Internasional

Survei Terbaru "Tampar" Trump, Warga AS Kian Muak dengan Perang Iran

luc, CNBC Indonesia
Selasa, 28/07/2026 14:50 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump memberi isyarat saat ia meninjau pesawat VC-25B yang dihadiahkan oleh Qatar yang akan digunakan sebagai Air Force One, di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, Jumat (19/6/2026). (REUTERS/Elizabeth Frantz)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Dukungan publik Amerika Serikat (AS) terhadap perang melawan Iran terus merosot. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan hanya sepertiga warga AS yang masih mendukung konflik tersebut, sementara mayoritas menilai Presiden Donald Trump gagal menjelaskan tujuan keterlibatan militer Washington.

Survei yang dilakukan pada Jumat hingga Minggu (26/7/2026) itu mencatat dukungan terhadap perang Iran berada di level terendah sejak fase awal konflik yang telah berlangsung selama lima bulan. Adapun survei ini dilakukan secara daring di seluruh wilayah AS terhadap 1.246 orang dewasa dan memiliki margin of error sekitar 3 poin persentase.

Hasil survei menunjukkan 69% warga AS, termasuk empat dari setiap 10 pemilih Partai Republik, menilai Trump belum menjelaskan secara jelas alasan dan sasaran keterlibatan militer AS di Iran.


Di saat dukungan terhadap perang menurun, tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump justru sedikit naik menjadi 37%, meningkat tiga poin dibanding bulan lalu ketika angkanya menyamai level terendah sepanjang masa kepresidenannya.

Mengutip Reuters, Senin (28/7/2026), Trump selama beberapa bulan terakhir menyampaikan tujuan perang yang berubah-ubah. Mulai dari membantu rakyat Iran menggulingkan pemimpinnya, menghancurkan kemampuan rudal balistik Teheran, hingga mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Meski demikian, mayoritas publik masih merasa tujuan tersebut tidak disampaikan secara jelas.

Juru Bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan Trump tidak akan mengambil keputusan berdasarkan hasil survei yang berubah-ubah dan menegaskan kembali komitmen presiden untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

"Yang paling penting bagi rakyat Amerika adalah memiliki seorang panglima tertinggi yang mengambil tindakan tegas untuk menjaga keamanan mereka," kata Wales.

Perang Irak dan Afghanistan

Reuters mencatat tingkat dukungan terhadap perang Iran tidak pernah menembus 40% sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari lalu.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dukungan publik terhadap konflik-konflik besar sebelumnya.

Pada bulan-bulan awal Perang Irak yang berlangsung pada 2003-2011, sekitar 70% warga AS mendukung operasi militer tersebut.

Sementara pada awal Perang Afghanistan yang berlangsung selama dua dekade sejak 2001 hingga 2021, sekitar 90% warga AS mendukung perang, berdasarkan data Gallup.

Alasan Perang

Penolakan publik terhadap perang mulai menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela Kongres pada November mendatang. Dalam pemilu tersebut, sekutu Trump akan mempertahankan mayoritas tipis mereka di Kongres AS.

Salah satu suara kritis datang dari Alex Womack, pensiunan teknisi perbaikan turbin dari Stockbridge, Georgia.

Womack mengatakan dirinya menjadi pendukung Partai Republik antara lain karena mengagumi cara Presiden George H.W. Bush menangani Perang Teluk pada 1991. Namun, perang Iran membuat dukungannya terhadap Trump mulai memudar.

"Tidak jelas mengapa kita memulai perang dengan mereka. Saya sama sekali tidak tahu," ujarnya.

Womack yang pernah bertugas di Korps Marinir AS saat Perang Teluk juga mengkritik kinerja Trump. "Menurut saya secara pribadi dia tidak melakukannya dengan baik."

Korban Jiwa Bertambah, Harga BBM Melonjak

Hingga saat ini, sebanyak 18 tentara AS dilaporkan tewas dalam konflik tersebut. Di sisi lain, ribuan orang telah meninggal di Iran maupun Lebanon, tempat kelompok-kelompok sekutu Iran terlibat pertempuran melawan pasukan Israel.

Perang juga memukul kondisi ekonomi masyarakat AS melalui lonjakan harga bahan bakar.

Harga bensin nasional kini rata-rata berada sedikit di atas US$4 per galon, naik dari sekitar US$3 per galon sebelum perang dimulai pada 28 Februari.

Menurut ahli strategi politik Partai Republik Alex Conant, kondisi tersebut memperburuk posisi politik Partai Republik.

"Ini memberi tekanan kepada partai dalam berbagai cara, dan semuanya buruk," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa Gedung Putih sebenarnya ingin memenangkan perdebatan soal ekonomi sejak awal tahun, namun fokus perang membuat upaya tersebut semakin sulit.

Sikap Pemilih Independen

Survei Reuters/Ipsos juga menemukan bahwa pemilih independen yang terdaftar kini lebih condong mendukung kandidat Kongres dari Partai Demokrat dibanding Republik.

Sebanyak 36% pemilih independen memilih kandidat Demokrat, sementara hanya 20% yang memilih kandidat Republik.

Kelompok pemilih independen juga lebih mempercayai Demokrat dibanding Republik dalam urusan kebijakan ekonomi.

Janji Trump

Saat berkampanye pada Pilpres 2024, Trump berulang kali berjanji akan menjauhkan AS dari konflik berkepanjangan di luar negeri.

Pada awal perang, ia memperkirakan konflik Iran hanya akan berlangsung empat hingga lima minggu. Namun hingga kini perang masih berlanjut tanpa tanda-tanda berakhir.

Trump juga beberapa kali menolak perbandingan konflik Iran dengan perang-perang panjang AS sebelumnya, termasuk Perang Vietnam yang berlangsung selama dua dekade dan menewaskan lebih dari 58.000 tentara Amerika.

Rhyan Anderson, pemilih independen dari Fairburn, Georgia, yang mendukung Trump pada Pilpres 2024, mengatakan presiden seharusnya lebih fokus menyelesaikan persoalan dalam negeri dibanding membantu Israel atau sekutu lainnya.

"Hal terbesar bagi saya adalah fokus pada orang-orang yang benar-benar berada di negara ini," katanya.

Anderson yang bekerja di dua pekerjaan sekaligus di bidang keamanan dan pengumpulan data mengaku sebelumnya memilih Joe Biden pada 2020.

"Saya tahu kita punya sekutu dan hal-hal seperti itu, tetapi ada banyak orang di sini yang benar-benar membutuhkan bantuan."

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Mau Hajar China, Tapi Malah Terjebak Perang Iran