Bos DBS Indonesia Ungkap 3 Tantangan Utama Perusahaan Energi RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong menyebut perusahaan energi di Indonesia dihadapkan pada tiga tantangan utama. Tantangan ini meliputi sumber daya alam, permodalan, dan infrastruktur.
Dia menjelaskan kondisi geopolitik tengah mengubah peta arus perdagangan global. Konflik, sanksi, dan kekhawatiran akan keamanan dapat dengan cepat memengaruhi akses ke energi, mineral kritis, peralatan, serta pasokan industri utama.
"Masalah yang dulunya sekadar isu pasokan, kini dapat berdampak langsung pada kelangsungan bisnis dan pertumbuhan perusahaan," jelas dia dalam CNBC Indonesia Coffee Morning "Managing Cost to Supply: Challenging Era for Energy, Resources, and Infrastructure Companies", Kamis (23/7/2026).
Tantangan lainnya yakni permodalan yang terjadi karena volatilitas komoditas mengubah perencanaan dan keputusan investasi.
"Harga energi, bahan baku, biaya pengiriman, hingga pergerakan nilai tukar mata uang dapat berubah sangat cepat, bahkan lebih cepat dari siklus penganggaran tradisional. Hal ini menciptakan ketidakpastian di seluruh operasional dan proyek modal," tutur Chu Chong.
Tak hanya itu, agenda transisi energi turut mengubah struktur pembiayaan sektor pertambangan. Ini terjadi karena agenda tersebut melahirkan peraturan baru, kebijakan karbon, teknologi, hingga dinamika ekonomi bahan bakar.
"(Ini) memaksa perusahaan untuk memikirkan kembali keputusan investasi jangka panjang mereka, sembari tetap menjaga keseimbangan antara keandalan, keterjangkauan, dan keberlanjutan," kata dia.
Sementara mengenai infrastruktur, ia mengungkap rantai pasok menjadi semakin terfragmentasi. Beberapa perusahaan saat ini mengejar diversifikasi pemasok hingga sistem cadangan untuk menjaga ketahanan.
"Bahwa keputusan pasokan tidak lagi bisa dipandang murni dari kacamata pengadaan dan operasional semata. Keputusan tersebut kini memengaruhi daya saing, ketahanan, alokasi modal, dan pada akhirnya, nilai bagi para pemegang saham," ujar dia.
Dalam mendukung industri pertambangan di Indonesia, Chu Chong menegaskan pihaknya memberikan wawasan dalam memahami pasar. Langkah ini nantinya membantu mitra dalam mengambil keputusan.
"Dalam lingkungan yang dibentuk oleh perubahan kebijakan, volatilitas komoditas, pergerakan nilai tukar mata uang, dan gangguan rantai pasok, wawasan yang tepat waktu menjadi keunggulan komparatif," terang Chu Chong.
DBS Indonesia juga membantu mitra mengalokasikan modal secara lebih efektif baik dalam menilai kelayakan proyek untuk pendanaan bank, mengoptimalkan struktur modal, maupun menyusun peta jalan transisi.
Terakhir adalah membantu para mitra dari industri pertambangan mengeksekusi strategi dan rencana perusahaan. DBS Indonesia melalui mendukung mitra melalui solusi modal kerja, pembiayaan proyek, manajemen risiko, strategi lindung nilai, serta kapabilitas lintas batas.
"Ini adalah tentang bagaimana mengarungi ketidakpastian, mengalokasikan modal secara bijak, dan mengeksekusi rencana. Di sinilah kami percaya bahwa peran kami di Bank DBS melampaui sekadar penyedia pembiayaan," pungkas dia.
(dpu/dpu) Add
source on Google