Bahlil Hati-Hati Soal Target Produksi Tambang di RKAB, Ini Alasannya

ven, CNBC Indonesia
Kamis, 06/08/2026 09:40 WIB
Foto: (Tangkapan layar Instagram)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan penetapan target produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bagi perusahaan tambang harus dilakukan secara hati-hati. Hal tersebut dilakukan agar produksi tetap seimbang dengan kebutuhan pasar sehingga harga komoditas tetap terjaga.

Menurut Bahlil, dalam menyusun RKAB pemerintah mempertimbangkan keseimbangan antara permintaan dan penawaran, baik di pasar domestik maupun internasional. Pasalnya, tujuan utama pemerintah bukan hanya meningkatkan volume produksi tetapi juga memastikan komoditas tambang dijual dengan harga yang tinggi.

"Saya katakan bahwa RKAB kita lakukan dengan penuh rasa hati-hati dengan memperhatikan permintaan dan penawaran. Tujuannya satu sebenarnya teman-teman, adalah idealnya itu kita menambangnya banyak tapi juga harganya harus bagus," kata Bahlil ditemui di Kementerian ESDM, dikutip Kamis (6/8/2026).


Bahlil lantas memandang bahwa peningkatan produksi yang tidak terkontrol justru dapat merugikan negara apabila menyebabkan harga komoditas anjlok di pasar. Selain itu, pengelolaan sumber daya mineral juga harus memperhatikan prinsip keberlanjutan agar cadangan tambang tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang.

"Kalau hari ini kita melakukan dengan penuh tidak kehati-hatian, itu dampaknya adalah satu, harga bisa terkoreksi di bawah. Yang kedua, harusnya tambang kita bisa jual dengan harga yang baik dengan waktu yang panjang, itu juga bisa terpotong. Jadi menyangkut RKAB, kita tetap membuka, kita melakukan relaksasi yang terukur. Apa relaksasi yang terukur? Memenuhi kebutuhan domestik dan memperhatikan harga di dunia internasional," kata Bahlil.

Oleh sebab itu, pemerintah akan memprioritaskan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), khususnya bagi perusahaan tambang yang memberikan kontribusi royalti lebih besar kepada negara.

Bahlil membeberkan bahwa pemerintah kini tidak lagi berfokus pada besarnya volume produksi melainkan pada optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minerba.

"Mana lebih bagus, kamu produksi 1 miliar ton PNBP kamu Rp120 triliun contoh ya ini contoh atau kamu produksi 800 juta PNBP kamu Rp130 triliun? Pilih mana? Pilih yang mana? Ya itu yang saya lakukan sekarang. Supaya apa? Barang kita ini enggak boleh murah," ujar Bahlil.


(ven)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bahlil Berencana Revisi RKAB Batu Bara, Penambang Buka Suara!