Bos Ritel Benarkan Warga RI Kini Marak Belanja Pakai Paylater

Martya Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 06/08/2026 19:05 WIB
Foto: Ketua Umum HIPPINDO, Budihardjo Iduansjah saat menghadiri Opening Ceremony BINA Indonesia Great Sale di Pusat Perbelajaan Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah, menilai tren penggunaan layanan belanja sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) di masyarakat masih tergolong wajar.

Menurutnya, skema tersebut tidak jauh berbeda dengan fasilitas cicilan kartu kredit yang selama ini menjadi salah satu pendorong penjualan ritel.

Pernyataan itu disampaikan Budihardjo menanggapi temuan Mandiri Spending Index, yang menunjukkan masyarakat semakin banyak berbelanja menggunakan pinjaman, termasuk paylater.


"Nah, di Hippindo ini kan ada kartu kredit. Kalau lagi ada promo 0%, ya itu ramai penjualan kami. Itu adalah hal yang dalam menurut kami marketing juga ya. Jadi (konsumen) beli barang elektronik tuh jarang yang mau cash langsung. Nah, kami bekerja sama dengan kartu kredit. Jadi sebenarnya paylater tuh mirip itulah," kata Budihardjo saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

"Kalau memang ada produk baru, bahkan kalau ada satu produk yang bisa di-0%-kan, kita akan promosiin juga. Jadi menurut kami ini hal yang normal kalau untuk paylater ya. Yang nggak normal tuh kalau judol (judi online). Kalau paylater mah normal itu ya," sambungnya.

Senada, Sekretaris Jenderal Hippindo Haryanto Pratantara menilai skema cicilan, termasuk paylater, justru membantu meningkatkan konsumsi masyarakat karena memberikan fleksibilitas dalam berbelanja.

"Malah itu membantu meningkatkan konsumsi kan, karena orang bisa belanja dengan cicilan, atau dengan skala yang lebih kecil ketimbang langsung bayar di muka gitu kan," kata Haryanto menambahkan.

Meski demikian, Budihardjo mengaku belum mencermati kondisi tabungan masyarakat yang belakangan disebut mengalami penurunan. Ia berharap pemerintah segera menggulirkan stimulus untuk mendorong daya beli.

"Nah, itu saya belum cek ya kalau tabungan. Memang saat ini kita harapkan stimulus segera diturunkan agar daya beli naik, ya itu kita harapkan segera," ucap Budihardjo.

Sebelumnya, laporan Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri menunjukkan indeks pinjaman atau Mandiri Spending Index pada Juni 2026, yang mencakup pinjaman online (P2P lending), kartu kredit, dan paylater perusahaan pembiayaan non-bank, mencapai 157,7 atau tumbuh 24,6% secara tahunan (year on year/yoy).

"Hal ini menunjukkan belanja masih tumbuh positif meskipun tingkat tabungan melemah. Bersamaan dengan itu penggunaan pembiayaan meningkat," tulis laporan tersebut.

Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia, total outstanding pinjaman online, kartu kredit, dan paylater non-bank mencapai Rp160,7 triliun pada Mei 2026. Rinciannya, outstanding pinjaman online sebesar Rp103,7 triliun atau sekitar 65% dari total pembiayaan tersebut, kartu kredit Rp43,8 triliun (27%), dan paylater Rp13,2 triliun (8%).

Meski porsinya masih paling kecil, paylater menjadi jenis pembiayaan dengan pertumbuhan paling tinggi, yakni 53,6% yoy, disusul pinjaman online 25,7% yoy, serta kartu kredit 15,6% yoy.

Laporan tersebut juga mencatat porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif meningkat menjadi 86% pada April 2026, naik dari 78% pada April 2025 dan 68% pada April 2024. Sebaliknya, porsi pinjaman untuk kegiatan produktif turun menjadi hanya 14%.

"Pergeseran ini menunjukkan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, sementara permintaan pembiayaan untuk aktivitas usaha menjadi lebih terbatas."

Di sisi lain, Mandiri Saving Index pada Juni 2026 berada di level 84,8, atau terkontraksi 5,7% yoy, mencerminkan melemahnya tingkat tabungan masyarakat.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Pajak Toko Online Ditunda, Purbaya Singgung Ekonomi Belum Lari Kencang