Muncul Fenomena Kematian Massal, Warga Diminta Jauhi Gunung Batur

Damiana, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 15:03 WIB
Foto: Danau Batur, Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bali, Senin (23/2/2026). (Dok. Detikcom/Aryo Mahendro)

Jakarta, CNBC Indonesia - Letupan gas terjadi di Danau Batur, Kintamani, Bali hingga menyebabkan kematian massal ikan. Akibat fenomena ini, Badan Geologi Kementerian ESDM mengimbau masyarakat tidak beraktivitas di Kawah Gunung Batur.

Melansir unggahan akun Instagram resminya, Badan Geologi menjelaskan penyebab fenomena letupan atau semburan gas tersebut. Fenomena munculnya letupan gas di Danau Batur itu berkaitan dengan dinamika limnologis dan sistem hidrotermal alami di dalam kaldera Gunung Batur.

"Berdasarkan analisis Badan Geologi, fenomena letupan gas yang disertai kematian ikan diduga berkaitan dengan dinamika alami danau," kata Badan Geologi, Jumat (24/7/2026).


Lantas, mengapa muncul bau belerang?

Menurut Badan Geologi, pada kondisi tertentu, terutama saat terjadi percampuran massa air (overturn/upwelling), air dari dasar danau yang miskin oksigen serta mengandung gas terlarut, seperti hidrogen sulfida (H₂S) dapat naik ke permukaan.

"Kondisi ini dapat memunculkan bau belerang dan menurunkan kadar oksigen terlarut, sehingga berpotensi menyebabkan kematian ikan secara massal," terang Badan Geologi.

"Perlu diketahui, fenomena ini bukan merupakan indikasi akan terjadinya erupsi Gunung Batur. Hingga saat ini, tidak teramati adanya peningkatan kegempaan vulkanik dan tingkat aktivitas Gunung Batur masih berada pada Level I (Normal)," lanjut Badan Geologi.

Meski begitu, warga diminta tidak beraktivitas di kawasan gunung tersebut.

"Masyarakat dan wisatawan tetap diimbau tidak beraktivitas di kawasan kawah Gunung Batur serta selalu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi," tegas Badan Geologi.

Sebelumnya, seperti diberitakan CNN Indonesia, setidaknya 25 ton ikan budidaya mati akibat letupan gas berbau belerang di Danau Batur.

Menurut Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Bangli I Wayan Agus Wirawan, peristiwa itu mulai terjadi pada Senin (20/7/2026) sekitar pukul 03.30 WITA.

"Itu yang baru tercatat ada 25 ton ikan mati. Kalau total secara keseluruhan hingga saat ini jumlah ikan yang mati itu kami belum berani memastikan," kata Agus, dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (24/7/2026).

Ikan berceceran di tepi Danau Batur, Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Kamis (23/7/2026). (Dok. Detikcom/Aryo Mahendro) Foto: Ikan berceceran di tepi Danau Batur, Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Kamis (23/7/2026). (Dok. Detikcom/Aryo Mahendro)


(dce/dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemerintah Siapkan Jakarta dan Bali sebagai Lokasi PFII