Pemilik Jaringan Mal Lippo dan Pakuwon Sepakat Bongkar Pagar Tinggi

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Senin, 03/08/2026 13:22 WIB
Foto: Pagar besi tinggi yang sempat terpasang di depan Pusat Perbelajaan Kota Kasablanka (Kokas), Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, pada Senin (3/8/2026) kini sudah dibongkar. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua pemilik jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, Lippo Group dan Pakuwon Group, kompak menegaskan kondisi keamanan nasional masih kondusif sehingga tidak ada kebutuhan memasang pagar tinggi di pusat perbelanjaan. Keduanya juga memastikan pemasangan pagar di beberapa mal bukan merupakan kebijakan perusahaan, melainkan inisiatif manajemen lokal.

Chairman Lippo Group James T. Riady mengatakan, seluruh mal milik Lippo memang pernah memasang pagar ketika Indonesia menghadapi kerusuhan pada masa lalu. Namun, pagar-pagar tersebut telah lama dibongkar setelah situasi keamanan kembali kondusif.

"Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang," ujar James dalam keterangannya, dikutip Senin (3/8/2026).


James menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi sosial maupun ekonomi nasional. Menurutnya, pemerintah berhasil menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan, seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi, tarif listrik rumah tangga bersubsidi, serta harga LPG 3 kilogram (kg) di tengah kenaikan harga energi dunia akibat konflik geopolitik.

"Selama BBM subsidi tidak naik, LPG 3 kilogram tidak naik, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi tetap, tidak ada alasan masyarakat gelisah," sebutnya.

Ia menilai stabilitas tersebut tercermin dari kinerja industri pusat perbelanjaan yang justru sedang menikmati pertumbuhan kuat. Saat ini, kata James, permintaan ruang usaha dari tenant bahkan lebih besar dibandingkan ketersediaan ruang di banyak mal.

Pagar besi tinggi yang sempat terpasang di depan Pusat Perbelajaan Kota Kasablanka (Kokas), Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, pada Senin (3/8/2026) kini sudah dibongkar. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Pagar besi tinggi yang sempat terpasang di depan Pusat Perbelajaan Kota Kasablanka (Kokas), Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, pada Senin (3/8/2026) kini sudah dibongkar. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

"Sekarang justru kekurangan ruang. Permintaan untuk membuka toko lebih besar daripada pasokan ruang di pusat perbelanjaan modern. Ini masa emas bagi bisnis mal," kata James.

Melihat prospek tersebut, Lippo Group terus melakukan ekspansi. Saat ini perusahaan mengelola 71 mal dan 35 shopping center atau total 106 pusat perbelanjaan yang tersebar di lebih dari 29 kota di Indonesia. Menurut James, jaringan tersebut menguasai sekitar 25% ruang ritel modern nasional.

James menilai tingginya permintaan ruang usaha menjadi bukti kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia masih sangat kuat.

"Kami terus membuka pusat perbelanjaan baru karena permintaan sangat tinggi. Kalau situasi tidak aman, tentu para tenant tidak akan berlomba membuka toko," tutur dia.

Ia kembali menegaskan, pemasangan pagar di beberapa lokasi hanyalah kasus yang bersifat terisolasi (isolated cases) dan tidak mencerminkan kondisi industri pusat perbelanjaan secara keseluruhan. Kebijakan tersebut sepenuhnya merupakan keputusan manajemen lokal, bukan arahan pemilik perusahaan.

"Itu hanya inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan pemilik ataupun kantor pusat. Bahkan setelah dikonfirmasi, pagar seperti itu memang tidak diperlukan," tegas James.

Sementara itu, pendiri Pakuwon Group Alexander Tedja memastikan pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, segera dibongkar.

Menurut Alex, pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan manajemen lokal tanpa arahan dari pemegang saham maupun kantor pusat.

"Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar," kata Alex.

Ia juga mengatakan, isu pagar mal sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, menurutnya kondisi keamanan saat ini tetap aman sehingga tidak ada alasan untuk memasang pagar pembatas di pusat perbelanjaan.

Sebelumnya, pagar besi setinggi sekitar 2,5 meter yang sempat mengelilingi area luar Mal Kota Kasablanka telah dibongkar. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di lokasi, Senin (3/8/2026), pagar yang sempat berdiri hampir sepekan itu sudah tidak terlihat lagi dan digantikan deretan traffic cone di sepanjang sisi luar mal.

Informasi yang diperoleh CNBC Indonesia menyebut proses pembongkaran dilakukan pada Sabtu (1/8/2026) malam.

Keberadaan pagar tinggi tersebut sebelumnya menjadi sorotan publik setelah foto dan videonya ramai beredar di media sosial. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung kemudian meminta agar pagar tersebut dibongkar karena dinilai tidak perlu. Ia juga memastikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama TNI, Polri, dan aparat terkait telah berkoordinasi untuk menjaga situasi keamanan ibu kota tetap kondusif.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja, sebelumnya turut menjelaskan pemasangan pagar bukan dilakukan sebagai antisipasi kerusuhan. Menurutnya, pagar digunakan untuk mengatur akses keluar-masuk pengunjung sekaligus menjadi pembatas pengamanan bagi pusat perbelanjaan yang berada di sekitar lokasi yang kerap menjadi titik aksi demonstrasi.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Ganda Putra RI, Leo & Daniel Sukses Raih Juara di Taipei Open 2026