Selat Hormuz Memanas, Kapal Minyak UEA Diserang Saat Melintas
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) menyatakan bahwa salah satu kapalnya menjadi sasaran serangan rudal saat melintasi Selat Hormuz pada dini hari Sabtu (8/8/2026). Merespons klaim tersebut, militer Iran menegaskan bahwa jalur air vital tersebut hanya akan dibuka kembali jika AS menerima syarat-syarat yang diajukan Iran.
"Insiden tersebut tidak menimbulkan korban luka, dan situasi telah berhasil dikendalikan," demikian pernyataan ADNOC, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (9/8/2025).
Uni Emirat Arab-yang beribu kota di Abu Dhabi-menyatakan dalam sebuah unggahan di platform X bahwa pihaknya "mengecam keras tindakan penargetan terhadap kapal tanker yang berafiliasi dengan ADNOC saat melintasi Selat Hormuz."
Kemampuan Teheran untuk menutup selat tersebut secara efektif-yang sebelumnya merupakan jalur air internasional terbuka dan bebas biaya sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari-telah memicu guncangan pasokan energi global yang mendorong kenaikan harga bahan bakar, memperparah inflasi, serta menimbulkan kekhawatiran mengenai cadangan minyak.
Harga minyak sempat naik pada hari Jumat saat para investor menantikan kesepakatan-yang sempat diisyaratkan oleh pemerintahan Trump awal pekan ini-untuk membuka kembali selat tersebut bagi kebebasan navigasi.
"Pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada mekanisme dan persyaratan khusus Republik Islam Iran dan tidak ada kaitannya dengan negosiasi antara Iran dan Oman," ujar Sardar Mohbi, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, dalam sebuah pernyataan di Telegram.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz dengan jaminan kebebasan lalu lintas dapat tercapai paling cepat pada hari Rabu. Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga telah mengisyaratkan bahwa kesepakatan tersebut akan segera terwujud.
Namun, kesepakatan itu hingga kini belum diumumkan. Sementara itu, menurut perusahaan intelijen perdagangan Kpler, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun 33% pada hari Jumat dibandingkan hari sebelumnya, dengan sebagian besar kapal menggunakan rute Iran.
Menurut laporan media, Iran dan Oman sedang mengupayakan kesepakatan untuk menetapkan rute transit melalui selat tersebut. Lalu lintas kapal yang masuk akan melintasi perairan Iran, sedangkan lalu lintas yang keluar akan melewati perairan Oman.
Namun, pada hari Kamis lalu, media pemerintah Iran menerbitkan rancangan rencana yang akan membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz. Menurut kantor berita pemerintah Fars, rencana tersebut sedang ditinjau oleh parlemen Iran.
Berdasarkan rancangan rencana itu, Iran akan melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi selat tersebut. Menurut rancangan itu pula, negara-negara lain yang telah merugikan Iran tidak akan diizinkan melintas sampai kompensasi dibayarkan.
(haa/haa)