CLOSE AD
MARKET DATA

Regulasi Jadi Landasan Fundamental Bagi Tata Kelola Migas RI

Teti Purwanti,  CNBC Indonesia
23 July 2026 14:23
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak & Gas (Aspermigas), Elan Biantoro menyampaikan pemaparan dalam acara Coffe Morning di Parle Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Potensi minyak dan gas (migas) di Indonesia sangatlah besar dan tidak terelakan. Namun Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (ASPERMIGAS) Elan Biantoro mengatakan bahwa tata kelola yang menjadi kunci pengelolaan migas di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.

"Oleh karena itu regulasi menjadi fundamental dari tata kelola. Setelah itu produk turunan dari regulasi tersebut bisa dikeluarkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan atau policy. Policy inilah tadi yang juga disampaikan bahwa konsistensi terhadap policy menjadi penting, tidak berubah-ubah," ungkap Elan dalam Coffee Morning dengan tema "Managing Cost to Supply: Challenging Era for Energy, Resources, and Infrastructure Companies," di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya, hal tersebut jadi penting agar pengelolaan sumber daya alam khususnya minyak dan gas yang selama ini masih menjadi tulang punggung energy supply di Indonesia tidak naik dan turun.

Di sisi lain, dalam pengelolaan sumber Daya ada disrupsi hingga masalah geopolitik yang tidak terelakkan, oleh karena itu Elan memastikan bahwa tata kelola dan regulasi adalah nomor satu yang harus dibereskan.

"Kami dari Aspermigas melihatnya nomor satu adalah tata kelola. Apabila tata kelola itu bisa bersinergi dan diperpendek birokrasinya, juga rantai supply-nya dibuat simpel tidak terlalu panjang, saya kira itu yang menjadi harus kita selesaikan. Dan kepastian menjadi terbentuk baik dari sisi pengguna, pelaku, pelaku itu ada investor dan juga pekerja di dalam industri migas," rinci Elan.

Apalagi lanjutnya, di Aspermigas itu ada investor, ada vendor atau kontraktor, ada lagi trader yang sering kali kebingungan saat terjadi banyak sekali turbulensi seperti sekarang.

"Saya kira kata kuncinya adalah tata kelola yang harus kita perbaiki," tegas dia.

Sementara itu, Waketum Bidang Hubungan Antar-Lembaga Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia, Didik Prasetiyono juga berharap adanya tata kelola dan regulasi yang pasti. Pasalnya saat ada muncul ketidakpastian, hal itulah yang tidak bisa dihitung oleh pengusaha.

Padahal menurutnya, untuk menciptakan investasi yang baik butuh kepastian serta kolaborasi antar-lembaga.

"Kita sedang membangun ekosistem dan daya saing. Untuk mendukung daya saing Indonesia harus bisa kompetitif, seperti bunga yang harus agar kumbang-kumbang datangi ke sini," jelas Didik.

Sebagai informasi, sektor energi Indonesia diwarnai berbagai dinamika dalam beberapa tahun terakhir. Konflik geopolitik global yang sempat mendisrupsi pasokan minyak dan gas dunia, serta kenaikan harga minyak dan gas dunia juga turut mempengaruhi harga BBM dan gas di dalam negeri. Bagi pelaku industri, pasokan gas di dalam negeri menjadi tantangan tersendiri. Terlebih infrastruktur gas bumi di dalam negeri juga belum sepenuhnya tersedia secara menyeluruh dan terintegrasi.

(dpu/dpu) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Strategi Penguatan Tata Kelola Energi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi


Most Popular
Features