Bos BGN Minta MBG Jangan Dibawa Pulang-Dihabiskan di Sekolah, Kenapa?

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 06/08/2026 17:35 WIB
Foto: Sudaryono saat dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Gizi Nasional (BGN) meminta para siswa tidak membawa pulang makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Imbauan itu disampaikan menyusul sejumlah kasus keracunan yang diduga terjadi karena makanan dikonsumsi beberapa jam setelah dibagikan.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, hasil investigasi sementara menunjukkan sebagian kasus keracunan terjadi karena makanan MBG tidak langsung dimakan di sekolah. Ada siswa yang membawa pulang makanan tersebut, lalu mengonsumsinya beberapa jam kemudian, saat kondisinya sudah tidak layak.

"Beberapa laporan yang kami terima, dan kami sudah konfirmasi serta validasi lagi, ada anak yang membawa pulang MBG-nya," kata Sudaryono saat ditemui usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).


"Jadi dia harusnya kan disantap misalnya jam 11 (siang), itu harus dimakan, tapi dia bawa pulang, dimakan jam 3 atau jam 4. Jadi sudah rusak. Kemudian, yang keracunan bukan hanya anaknya, tapi juga bapak-ibunya, atau saudaranya yang ikut makan," sambungnya.

Sudaryono menuturkan, makanan MBG tidak menggunakan bahan pengawet sehingga harus segera dikonsumsi sesuai standar keamanan pangan. Karena itu, BGN akan memperketat prosedur distribusi, agar makanan tidak dikonsumsi melewati batas waktu yang ditetapkan.

"Ini tentu saja menjadi catatan. Intinya tidak boleh ada lagi (yang keracunan), termasuk kami ingin memastikan semua pengiriman itu kapan matang sampai dengan dikonsumsi itu sesuai standar, tidak boleh lebih dari 4 jam. Kalau nggak salah, itu ada best before atau kalau di makanan itu kan ada 'sebaiknya dikonsumsi sebelum'," jelas dia.

Selain memperketat standar operasional, BGN juga akan memperkuat edukasi kepada siswa dan guru di sekolah. Guru diharapkan ikut mendampingi siswa saat menyantap MBG sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya menghabiskan makanan di sekolah.

"Kami ingin dari sisi edukasinya diperkuat, bagaimana guru yang mengajar di kelas itu kan juga mendapatkan MBG.. guru itu kemudian ikut makan bareng dengan siswanya, untuk fungsi edukasi. Mengedukasi, 'barang ini jangan kamu bawa pulang'," kata Sudaryono.

"Maksud saya, ini penting untuk tidak dibawa pulang, (karena) MBG ini kan nggak ada pengawetnya, jadi sudah pasti cepat (rusak atau basi) kalau memang nggak sesuai. Apalagi daerahnya panas, ini ada suhu dan lain-lain. Itu kan memicu ada perkembangbiakan bakteri," lanjutnya.

Ia menegaskan, BGN terus berupaya memastikan tidak ada lagi kasus keracunan dalam pelaksanaan program MBG, baik melalui perbaikan standar operasional dapur, maupun peningkatan edukasi kepada seluruh pihak yang terlibat.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bos BGN Sudaryono Copot 137 Kepala Dapur MBG