Genting! Warga Amerika Diminta Segera Tinggalkan Timur Tengah
Jakarta, CNBC Indonesia - Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS) di sejumlah kawasan Timur Tengah memperingatkan warganya akan potensi "eskalasi tak terduga" dalam konflik regional. Kedubes juga mendesak mereka untuk bersiap evakuasi.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Kedubes AS di Bahrain, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Adapun peringatan muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menggempur Iran.
"Warga AS di kawasan ini harus mempertimbangkan untuk pergi, atau bersiap untuk pergi jika terjadi eskalasi," tulis peringatan keamanan tersebut, dikutip dari Gulf News, Minggu (2/8/2026).
"Warga AS yang saat ini berada di Timur Tengah harus berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan, serta harus bersiap menghadapi pembatalan penerbangan, penutupan ruang udara secara berkala, dan potensi gangguan perjalanan," tambah pernyataan itu.
Warga AS di Yordania diimbau untuk tidak mengunjungi pangkalan militer di negara tersebut, yang baru-baru ini menjadi sasaran serangan rudal Iran. Sementara di Israel, warga didesak untuk mencari tahu lokasi perlindungan bom (bomb shelter) terdekat.
"Rezim Iran tidak dapat diprediksi, seperti yang terlihat dari keputusan terbarunya untuk menyerang area di kawasan ini tanpa peringatan atau provokasi, serta memperluas serangan ke area yang sebelumnya tidak ditargetkan (seperti Mesir)," kata unggahan di situs web Kedubes AS di Yerusalem.
Kedubes AS di Beirut menyatakan bahwa misi diplomasi mereka masih berada dalam status "perintah evakuasi" (ordered departure status). Ini berarti personel pemerintah AS non-darurat masih direlokasi ke luar Lebanon.
Pada Sabtu (1/8) militer Iran menuding Gedung Putih memicu ketegangan di kawasan. Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran, juga mewanti-wanti terhadap serangan apa pun yang menyasar infrastruktur Iran.
"Menyerang infrastruktur Iran secara langsung akan membangunkan patahan yang menjadi landasan arsitektur hegemonik AS selama 250 tahun," tulisnya di platform X.
Iran dan AS kembali saling serang setelah jeda pertempuran selama beberapa hari, meskipun tidak ada laporan serangan pada Jumat malam hingga Sabtu.
Pada Rabu (29/7), sebuah drone menghantam kapal gas milik AS yang bersandar di pelabuhan Mesir hingga memicu kebakaran. Mesir sedang menyelidiki insiden tersebut namun belum menuding kelompok mana pun atas serangan itu.
Sementara itu, proyektil tak dikenal menghantam kapal tanker di lepas pantai Oman pada Sabtu, seiring perebutan kendali Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran.
Iran secara efektif mempertahankan kendali atas navigasi yang melewati Selat Hormuz sejak pecahnya perang pada 28 Februari, dengan mewajibkan kapal-kapal untuk memperoleh izin dan membayar biaya transit sebelum melintasi jalur perairan tersebut.
Perang Timur Tengah ini pecah ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal dan drone di berbagai wilayah di kawasan tersebut.
Di garis depan Lebanon, militer Israel pada Sabtu mengklaim menewaskan tiga petempur Hizbullah di Lebanon selatan, sementara salah satu prajuritnya mengalami luka ringan saat bertempur dalam jarak dekat (close-quarters encounter) dengan militan Hizbullah.
(hsy/hsy)