Tanah dan Bangunan Dilewati Jalur MRT Jakarta Siap-Siap Berubah Total
Jakarta, CNBC Indonesia - Kehadiran transportasi publik berbasis kereta tidak hanya mengubah pola mobilitas masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan di sekitar stasiun. Bahkan, bangunan yang terhubung langsung dengan stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) dinilai memiliki nilai properti dan daya tarik bisnis yang lebih tinggi.
TOD Planning Department Head MRT Jakarta Sagita Devi mengatakan pembangunan MRT telah membuka peluang baru bagi pengembangan kawasan melalui konsep Transit-Oriented Development (TOD), sehingga dapat menjadi pertumbuhan ekonomi.
"Dengan adanya sebuah pembangunan transportasi publik dia bisa menjadi katalis dari perkembangan ekonomi di sekitar stasiun. Kemudian juga bisa menjadi katalis dari perubahan lifestyle di dalam kota itu sendiri. Dan yang ketiga, dia juga bisa menjadi katalis adanya regenerasi urban di dalam kota," ujar Sagita dikutip Jumat (31/7/2026).
Selain meningkatkan nilai properti, pengembangan TOD juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi perkotaan melalui hadirnya pusat-pusat aktivitas baru. Kawasan stasiun tidak lagi hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang, tetapi berkembang menjadi pusat perkantoran, perdagangan, kuliner, hingga ruang publik yang aktif.
Suasana aktivitas pekerja saat pengerjaan proyek MRT Fase 2A di Jakarta, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: Suasana aktivitas pekerja saat pengerjaan proyek MRT Fase 2A di Jakarta, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) |
Salah satu strateginya adalah membangun interkoneksi antara stasiun dengan gedung-gedung di sekitarnya. Langkah tersebut dinilai memberikan manfaat tidak hanya bagi pengguna transportasi, tetapi juga bagi pemilik properti.
"Di sini dilihat gimana sih interkoneksi itu bisa meningkatkan value (harga) dari sebuah bangunan," katanya.
Blok M Plaza yang kini terhubung langsung dengan Stasiun Blok M menjadi contoh nyata. Setelah memiliki akses langsung ke stasiun, aktivitas di pusat perbelanjaan tersebut meningkat seiring bertambahnya jumlah pengguna yang datang melalui MRT.
"Karena kan ya bisa dilihat mungkin Blok M Plaza dari sebelum terkoneksi dengan sekarang terkoneksi langsung dengan stasiun, ridership atau market value-nya meningkat," ujarnya.
Hal serupa juga terjadi di kawasan Stasiun Lebak Bulus yang terhubung dengan Poins Square. Interkoneksi tersebut dinilai meningkatkan daya tarik kawasan dan mendorong perubahan fungsi komersial menjadi lebih hidup.
"Begitu juga dengan Poins Square, yang tadinya mungkin lebih banyak apa... market value-nya meningkat menjadi komersial yang lebih nyaman dan aman," kata Sagita.
Saat ini MRT Jakarta mendapat mandat mengelola sembilan kawasan TOD di sepanjang jalur fase 1 dan fase 2. Dari jumlah tersebut, lima kawasan telah memiliki dasar regulasi yang lengkap, yakni Lebak Bulus, Fatmawati, Blok M-ASEAN, Istora Mandiri, dan Dukuh Atas. Sementara Bundaran HI tengah dalam proses penetapan, sedangkan kawasan Kota Tua, Setiabudi, dan Bendungan Hilir masih menunggu penyelesaian regulasi.
(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]