Listrik Sumatera Kritis, Operasi PLTA Batang Toru 510 MW Dikebut

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 31/07/2026 13:45 WIB
Foto: Antisipasi Krisis Listrik Sumatera, Operasional PLTA Batang Toru Dipercepat. (Dok ESDM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru dengan kapasitas 510 Mega Watt (MW) guna memperkuat sistem kelistrikan Sumatra. Hal itu dilakukan setelah PLTA Batang Toru sempat mengalami kendala pasca bencana banjir yang terjadi pada November 2025 lalu.

Wakil Menteri ESDM Yuliot meninjau langsung progres proyek strategis nasional tersebut di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ia memastikan proses uji teknis pembangkit kini dilakukan secara paralel dengan penyelesaian sisa kendala administratif agar pembangkit dapat segera terhubung ke jaringan nasional.

"Ini merupakan upaya percepatan kita untuk penyediaan dan keandalan energi secara nasional. Khususnya, kondisi energi di wilayah Sumatera cukup kritis sehingga kita memerlukan antisipasi. Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer yang lain, kita sudah memiliki PLTA Batang Toru yang bisa on-grid," ujar Yuliot dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).


Akibat bencana yang sempat terjadi akhir tahun lalu, lima menara transmisi roboh merusak keandalan pasokan listrik regional. Pihaknya mengawal percepatan pembangunan kembali jalur transmisi agar daya dari PLTA Batang Toru dapat terserap secara optimal.

"Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatera," tambahnya.

Proyek senilai Rp 21,6 triliun yang dikelola oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) tersebut juga sempat terhambat sanksi administratif, namun saat ini perusahaan telah mendapatkan lampu hijau untuk melanjutkan konstruksi. Saat ini, tim di lapangan fokus melakukan pengujian teknis yang membutuhkan penggenangan air sebagai syarat operasional turbin.

"Testing yang dilakukan ini namanya PLTA kan harus ada genangan. Kalau tidak ada genangan, testing tidak bisa kita lakukan. Berarti antara penyelesaian administratif dan juga pelaksanaan testing itu kita lakukan secara paralel," imbuhnya.

Selain untuk keandalan wilayah Sumatera, pengoperasian pembangkit ini menjadi kunci bagi pemerintah dalam mengejar target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT). Saat ini bauran energi bersih nasional masih berada di angka 16-17%, sementara target akhir tahun 2026 dipatok mencapai 21%.

"Jika kita tidak melakukan percepatan-percepatan, maka target bauran energi 21% tidak akan tercapai hingga akhir tahun," tandasnya.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jusuf Kalla Ungkap Rencana Tambahan PLTA 2.000 Mw