Punya Harta Karun Top 2 Dunia, Tapi RI Baru Manfaatkan 12%

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 12:10 WIB
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia saat ini baru mencapai 11-12% dari total potensi yang dimiliki. Padahal, Indonesia merupakan pemilik cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia yang berpotensi menjadi tumpuan energi bersih nasional.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi memaparkan tantangan serta peluang besar dalam mengoptimalkan "harta karun" energi hijau tersebut. Ia menekankan bahwa kesenjangan antara sumber daya yang tersedia dengan pemanfaatannya saat ini menjadi komitmen besar bagi perusahaan untuk segera ditingkatkan.

"Iya mungkin bisa jadi potensi itu yang terbesar di dunia tapi kalau kita lihat dari installed capacity yang terpasang itu tidak sampai 20% paling hanya sekitar ya 11 atau 12%," katanya dalam Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Jumat (24/7/2026).


PGE saat ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 727 Mega Watt (MW) dan menargetkan pertumbuhan kapasitas hingga 1,8 Giga Watt (GW) pada tahun 2033. Dalam jangka panjang, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 3 GW dan berambisi menjadi perusahaan panas bumi terbesar di dunia.

"Targetnya itu kita itu ingin jadi nomor satu di dunia nomor satu di dunia dan PGE ingin juga menjadi company dengan installed kapasitas terpasang terbesar di dunia yaitu 3 Gigawatt itu visi kita ke depan," imbuhnya.

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan tengah mempercepat berbagai proyek, salah satunya melalui tajak perdana pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 di Muara Enim, Sumatra Selatan. Selain itu, PGE juga melakukan eksplorasi di area Gunung 3 Lampung serta persiapan pengeboran di wilayah Kotamobagu, Sulawesi Utara.

Edwil menilai panas bumi memiliki keunggulan sebagai energi baseload yang sangat stabil karena produksinya tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca maupun waktu. Namun, ia mengakui bahwa industri ini masih menghadapi tantangan risiko tinggi dan kebutuhan biaya investasi yang besar, sehingga diperlukan kerja sama dengan pemerintah terkait regulasi dan dukungan ekosistem.

"Kita menyadari panas bumi ini mirip seperti energi fosil di mana dia bisa menjadi support bagi baseload atau energi yang tidak dipengaruhi oleh panas tidak dipengaruhi oleh hujan siang malam jadi dia akan konsisten menghasilkan listrik di situasi apapun juga," tandasnya.

RUPTL 2025-2034

Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit listrik baru dalam RUPTL 2025-2034 ini sebesar 69,5 Giga Watt (GW).

Dari target tambahan pembangkit tersebut, sekitar 42,6 GW akan berasal dari pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT), 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi (storage), dan 16,6 GW dari pembangkit berbasis energi fosil.

Adapun rinciannya untuk kapasitas pembangkit EBT adalah sebagai berikut: Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 17,1 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) 11,7 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB) 7,2 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) 5,2 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi 0,9 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) 0,5 GW.

Sementara itu, untuk kapasitas sistem penyimpanan energi mencakup PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan baterai 6,0 GW. Kemudian, untuk pembangkit fosil masih akan dibangun sebesar 16,6 GW, terdiri dari gas 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI Kembangkan Panas Bumi Demi Transisi Energi,Apa Tantangannya?