CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Ada 'Bensin' Baru, Singapura Naikkan Proyeksi Ekonomi 2026

sef,  CNBC Indonesia
11 August 2026 11:48
Warga yang memakai masker wajah melewati cakrawala kota selama wabah penyakit coronavirus (COVID-19), di Singapura. (REUTERS/EDGAR SU)
Foto: Singapura (REUTERS/EDGAR SU)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Singapura menaikkan tajam proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 setelah kinerja ekonomi pada paruh pertama tahun ini melampaui ekspektasi. Perkembangan sektor terkait kecerdasan buatan (AI) dan ekspor menjadi salah satu pendorong utama.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) kini memperkirakan ekonomi negara tersebut tumbuh 4,5%-5,5% pada 2026, naik signifikan dari proyeksi sebelumnya sebesar 2%-4%. Proyeksi terbaru tersebut menjadi revisi kenaikan kedua yang dilakukan Singapura sepanjang tahun ini.



Sebelumnya, pada awal 2026, MTI masih memperkirakan ekonomi hanya tumbuh 1%-3%. MTI mengatakan peningkatan proyeksi mencerminkan kinerja ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan selama paruh pertama 2026, terutama didorong oleh sektor-sektor yang berkaitan dengan AI serta ekspor.

Ekonomi Singapura juga menunjukkan performa yang lebih kuat pada kuartal II-2026. Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 5,9% secara tahunan, direvisi naik dari estimasi awal sebesar 5,7%.

Pertumbuhan pada periode tersebut terutama ditopang oleh tiga sektor. Meliputi sektor manufaktur, perdagangan grosir, serta keuangan dan asuransi.

Dampak Perang AS-Iran Lebih Ringan

MTI juga menilai dampak konflik Amerika Serikat (AS)-Iran terhadap perekonomian Singapura sejauh ini lebih ringan dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan harga energi global dinilai masih dapat diredam karena negara-negara menggunakan cadangan minyak yang tersedia dan beralih ke sumber energi alternatif.

Kondisi tersebut membantu membatasi tekanan terhadap biaya energi Singapura yang sangat bergantung pada perdagangan dan impor. Meski demikian, tekanan inflasi masih menjadi perhatian.

Bank Sentral Singapura, Monetary Authority of Singapore (MAS), secara mengejutkan memperketat kebijakan moneternya pada akhir Juli. MAS sebelumnya memperingatkan bahwa biaya impor Singapura berpotensi meningkat dalam beberapa kuartal mendatang akibat kenaikan harga bahan bakar dan input elektronik.

Kondisi cuaca yang tidak menguntungkan di negara-negara pemasok juga dapat meningkatkan tekanan terhadap harga impor.

Inflasi inti Singapura, yang tidak memasukkan biaya akomodasi dan transportasi, naik menjadi 1,6% pada Juni, dari 1,4% pada Mei. Sementara inflasi utama berada di level 1,9%.

Angka tersebut masih berada di dekat batas bawah kisaran proyeksi inflasi inti MAS sebesar 1,5%-2,5% untuk tahun ini.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, pemerintah Singapura kini memiliki ruang lebih besar untuk menghadapi tekanan inflasi sekaligus menjaga momentum ekonomi hingga akhir 2026.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Singapura Kini Pasang Kuda-Kuda, Kebijakan Moneter Diperketat


Most Popular
Features