China Ngamuk di Laut China Selatan, Kapal Filipina Dihujani Meriam Air

Thea Arbar, CNBC Indonesia
Sabtu, 25/07/2026 06:20 WIB
Foto: via REUTERS/Jay Tarriela via X

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas setelah kapal Penjaga Pantai China menghujani kapal-kapal Filipina dengan meriam air saat menjalankan misi di sekitar Scarborough Shoal, Jumat (24/7/2026). Aksi agresif tersebut menjadi konfrontasi ketiga yang terjadi dalam sepekan di wilayah sengketa itu.

Penjaga Pantai China memperingatkan armada Filipina agar segera meninggalkan kawasan yang diklaim Beijing.

"Segera pergi. Jika tidak, kami akan mengambil tindakan tegas sesuai dengan hukum," demikian peringatan yang disampaikan melalui pengeras suara sebelum kapal-kapal China mengitari armada Filipina dan menyemprotkan meriam air, seperti dikutip CNN International.


Insiden terjadi ketika kapal milik Biro Perikanan dan Sumber Daya Akuatik Filipina tengah menjalankan misi mengirim bahan bakar kepada nelayan di sekitar Scarborough Shoal. Saat mendekati lokasi, sejumlah kapal Penjaga Pantai China berukuran lebih besar mengepung armada Filipina hingga jaraknya sangat dekat.

Otoritas Filipina menyebut sedikitnya 15 kapal China, terdiri dari kapal Penjaga Pantai dan kapal yang disebut sebagai "milisi maritim", menghadang 10 kapal Filipina. Penjaga Pantai Filipina menyatakan armadanya mengalami "serangkaian serangan meriam air dan manuver berbahaya", bahkan salah satu kapal China berada hanya sekitar tujuh meter dari kapal Filipina sehingga menciptakan risiko tabrakan serius.

Sementara itu, media pemerintah China melaporkan Penjaga Pantai China mengambil langkah penegakan hukum terhadap kapal-kapal Filipina yang disebut melakukan aktivitas ilegal di perairan sekitar Pulau Huangyan, nama yang digunakan Beijing untuk Scarborough Shoal. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan tindakan tersebut sah menurut hukum.

"Sah dan legal bagi China mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan keamanannya. Tindakan itu profesional, sesuai standar, dan tidak perlu dipersoalkan," ujarnya.

Misi Filipina akhirnya dibatalkan dan armada kembali ke pelabuhan karena cuaca memburuk akibat topan yang berkembang di wilayah tersebut. Setelah kapal-kapal Filipina berbalik arah, ketegangan mulai mereda meski kapal-kapal China masih terlihat membayangi dari kejauhan.

Ketegangan kedua negara memang meningkat sepanjang pekan ini. Pada Senin, kapal China dan Filipina terlibat bentrokan di Second Thomas Shoal yang menyebabkan dua personel militer Filipina terluka. Beijing membantah tuduhan tersebut dan justru menuduh Filipina menyebarkan informasi yang salah.

Konfrontasi kembali terjadi pada Kamis ketika China mengklaim mengusir dua kapal Filipina yang memasuki perairan dekat Scarborough Shoal. Filipina mengatakan kapal China kembali menggunakan meriam air dan manuver berbahaya untuk menghalangi misi pasokan bagi nelayan, meski operasi tetap berlanjut tanpa korban.

Amerika Serikat ikut menyoroti meningkatnya eskalasi di Laut China Selatan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Washington tetap berkomitmen membela Filipina sebagai sekutu berdasarkan perjanjian pertahanan bersama.

"Kami memiliki peran dan kami tidak akan meninggalkan sekutu kami. Kami telah menjelaskan hal itu dengan sangat jelas," kata Rubio.

Scarborough Shoal menjadi salah satu titik paling sensitif di Laut China Selatan yang juga diklaim Filipina dan Taiwan. Meski putusan arbitrase internasional pada 2016 menyatakan China tidak memiliki dasar hukum atas sebagian besar klaim historisnya di kawasan tersebut, Beijing tetap mempertahankan kehadiran intensif di wilayah itu sehingga ketegangan dengan Manila terus berulang.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Daftar Negara Yang Jadi Surga Baru Buat Komoditas RI