MARKET DATA

Mobil Listrik China Murah Makin Marak, LCGC Masih Punya Masa Depan?

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
10 August 2026 12:00
Pengunjung melihat Wuling Aira Ev dalam ajang Pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang, Sabtu (1/8/2026). (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)
Foto: Pengunjung melihat Wuling Aira Ev dalam ajang Pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang, Sabtu (1/8/2026). (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

Tangerang, CNBC Indonesia - Pasar mobil murah di Indonesia mulai menghadapi tantangan baru. Setelah bertahun-tahun didominasi kendaraan Low Cost Green Car (LCGC), kini konsumen mendapat semakin banyak pilihan dari merek-merek China yang menawarkan mobil dengan harga kompetitif, fitur lebih lengkap, hingga teknologi kendaraan listrik.

Namun, kondisi pasar tersebut belum serta-merta membuat LCGC kehilangan peminat. Segmen ini masih memiliki basis konsumen yang cukup besar, terutama masyarakat yang sedang membeli mobil untuk pertama kalinya.

"LCGC itu target market-nya adalah first time buyer. First time buyer itu masih banyak," ujar Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy saat ditemui di Tangerang, dikutip Senin (10/8/2026)

Selain harga kendaraan, kemampuan konsumen dalam mendapatkan pembiayaan juga menjadi faktor penting. Honda melihat skema kredit yang lebih ringan dapat membantu menjaga permintaan LCGC di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih penuh tantangan.

"Jadi, kita memberikan nilai lebih ke konsumen untuk bisa memiliki kendaraan secara mudah, secara ringan, seperti kita kerja sama dengan lembaga pembiayaan, itu salah satunya strategi kami supaya LCGC bisa tetap eksis di sini, di Indonesia," kata Billy.

Di sisi lain, Daihatsu melihat pelemahan pasar LCGC tidak terjadi secara merata. Marketing & Customer Relations Division Head PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Rokky Irvayandi mengatakan penjualan salah satu model LCGC mereka, Sigra, relatif tidak banyak berubah dibandingkan tahun sebelumnya.

"Sebenarnya LCGC bukannya kurang bagus ya. Jadi kalau kita lihat ya, kita bagi dua deh. Memang ada agak terkoreksi tapi kalau contoh Sigra di LCGC MPV kurang lebih sih mirip-mirip aja ya dibandingkan dengan tahun lalu gitu. Kami juga jualan kira-kira 2.700 sampai 3.000 unit per bulan. Ya kira-kira di situ," ujar Rokky.

Tekanan lebih terasa pada LCGC jenis hatchback yang memiliki ukuran lebih kecil. Daihatsu Ayla menjadi salah satu model yang mengalami koreksi penjualan, meski penurunannya disebut belum terlalu besar.

"Koreksi ya memang ada gitu di LCGC hatchback yang lebih kecil. Itu memang agak ada penurunan gitu. Meskipun kalau dilihat lagi Daihatsu-nya gimana? Terkoreksi tapi enggak terlalu besar juga. Dari yang biasanya 1.000 jadi 800 gitu. Ayla-nya gitu ya," katanya.

Rokky menilai kondisi daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor yang menekan permintaan kendaraan di segmen bawah. Ketika kemampuan membeli masyarakat melemah, pembelian mobil pertama ikut terdampak.

"Dan memang kan kalau kita ngomong LCGC, LCGC itu kan banyak dipengaruhi sama yang pertama daya beli. Ya kita tahu kondisi sekarang seperti apa ya cukup challenging gitu. Daya beli juga terpengaruh," ujar dia.

Persoalan tidak berhenti pada kemampuan konsumen membayar cicilan. Perusahaan pembiayaan kini juga cenderung lebih selektif dalam menyetujui pengajuan kredit, terutama untuk konsumen di segmen bawah.

"Yang kedua, dengan kondisi seperti sekarang ini maka lembaga-lembaga financing cenderung kan untuk lebih selektif dalam memberikan approval kredit. Ini khusus yang untuk Ayla ini, karena kan di segmen bawah ya. Ada di segmen bawah pastinya akan lebih selektif gitu untuk memilih mana customer-customer yang dalam tanda kutip berkualitas gitu," katanya.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga RI Kini Pilih Beli Mobil Murah, Penjualan LCGC Naik 14%


Most Popular
Features