Kolombia pada Senin (10/8/2026). Gempa tersebut mengakibatkan ribuan bangunan hancur dan menewaskan sedikitnya 250 orang.

Badan terkait mengungkap gempa tersebut disebabkan oleh deformasi internal atau patahan di dalam Lempeng Nazca yang sedang menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan. Dalam bahasa teknis, peristiwa ini dikenal sebagai gempa intraslab, yakni gempa yang terjadi di dalam tubuh lempeng yang sedang menunjam, tapi bukan pada bidang pertemuan dua lempeng atau zona megathrust.

Menurut Daryono dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Indonesia juga pernah mengalami gempa dengan proses yang serupa, yakni Gempa Padang-Pariaman berkekuatan Mw7,6 yang terjadi pada 30 September 2009.


"Tampaknya Gempa Padang-Pariaman 2009 masih menjadi gempa intra-slab yang terkuat di dunia, dengan korban jiwa meninggal 1.117 orang dan 2.180 orang terluka," ungkap Daryono, dalam keterangan yang diperoleh CNBC Indonesia, dikutip Rabu (12/8/2026).

Sejarah mencatat, Gempa Padang-Pariaman terjadi pada 30 September 2009 pukul 17.16 WIB. Berdasarkan catatan BPBD Kota Padang, gempa berkekuatan Mw7,6 tersebut mengguncang wilayah Sumatra Barat dengan episentrum sekitar 50 kilometer barat laut Kota Padang dan hiposenter sekitar 71 kilometer.

Hanya dalam waktu 41 detik, sebagian besar wilayah Sumatra Barat merasakan guncangan hebat. Bangunan yang tidak mampu menahan guncangan pun langsung ambruk. Kondisi ini disaksikan langsung oleh salah satu korban bernama Anuar.

Kepada Yayasan Tzu Chi, Anuar bercerita banyak bangunan runtuh saat gempa, termasuk tempat bimbingan belajar yang didatangi anaknya, Adit. Saat tiba di lokasi, ia melihat bangunan tersebut sudah porak-poranda. Lantai dasarnya telah runtuh, sementara lantai dua dan tiga turun ke bawah dalam kondisi tak berbentuk.

Ketika tim evakuasi tiba, orang tua para siswa bersama warga menemukan Adit masih dalam kondisi sadar. Namun, kakinya tertimpa bagian bangunan yang runtuh hingga akhirnya harus diamputasi.

Lantas, Mengapa Guncangannya Bisa Sangat Kuat?

Menurut Daryono, salah satu faktor yang memengaruhi proses terjadinya gempa tersebut adalah gaya tarik lempeng ke bawah atau slab pull, serta tekanan akibat tekukan lempeng atau bending stress. Perubahan kondisi di dalam lempeng yang menunjam, termasuk proses dehidrasi mineral, dapat memicu patahan dan pelepasan energi dalam jumlah besar.

Pada Gempa Padang-Pariaman, patahan terjadi di dalam Lempeng Samudra Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Sumber gempa berada pada kedalaman menengah, sekitar 80 hingga 90 kilometer.

Meski berada cukup dalam, karakteristik batuan pada lempeng samudra yang padat dan kaku membuat gelombang seismik dapat merambat dengan kuat. Akibatnya, guncangan yang sampai ke permukaan dapat terasa sangat menghentak dan menghasilkan percepatan tanah yang tinggi.

"Dari kacamata seismologi, batuan lempeng samudra yang padat, homogen dan kaku berfungsi sebagai penghantar gelombang seismik yang sangat efisien, membuat gelombang berfrekuensi tinggi merambat ke permukaan tanpa mengalami peredaman (attenuation) yang berarti," kata Daryono. 

Dampaknya kemudian diperparah oleh kondisi wilayah. Kota Padang, misalnya, berada di atas endapan aluvial yang relatif lunak sehingga dapat mengalami efek amplifikasi atau penguatan guncangan.

Selain itu, gempa juga memicu tanah longsor di kawasan perbukitan Pariaman. Kombinasi kekuatan gempa, karakteristik gelombang, kondisi tanah, dan kerentanan bangunan membuat dampaknya menjadi sangat besar, sekalipun tidak memicu tsunami dan bukan tergolong megathrust.

Tak hanya itu, Daryono menambahkan, bencana gempa Sumatra Barat pada 2009 diperburuk oleh rangkaian kejadian gempa besar. Pada 30 September 2009 terjadi gempa besar di sekitar Pariaman dengan magnitudo sekitar Mw7,6 (BMKG mencatat M7,9), pada kedalaman sekitar 70-80 km.

Sehari kemudian, 1 Oktober 2009 pukul 08.52 WIB, terjadi gempa sekitar M6,6 di sekitar Sungai Penuh pada kedalaman dangkal.

"Kedua kejadian tersebut terjadi dalam selang waktu kurang dari 24 jam, tetapi memiliki sumber tektonik yang berbeda," kata Daryono.

"Kedua gempa itu bukan sekadar "dua gempa di lokasi relatif berdekatan". Secara tektonik sumbernya berbeda. Gempa Pariaman terjadi pada kedalaman menengah di lingkungan subduksi, sedangkan gempa Sungai Penuh merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan sistem Sesar Sumatra," jelasnya.

Akibatnya, menurut data BPBD, 1.117 orang tewas dan 2.180 orang terluka. Lalu ribuan bangunan, jalan, dan fasilitas lain luluh lantak dalam waktu kurang dari 1 menit. 

Keruskaan saat gempa melanda Padang Pariaman di Provinsi Sumatera Barat tahun 2009. (Dok. usgs.gov) Foto: Keruskaan saat gempa melanda Padang Pariaman di Provinsi Sumatera Barat tahun 2009. (Dok. usgs.gov)

(mfa/mfa)
Saksikan video di bawah ini:

Gempa Guncang Kolombia M 7,4 - Tak Ada Pajak Rumah Kontrakan di 2027