Kurangi Impor BBM Bensin, Ini Strategi Pertamina Patra Niaga

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Sabtu, 25/07/2026 09:40 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Patra Niaga menargetkan pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM) khususnya bensin melalui pengembangan biogasoline di kilang dalam negeri.

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman menjelaskan bahwa mayoritas produk BBM yang diimpor saat ini adalah jenis bensin. Oleh karena itu, perusahaan tengah mengupayakan penggunaan teknologi co-processing untuk meningkatkan kemandirian dan kapasitas energi nasional dari dalam negeri.

"Lalu untuk mengurangi gap kebutuhan gasoline karena majority of imported produk itu gasoline, kita juga sedang mengeksplor bagaimana co-processing untuk biogasoline di our refinery, existing refinery Cilacap and Balongan," katanya dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (25/7/2026).


Hal itu juga sebagai salah satu upaya Pertamina untuk meningkatkan ketangguhan sistem energi di Indonesia. Selain bensin, perusahaan terus berupaya mengoptimalkan kapasitas kilang yang saat ini kapasitasnya telah mencapai 1,2 juta barel per hari.

"Sehingga meskipun hal kecil kita dapat mengurangi ketergantungan bahan baku yang diimpor. Jadi itulah upaya kami untuk meningkatkan ketahanan kapasitas energi kami di Indonesia," jelas Taufik.

Selain melalui biogasoline, Pertamina juga mulai berinvestasi pada green refinery untuk memproduksi berbagai bahan bakar ramah lingkungan. Fokus pengembangan tersebut saat ini berada di Kilang Cilacap guna menghasilkan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau SAF.

"Bukan hanya B50, tetapi kami pun sekarang investment dalam bio atau green refinery untuk produce HVO dan sustainable aviation fuel di Cilacap," tambahnya.

Dengan begitu, pihaknya terus berkomitmen untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat melalui penguatan infrastruktur distribusi yang tersebar di pelosok tanah air. Tantangan distribusi di wilayah pegunungan maupun daerah 3T terus diprioritaskan guna memastikan keterjangkauan dan distribusi energi nasional tetap terjaga.

Senada dengan itu, sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah menyiapkan penerapan bensin dengan campuran etanol 10% (E10) di Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi impor BBM jenis bensin.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan kajian penerapan bioetanol telah dimulai sejak 2025. Adapun, pemerintah menargetkan implementasi bertahap mulai E10 sebelum menuju E20.

"Begitu etanol kita terapkan mandatory, maka kita bisa melakukan efisiensi atau penghematan terhadap impor BBM jadi untuk bensin," kata Bahlil di Istana Negara dikutip Selasa (21/7/2026).

Meski demikian, pemerintah tidak ingin kebutuhan etanol dipenuhi melalui impor. Oleh sebab itu, dalam satu hingga dua tahun ke depan fokus diarahkan pada pembangunan industri bioetanol di dalam negeri.

"Nah industrinya di mana? Yaitu bahan bakunya adalah singkong, tebu, kemudian jagung dan beberapa komoditas lain. Nah 1-2 tahun ini kita melakukan persiapan, setelah itu kita mandatory full E20," katanya.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kapal PG 1 Dengan 45,9 Ribu Metrik Ton LPG Asal AS Tiba di RI