RI Kalah Lawan Thailand, Vietnam-Singapura, Wamendag Kasih Pesan Tegas
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkap posisi Indonesia dalam persaingan ekspor makanan dan minuman (mamin) atau food and beverages (F&B) olahan di kawasan ASEAN. Meski masuk jajaran negara dengan ekspor mamin terbesar di kawasan, Indonesia masih menghadapi kesenjangan dengan sejumlah negara pesaing, terutama Thailand.
Berdasarkan data Outlook Ekspor Mamin Global, total nilai ekspor komoditas makanan dan minuman Indonesia pada 2025 mencapai US$49,52 miliar. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai eksportir makanan dan minuman terbesar kedua di antara negara-negara yang dibandingkan setelah China, dengan pangsa ekspor sekitar 23%.
Namun, jika melihat ekspor makanan olahan, posisi Indonesia masih berada di peringkat keempat ASEAN.
Roro mengatakan, nilai ekspor makanan olahan Indonesia pada 2025 tercatat sebesar US$6,25 miliar. Angka tersebut masih jauh di bawah Thailand yang mencapai US$17,69 miliar.
Sementara itu, Vietnam mencatat ekspor makanan olahan sebesar US$8,89 miliar dan Singapura US$6,5 miliar.
"Kita harus sering melihat gitu ya, bagaimana negara-negara tetangga kita juga mengedepankan sektor F&B, dengan niat untuk kemudian belajar juga, dan dengan niat untuk mencari tahu apa saja ataupun langkah-langkah apa saja yang perlu kita tempuh untuk bisa semakin maju," kata Roro dalam acara Indonesia F&B Trade Promotion Forum di Auditorium Kemendag, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Dengan demikian, nilai ekspor makanan olahan Indonesia masih terpaut sekitar US$11,44 miliar dari Thailand. Nilai ekspor makanan olahan Thailand bahkan hampir tiga kali lipat dibandingkan Indonesia.
Roro menilai posisi Indonesia yang masih berada di peringkat keempat ASEAN, menunjukkan masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan daya saing industri mamin nasional.
"Nah kalau ibarat mereka bisa, kenapa Indonesia tidak bisa. Ada hal-hal tentunya yang perlu kita persiapkan bersama dan semangat kolaborasi dan gotong royong itulah yang dibutuhkan," ujarnya.
Ekspor RI Masih Ditopang Sawit hingga Kakao
Adapun data Outlook Ekspor Mamin Global yang dihimpun Kementerian Perindustrian, menunjukkan struktur ekspor produk mamin Indonesia masih banyak ditopang sejumlah komoditas utama. Sebagai catatan, data ini mencakup semua komoditas pangan termasuk produk olahan di dalamnya.
Dari lima produk mamin dengan nilai ekspor terbesar Indonesia pada 2025, minyak sawit menjadi yang paling besar dengan nilai mencapai US$34,4 miliar. Setelah itu terdapat produk perikanan sebesar US$4,2 miliar, kakao US$3,6 miliar, kopi, teh dan rempah US$3,4 miliar, serta olahan pangan sebesar US$2 miliar.
Jika dibandingkan dengan Thailand, struktur produk ekspornya terlihat berbeda. Lima produk mamin terbesar Thailand terdiri dari olahan daging dan ikan sebesar US$7,1 miliar, pakan ternak US$3,5 miliar, olahan pangan US$3,5 miliar, gula US$3,1 miliar, serta buah dan sayuran US$3 miliar.
Sementara itu, Malaysia juga mencatat ekspor mamin sebesar US$34,02 miliar, Vietnam US$27,91 miliar, dan Singapura US$11,72 miliar pada 2025.
Roro mengatakan, sektor F&B merupakan sektor strategis yang tidak hanya menopang pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga berperan dalam memperkuat daya saing dan citra produk Indonesia di pasar global.
"Kami menyadari bahwa F&B ini adalah sektor yang cukup strategis, yang tidak hanya menjadi pilar penting dalam penopang pertumbuhan ekonomi nasional kita secara keseluruhan, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam memperkuat daya saing dan citra produk Indonesia di pasar global," tutur dia.
Menurutnya, Indonesia perlu melihat capaian negara-negara tetangga sebagai pembanding untuk mengetahui langkah yang harus dilakukan agar produk F&B nasional semakin kompetitif di pasar internasional.
Roro menekankan peningkatan kualitas menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi pelaku usaha mamin Indonesia yang ingin memperluas pasar ekspor. Pasalnya, setiap negara memiliki standar produk yang harus dipenuhi.
"Kalau kita berbicara mengenai konotasinya ekspor, yaitu adalah bagaimana kita bisa memperkuat kualitas dari produk F&B yang dapat kita tawarkan, untuk bisa penetrasi ke pasar internasional. Karena setiap negara kita tahu punya standarnya masing-masing, ada sebagian negara yang mungkin cukup rumit gitu ya standar-standar yang perlu kita penuhi, tapi saya yakin dengan kegigihan dan semangat Bapak-Ibu sekalian kita bisa merealisasikannya bersama," ucap Roro.
Ia menilai, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengembangkan industri mamin. Selain basis industri dan komoditas yang kuat, Indonesia juga memiliki pasar domestik yang besar.
Namun, potensi pasar dalam negeri tersebut perlu diikuti dengan kemampuan produk lokal untuk naik kelas dan bersaing di pasar global.
"Jadi pasar dalam negeri ini penting sekali. Tapi di sisi lain juga bagaimana quality produk ini juga semakin mendunia," katanya.
Dia pun menegaskan posisi Indonesia yang masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN bukan alasan untuk berhenti mengejar ketertinggalan.
"Nah kalau ibarat mereka bisa, kenapa Indonesia tidak bisa," tegas Roro.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri dalam acara Indonesia F&B Trade Promotion Forum di Auditorium Kemendag, Jakarta, Selasa (11/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri dalam acara Indonesia F&B Trade Promotion Forum di Auditorium Kemendag, Jakarta, Selasa (11/8/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) |
