Uang Sekolah sampai RS Rp 20 M Raib, 30 Pejabat Jadi Tersangka
Jakarta, CNBC Indonesia - Skandal penyalahgunaan anggaran kembali mencuat. Aparat penegak hukum mengungkap dugaan penyelewengan dana publik senilai lebih dari 52 juta hryvnia (sekitar Rp20,3 miliar) yang seharusnya digunakan untuk membiayai sekolah, rumah sakit, pembangunan jalan, hingga tempat perlindungan warga.
Mengutip The Odessa Journal, Kamis (24/7/2026), Kejaksaan Wilayah Odesa, Ukraina, mengungkap bahwa sepanjang enam bulan pertama 2026 pihaknya telah menetapkan tersangka dalam hampir 30 kasus. Semuanya berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang, kelalaian, serta penggelapan anggaran pemerintah.
Dana yang diduga diselewengkan berasal dari berbagai program pemerintah. Di antaranya pengadaan bahan bakar dan listrik untuk sekolah serta taman kanak-kanak, pembangunan bunker atau tempat perlindungan anak, renovasi pusat seni anak, program bantuan bagi petani, pembayaran terkait pandemi Covid-19, pengadaan lampu lalu lintas, hingga pembelian kontainer untuk kebutuhan militer.
Kasus tersebut menyeret berbagai kalangan, baik pejabat aktif maupun mantan pejabat. Mereka yang menjadi tersangka antara lain pejabat pemerintah kota, pimpinan perusahaan milik negara, direktur dan bendahara lembaga pemerintah daerah, pimpinan perusahaan kontraktor, insinyur pengawas proyek, kepala fasilitas kesehatan, hingga pejabat di bidang veteriner.
Kejaksaan menegaskan penyelidikan dilakukan bersama aparat penegak hukum lainnya untuk mengusut tuntas berbagai skema penyalahgunaan anggaran tersebut. Total kerugian negara dalam perkara yang telah diungkap sejauh ini diperkirakan telah melampaui 52 juta hryvnia.
Sebelumnya, Pusat Investigasi Publik juga merangkum sejumlah kasus korupsi terbesar yang terungkap di wilayah selatan Ukraina selama paruh pertama 2026. Beberapa di antaranya mencakup dugaan penggelembungan harga material proyek pemulihan jaringan air bersih, penggelapan anggaran pemerintah, hingga praktik pengayaan ilegal oleh pejabat publik.
source on Google [Gambas:Video CNBC]