Bukan Rp6.800 per Liter, Harga Asli BBM Solar Ternyata Sebesar Ini

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 14:35 WIB
Foto: Warga mengisi bensin di Kawasan SPBU Kuningan Rasuna Said, Jakarta, Selasa, 28/Juni/2022. PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Patra Niaga berencana mengatur pembelian Jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) Khusus Penugasan (JBKP) seperti Pertalite dan juga BBM Solar Subsidi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang dijual kepada masyarakat hingga kini masih bertahan sejak penyesuaian terakhir pada 3 September 2022. Dua jenis BBM yang mendapat subsidi pemerintah adalah Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) RON 90 atau Pertalite dan Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar Subsidi.

Di balik harga jual yang berlaku saat ini, pemerintah menanggung selisih yang cukup besar melalui skema subsidi energi. Hal itu membuat harga BBM yang dibayar masyarakat jauh lebih rendah dibandingkan harga keekonomiannya.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengatakan harga keekonomian Solar Subsidi mencapai sekitar Rp12.000 per liter, sementara harga jual kepada masyarakat tetap dipatok Rp6.800 per liter. Dengan demikian, terdapat selisih sekitar Rp5.200 per liter yang ditanggung pemerintah.


Sementara itu, untuk BBM jenis Pertalite, harga keekonomiannya diperkirakan mencapai Rp16.100 per liter, namun dijual kepada masyarakat sebesar Rp10.000 per liter. Artinya, pemerintah memberikan subsidi sekitar Rp6.100 per liter.

"Hari ini kita subsidi, Biosolar kita harganya kalau Ibu Bapak beli, Biosolar Rp 6.800. Berapa harga produksinya? Rp 12.000 keekonomiannya. Kita beli Pertalite Rp 10.000, dimanapun Rp 10.000. Berapa nilai keekonomiannya? Rp 16.100," katanya dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia, dikutip Jumat (24/7/2026).

Menurut Eddy, ketergantungan pasokan energi terhadap impor menjadi pemicu utama kerentanan energi Indonesia, mengingat kebutuhan BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari (bph) namun produksi hanya sekitar 600 ribu bph.

Eddy menegaskan bahwa kondisi tersebut membawa tekanan terhadap fiskal karena pemerintah harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli bahan baku impor.

"Hari ini dari segi ketahanan energi, kita masih menggantungkan harapan pada impor. Untuk menggerakkan mobilitas ekonomi kita secara keseluruhan. Ini kemudian membawa tekanan kepada fiskal kita," tuturnya.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Menkeu Purbaya Yakin Harga Pertamax Akan Turun