Terbongkar! Ini Biang Kerok Rusak Rem Bus, Bikin Kecelakaan-Bawa Maut
Jakarta, CNBC Indonesia - Rentetan kecelakaan bus yang terjadi belakangan kembali menyoroti persoalan keselamatan transportasi darat di Indonesia, hingga yang terbaru pada Bus ALS di Sumatra Selatan hingga Chaya Trans di Jawa Tengah. Di tengah tingginya mobilitas masyarakat menggunakan bus, pertanyaan mengenai seberapa siap industri memastikan kendaraan yang beroperasi benar-benar memenuhi standar keselamatan pun kembali mencuat.
Keselamatan bus tidak hanya ditentukan oleh kondisi mesin atau sasis. Proses pembangunan bodi, pemasangan bodi di atas sasis, sistem kelistrikan, distribusi beban hingga pemeriksaan kendaraan sebelum diserahkan kepada pelanggan menjadi rangkaian yang turut menentukan kelayakan sebuah kendaraan.
"Pada dasarnya sasis yang tangguh itu baru setengah jadi, baru berupa sasis. Kalau sasis ini tidak dilengkapi dengan bodi yang baik, pemasangan bodi yang baik, maka risikonya cukup lumayan banyak, baik dari sisi keselamatan dan juga dari sisi keandalan unit itu sendiri," ujar Body Maker Department Head HMSI Heri Komala di Tangerang beberapa waktu lalu.
Persoalan keselamatan bus menjadi lebih kompleks karena kendaraan yang beroperasi di jalan merupakan hasil integrasi antara sasis dan bodi. Dalam proses pembangunan bodi, terdapat sejumlah aspek teknis yang harus diperhatikan. Mulai dari desain dan distribusi beban, proses pengelasan, pemasangan U-bolt atau bracket mounting, hingga instalasi kelistrikan.
Proses pemasangan bodi menjadi salah satu bagian paling krusial dalam program standardisasinya. Kesalahan dalam proses tersebut berpotensi memengaruhi komponen kendaraan. Salah satu contoh adalah proses pengelasan pada sasis. Percikan las (welding spatter) yang mengenai komponen tertentu dapat menimbulkan masalah pada sistem kendaraan.
"Ketika mengelas, satu titik saja jatuh ke selang angin, maka itu bisa mengganggu sistem pengereman kendaraan," ujar Dodi.
Selain standardisasi proses pembangunan bodi, industri juga mendorong digitalisasi Pre-Delivery Inspection atau PDI. Sebelumnya, pemeriksaan kendaraan dilakukan menggunakan check sheet berbasis kertas. Kini digunakan aplikasi agar pemeriksaan dilakukan dengan format yang lebih seragam dan datanya tersimpan secara digital.
Digitalisasi tersebut muncul setelah perusahaan menemukan adanya perbedaan cara pemeriksaan di berbagai karoseri. Melalui digitalisasi, proses pemeriksaan kendaraan dilakukan menggunakan standar dan metode yang sama.
"Mulai dari sistem, mulai dari check sheet-nya sampai dengan pengecekannya berbeda-beda," ujar Heri Komala, Body Maker Department Head HMSI.
Kecelakaan maut di Gerbang Tol Ciawi 2. (Dok. Istimewa via Detikcom) Foto: Kecelakaan maut di Gerbang Tol Ciawi 2. (Dok. Istimewa via Detikcom) |
