CLOSE AD
MARKET DATA

Perajin Tahu Tempe Ngaku Dapat Durian Runtuh karena Program MBG

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
24 July 2026 17:50
Perajin membuat tempe di industri rumahan skala kecil di Jalan Wahid, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (15/2/2022). Kenaikan biaya bahan baku utama itu dilaporkan jadi penyebab berhentinya produksi sejumlah industri rumahan tempe dan tahu (CNBC In
Foto: Perajin membuat tempe di industri rumahan skala kecil di Jalan Wahid, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (15/2/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa angin segar bagi perajin tahu dan tempe. Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mencatat permintaan produk tahu dan tempe meningkat sekitar 20% seiring kembali berjalannya program tersebut.

Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo mengatakan, saat pelaksanaan MBG sempat terhenti, penjualan tahu dan tempe ikut terdampak cukup besar. Namun, kondisi mulai membaik setelah program kembali berjalan.

"Kemarin sebenarnya terpengaruh juga ya tentang MBG itu ya. Kemarin dengan berhentinya MBG itu ya penjualan sangat turun drastis juga. Alhamdulillahnya ini dengan MBG berjalan kembali, BGN juga sudah punya pemimpin yang baru ya, kami berharap sih jadi lebih baik. Alhamdulillah sudah mulai baik lah penjualan," kata Wibowo kepada CNBC Indonesia, Jumat (24/7/2026).

Menurut dia, manfaat MBG tidak hanya dirasakan oleh perajin tahu dan tempe, tetapi juga pelaku usaha pangan lainnya seperti peternak telur. Sebab, tahu dan tempe menjadi salah satu menu yang rutin disajikan dalam paket makanan program tersebut.

"Kemarin ya terasa banget. Yang terasa kan bukan hanya tahu tempe, telur juga kan? Jadi MBG ini berdampak baik sebenarnya untuk tahu tempe, karena kan tahu tempe itu rutin selalu ada di omprengnya (menu makan) anak-anak. Itu berdampak baik," jelasnya.

Perajin membuat tempe di industri rumahan skala kecil di Jalan Wahid, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (15/2/2022). Kenaikan biaya bahan baku utama itu dilaporkan jadi penyebab berhentinya produksi sejumlah industri rumahan tempe dan tahu (CNBC Indonesia/ Muhammad SabkiPerajin membuat tempe di industri rumahan skala kecil di Jalan Wahid, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (15/2/2022). Kenaikan biaya bahan baku utama itu dilaporkan jadi penyebab berhentinya produksi sejumlah industri rumahan tempe dan tahu (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki Foto: Perajin membuat tempe di industri rumahan skala kecil di Jalan Wahid, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, (15/2/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki

Berdasarkan laporan yang diterima Gakoptindo dari anggotanya di berbagai daerah, pelaksanaan MBG mendorong peningkatan produksi sekitar 20%.

"20% peningkatannya. Data yang kami sempat dapatkan ya itu peningkatan di perajin tuh 20% dari produksinya," ungkap dia.

Ia pun menilai dampak program MBG terhadap usaha perajin tahu tempe sangat terasa.

"Sangat terasa, sangat," ucapnya.

Di sisi lain, Wibowo memastikan polemik mengenai dapur MBG fiktif tidak berdampak terhadap pasokan tahu dan tempe yang disalurkan ke dapur resmi. Menurut dia, dapur yang bermasalah memang tidak menjalankan aktivitas produksi sehingga tidak menyerap bahan baku dari perajin.

Ia mengaku memahami kondisi tersebut lantaran juga mengelola yayasan yang menaungi sejumlah dapur MBG.

"Iya karena kan saya Ketua Yayasan yang menaungi dapur-dapur. Jadi saya juga tahu lah memahami hal-hal itu. Dan alhamdulillah kalau kita berusaha di jalur yang benar. Jadi kalau dapur-dapur yang dia itu dapur fiktif, ya tentu kan dia tidak berproduksi. Jadi peningkatan permintaan tahu tempe ya dengan dapur yang resmi ini, dapur yang sudah eksis lah," jelas Wibowo.

Meski permintaan mulai pulih berkat MBG, Gakoptindo mengingatkan tantangan perajin belum sepenuhnya selesai. Mereka masih menghadapi kenaikan berbagai biaya produksi seperti logistik, bahan bakar, hingga kemasan, sementara harga jual tahu dan tempe sulit dinaikkan karena daya beli masyarakat masih terbatas.

"Kalau naik harganya nggak ada yang beli nanti," tukas dia.

Karena itu, para perajin berharap program MBG dapat terus berjalan secara konsisten agar permintaan tahu dan tempe tetap terjaga sekaligus menopang keberlangsungan usaha anggotanya.

(wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pemerintah Tak Punya Cadangan Kedelai, Perajin Tahu Tempe Salahkan Ini


Most Popular
Features