MARKET DATA
Internasional

Awas Perang Arab! Houthi Rudal Kilang Minyak Saudi, Picu Kebakaran

tps,  CNBC Indonesia
10 August 2026 05:30
Sebuah kebakaran hebat terjadi di depot minyak Jeddah beberapa hari menjelang balapan Formula One (F1) di kota Saudi. (AP/Hassan Ammar)
Foto: Sebuah kebakaran hebat terjadi di depot minyak Jeddah beberapa hari menjelang balapan Formula One (F1) di kota Saudi. (AP/Hassan Ammar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi asal Yaman yang bersekutu dengan Teheran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah kilang minyak di Arab Saudi. Serangan pada Minggu dini hari tersebut menargetkan kilang Aramco di Jazan, barat daya Arab Saudi.

Mengutip The Guardian, Minggu (09/08/2026), fasilitas yang diserang tersebut diketahui memproses 400.000 barel minyak mentah per harinya. Juru bicara militer kelompok pemberontak Houthi, Yahya Saree, mengonfirmasi penggunaan pesawat nirawak dalam serangan tersebut melalui sebuah unggahan di platform X.

"Kami menggunakan pesawat nirawak untuk menargetkan kilang di barat daya Arab Saudi," ungkapnya.

Dalam sebuah pernyataan terpisah, Yahya memaparkan bahwa kelompoknya juga telah melakukan serangan rudal dan pesawat nirawak ke kota pelabuhan Mocha di Laut Merah Yaman. Kota pelabuhan tersebut saat ini dikendalikan oleh badan pengatur yang diakui secara internasional dan didukung oleh pihak Arab Saudi di Aden.

Di sisi lain, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa api sempat berkobar di kilang Jazan pada Minggu dini hari namun berhasil dipadamkan tanpa adanya korban jiwa. Pihak Riyadh saat ini dilaporkan sedang menangani insiden kebakaran di kilang Jazan tersebut. Namun, pihak kementerian sama sekali tidak memberikan keterangan mengenai penyebab pasti terjadinya kebakaran.

Houthi sendiri berulang kali menyerang fasilitas Saudi. Kelompok pro-Iran itu sebelumnya juga pernah menyerang situs Aramco di Jazan, serta menghantam Yanbu yang merupakan pusat ekspor minyak di Laut Merah.

Bulan lalu, kelompok pemberontak ini bahkan telah mendeklarasikan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi di wilayah Laut Merah. Deklarasi blokade tersebut diumumkan dengan alasan adanya pengepungan oleh pihak Arab Saudi terhadap wilayah kelompok mereka. Namun, tuduhan pengepungan sepihak tersebut langsung dibantah dengan keras oleh pihak Riyadh.

Di sisi lain, insiden serangan kilang ini terjadi tepat dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan. Pakta tersebut dibuat sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya ketidakstabilan regional yang disebabkan oleh perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Serangan mematikan ini juga meletus setelah Iran menyatakan bahwa tuntutan baru yang berat harus dipenuhi sebelum mereka membuka kembali Selat Hormuz. Selain itu, Uni Emirat Arab juga melaporkan bahwa salah satu kapalnya telah ditargetkan oleh rudal Iran saat kesepakatan pembukaan jalur perairan masih belum tercapai.

Dewan keamanan nasional tertinggi Iran menegaskan bahwa selat penting tersebut tidak akan dibuka sampai pihak AS memperbaiki perilakunya. Tuntutan ini disampaikan langsung melalui sebuah pernyataan tertulis dari sekretaris dewan, Mohammad Bagher Zolghadr, yang merupakan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

"AS juga harus mengakhiri blokade angkatan laut di pelabuhan Iran, menarik militernya, memberikan kompensasi penuh atas kerusakan, mencabut sanksi, dan melepaskan aset yang dibekukan tanpa syarat," tegasnya.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Saudi Sukses Cegat Rudal dari Yaman yang Sasar Kilang Minyak


Most Popular
Features