Pangkas 12 Entitas, IFG Perkuat Tata Kelola-Cegah Kesalahan Investasi

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Kamis, 23/07/2026 17:05 WIB
Foto: Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan program streamlining telah memangkas sekitar 250 entitas BUMN dan menghasilkan efisiensi biaya mencapai Rp50 triliun, hingga Juli 2026. Khusus di sektor asuransi dan penjaminan, Indonesia Financial Group (IFG) ikut berkontribusi melalui penyederhanaan 12 entitas sebagai bagian dari transformasi ekosistem BUMN.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria, menggelar pertemuan bersama jajaran Direksi IFG untuk membahas percepatan program streamlining, perkembangan transformasi holding, serta penguatan tata kelola dan efisiensi perusahaan asuransi BUMN. Dalam kesempatan ini, Dony memberikan arahan bahwa keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari penyederhanaan struktur perusahaan, tetapi juga dari perbaikan kualitas pengelolaan investasi.

Dirinya bilang, berbagai persoalan yang selama ini terjadi di industri asuransi berakar pada penempatan investasi yang tidak seimbang dengan kewajiban (liabilities), sehingga meningkatkan eksposur risiko perusahaan.


"Kita belajar dan memetakan persoalan-persoalan yang terjadi sebelumnya. Salah satu yang paling banyak terjadi adalah misinvestment. Selama ini banyak persoalan muncul karena tidak seimbang antara liabilities dan investasinya. Inilah yang menyebabkan kita terekspos dengan risiko yang cukup besar," ujar Dony dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (23/7/2026).

Di samping itu, ia mengingatkan adanya ketidakseimbangan portofolio investasi yang perlu segera diselesaikan. Menurutnya, pertumbuhan kewajiban yang tidak diimbangi dengan kinerja aset investasi, khususnya pada portofolio properti, berpotensi memperlebar kesenjangan keuangan perusahaan apabila tidak segera ditangani.

"Sekarang kita menyadari ada ketidakseimbangan dalam portofolio kita. Saya khawatir gap-nya justru semakin besar karena liabilities terus meningkat, sementara ada portofolio di sisi properti yang belum menghasilkan margin yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Ini harus diselesaikan dengan cepat," jelasnya.

Lantas, IFG diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan investasi yang lebih disiplin, memperkuat manajemen risiko, serta memastikan pengembangan produk asuransi dilakukan berdasarkan analisis risiko yang sehat. Melalui transformasi holding dan program streamlining, IFG diharapkan mampu meningkatkan keberlanjutan industri asuransi BUMN sekaligus mencegah terulangnya kesalahan investasi di masa mendatang.


(rah/rah) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Emiten Sektor Konstruksi Belum Pulih Merata