Berani Menganggur Demi Beasiswa Kuliah S2, Kini Pimpin Anak Usaha BUMN
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua tahun tanpa pekerjaan. Tidak ada gaji. Tidak ada kepastian. Modal Pujo Pramono saat itu hanyalah keyakinan bahwa untuk melangkah lebih jauh, terkadang seseorang harus berani kehilangan sesuatu terlebih dahulu.
Saat banyak orang memilih mempertahankan karir yang tengah menanjak, Pujo justru mengambil langkah sebaliknya. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai engineer di Telkom demi kembali duduk di bangku kuliah.
Sebuah keputusan yang kala itu dipandang terlalu berisiko, tetapi justru menjadi titik balik yang mengubah cara ia berpikir, memimpin, hingga memaknai arti sebuah kesempatan.
"Waktu itu memang banyak rekan kerja yang bertanya, 'Baru dipromosikan, kok malah resign?'. Keputusan itu memang tidak mudah. Tapi saya merasa bekal S1 saja belum cukup. Ada tingkatan pendidikan yang harus saya capai agar bisa menunjang pekerjaan saya, terutama kalau ingin berada di level manajerial," ungkap Pujo, kepada CNBC Indonesia, Selasa (22/7/2026).
Di atas kertas, tidak ada alasan bagi Pujo untuk meninggalkan pekerjaan. Sebab karirnya sedang berkembang. Ia menjadi bagian dari angkatan muda Telkom yang ikut membangun jaringan telekomunikasi di Sumatera ketika industri seluler Indonesia baru mulai tumbuh.
Namun, di tengah karier yang terus berkembang itu, Pujo menyadari ada keterbatasan yang harus diatasi. Menurutnya, pendidikan diperlukan untuk menumbuhkan cara pandang baru di luar kemampuan teknis. Dari kesadaran itulah, dia kemudian mengambil keputusan yang tidak biasa.
Pujo mengikuti program Magister Manajemen Universitas Indonesia melalui beasiswa Putera Sampoerna Foundation. Selama hampir dua tahun, ia rela meninggalkan pekerjaan demi mengejar cita-cita yang lebih besar, meski harus menghadapi ketidakpastian.
"Demi cita-cita itu, kita memang harus berani walaupun di depan mungkin melihat 'jalan' yang belum rata," kenang Pujo.
Selama belajar inilah, Pujo merasa Putera Sampoerna Foundation bukan hanya memberinya kesempatan melanjutkan studi, tetapi juga cara berpikir baru. Melalui ilmu yang dipelajarinya, ia mulai memahami bahwa setiap keputusan manusia selalu didorong oleh alasan yang lebih dalam daripada sekadar manfaat yang terlihat.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Pujo terjadi saat pembekalan penerima beasiswa Putera Sampoerna Foundation. Kala itu, motivator Andrie Wongso memperkenalkan filosofi self-determination, yakni keyakinan bahwa masa depan seseorang pada akhirnya ditentukan oleh dirinya sendiri.
Bagi Pujo, filosofi tersebut bukan sekadar kata-kata motivasi. Pesan itu hadir di saat ia sedang berada di persimpangan hidup setelah memutuskan meninggalkan pekerjaan demi melanjutkan pendidikan.
"Pak Andrie Wongso menyampaikan, kalau kita keras terhadap diri sendiri, terus belajar dan mau memecut diri kita, niscaya dunia akan menjadi lunak kepada kita. Sebaliknya, kalau kita lunak terhadap diri sendiri, malas berkembang, justru dunialah yang akan keras kepada kita," ungkap Pujo.
Pesan itu semakin memantapkan keyakinannya bahwa keputusan meninggalkan pekerjaan bukanlah sebuah kerugian. Justru sejak saat itu ia memandang pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun cara berpikir, bukan sekadar memperoleh gelar.
Perubahan tersebut semakin terasa ketika ia mendalami ilmu marketing dan consumer behavior. Dari sana, Pujo mulai memahami bahwa teknologi tidak dapat dipisahkan dari perilaku manusia maupun model bisnis.
"Saya bersyukur mendapat ilmu marketing. Saya belajar consumer behavior dan means-end theory. Dari situ saya memahami bahwa setiap orang mengambil keputusan berdasarkan attribute, benefit, dan value. Cara berpikir itu kemudian bisa saya analogikan ke banyak hal, bahkan ke kehidupan," ujar pria yang kini menjabat sebagai Direktur Operation & Sales PT Metra Digital Media.
Cara berpikir baru itulah yang kemudian ia bawa ketika kembali berkarir di Telkom.
Salah satu wujudnya terlihat pada 2009 ketika Pujo menjadi salah satu sosok yang terlibat dalam penyusunan filosofi dan tagline Telkom, "The World in Your Hand." Saat itu, slogan tersebut tidak hanya bermakna bahwa di tanganmulah masa depan atau duniamu ditentukan, tetapi juga bermakna lebih yang terdengar sangat visioner.
Di masa itu ponsel masih lebih banyak digunakan untuk menelpon dan mengirim pesan singkat. Namun, Pujo bersama tim waktu itu melihat sesuatu yang lebih jauh. Mereka meyakini bahwa suatu hari nanti hampir seluruh aktivitas manusia akan berpindah ke dalam genggaman tangan melalui perangkat seluler.
Belasan tahun kemudian, prediksi tersebut menjadi kenyataan. Ponsel kini menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai dari bekerja, belajar, berbelanja, mengakses layanan keuangan, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Bagi Pujo, kenyataan tersebut menegaskan satu hal. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan keberhasilan tetaplah manusia yang mau terus belajar dan beradaptasi lebih cepat daripada perubahan itu sendiri.
Cara berpikir yang memadukan perspektif teknik dan manajemen itulah yang kemudian mewarnai perjalanan kariernya. Hari ini ia dipercaya memimpin berbagai inisiatif transformasi digital di Telkom. Dari sanalah tanggung jawab yang lebih besar terus berdatangan hingga akhirnya ia dipercaya menjabat direksi anak perusahaan BUMN dengan jabatan Direktur Operations & Sales PT Metra Digital Media.
Namun, bagi Pujo, jabatan bukanlah pencapaian terbesarnya.
Baginya, pengalaman selama mengikuti studi di UI menjalani program Putera Sampoerna Foundation menjadi titik awal yang mempercepat perkembangan karir sekaligus memperkaya cara berpikirnya.
"Itulah yang menjadi titik awal yang mendorong perkembangan karier maupun keilmuan saya. Dari apa yang saya pelajari, saya bisa berbagi kembali melalui tulisan dan buku agar manfaatnya juga bisa dirasakan orang lain," ujar Pujo.
Pada akhirnya, kesempatan yang pernah ia peroleh bukan hanya mengubah perjalanan kariernya, tetapi juga membentuk cara pandangnya tentang kepemimpinan, pembelajaran, dan arti memberi manfaat bagi sesama. Atas dasar itu, ia berharap semakin banyak anak muda Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berani mewujudkan cita-cita mereka.
"Jangan pernah berhenti belajar. Jadilah gelas yang selalu merasa kosong untuk dipenuhi, diisi air sampai meluap. Artinya, kita harus kejar diri kita untuk belajar dan bermanfaat bagi orang lain," tegas Pujo.
(rah/rah) Add
source on Google