Sudaryono Copot Pengelola Dapur MBG di Jayapura Usai Keracunan Massal

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 06/08/2026 15:42 WIB
Foto: Sudaryono saat dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap hasil investigasi sementara terkait kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jayapura, Papua. Temuan awal menunjukkan makanan dimasak terlalu cepat, sehingga kualitasnya menurun saat dikonsumsi.

Kepala BGN Sudaryono menegaskan, pihaknya langsung mengambil tindakan tegas dengan mensuspend pengelola dapur yang terlibat. Langkah itu dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

"Iya, kita juga lagi cek, aku sudah kirim WhatsApp ke sana untuk investigasi. Sejauh ini, investigasi sementara mereka masaknya kecepetan ya. Ini kita berpacu melawan waktu bagaimana caranya ya, intinya memastikan tidak boleh ada keracunan lagi, tidak boleh lagi. (Menurut) saya ini fatal, ya sudah langsung kami suspend, kami copot pengelolanya," kata Sudaryono saat ditemui usai Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).


Meski dapur tersebut dihentikan sementara operasionalnya, Sudaryono memastikan para siswa tetap memperoleh manfaat program MBG. Pasokan makanan dialihkan ke dapur lain yang berada di sekitar lokasi.

"Kalau dapur (yang menyebabkan) keracunan di-suspend, itu bukan berarti libur (dapat MBG) sekolahnya, nggak dikasih makan. Tetap diberikan manfaat MBG, yang kemudian disuplai oleh dapur-dapur terdekat," jelasnya.

Hasil Investigasi Sementara

Sudaryono mengungkapkan hasil penelusuran sementara menunjukkan makanan telah dimasak sejak pukul 19.00 pada hari sebelumnya. Padahal, makanan baru dikonsumsi sekitar pukul 11.00 keesokan harinya.

"Nah kami cek kemarin di Papua, berdasarkan sistem yang kita punya dan pengakuan setelah kronologisnya ditanya itu adalah sama, yaitu mereka memulai masaknya kecepetan, jam 7 malam di hari sebelumnya sudah mulai masak, (kemudian) diberikan di jam 11 (siang pada hari berikutnya), sehingga dibawa sudah dalam kondisi rusak," beber dia.

Selain itu, BGN juga menemukan adanya siswa yang membawa pulang makanan MBG untuk dikonsumsi beberapa jam kemudian. Akibatnya, makanan diduga sudah tidak layak konsumsi dan turut menyebabkan anggota keluarga ikut mengalami keracunan.

"Ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Jadi dia harusnya kan disantap misalnya jam 11 (siang), itu harus dimakan, tapi dia dibawa pulang, dimakan jam 3 (atau) jam 4. Jadi sudah rusak, (kemudian) yang keracunan bukan hanya anaknya, tapi juga bapak-ibunya, atau saudaranya yang ikut makan," ungkap Sudaryono.

Karena itu, BGN akan memperketat standar operasional pengolahan dan distribusi makanan. Salah satunya memastikan jeda waktu sejak makanan matang hingga dikonsumsi tidak melebihi batas yang ditentukan.

"Intinya tidak boleh ada lagi ya, termasuk kami ingin memastikan semua pengiriman itu kapan matang sampai dengan dikonsumsi sesuai standar, tidak boleh lebih dari 4 jam, sehingga ada best before atau kalau di makanan itu kan ada 'sebaiknya dikonsumsi sebelum..'," ujarnya.

Selain memperketat SOP, BGN juga akan memperkuat edukasi di sekolah agar makanan MBG langsung dikonsumsi dan tidak dibawa pulang.

"Kami ingin dari sisi edukasinya diperkuat, bagaimana guru yang mengajar di kelas itu kan juga mendapatkan MBG. (Guru) itu juga memberikan edukasi, barang ini jangan kamu bawa pulang, atau maksud saya.. ini penting untuk tidak dibawa pulang (karena) MBG ini kan nggak ada pengawetnya. Jadi sudah pasti cepat (rusak atau basi) kalau memang nggak sesuai, apalagi daerahnya panas, ada suhu, dan lain-lain. Itu kan memicu ada perkembangbiakan bakteri," pungkasnya.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kepala BGN Sudaryono Pastikan Tak Punya Dapur MBG