Perang Memanas, Purbaya Ngaku Resah Harga Minyak Tinggi Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tengah resah harga minyak mentah dunia akan kembali tinggi, setelah perang di Timur Tengah kembali memanas.
Ia mengatakan, peperangan ini secara tidak langsung belum berdampak kepada kondisi APBN 2026. Namun, bila harga minyak mentah dunia kembali tinggi, menurutnya bisa kembali membuat kapasitas fiskal terbatas.
"Belum ada, cuma saya khawatir harga minyaknya naik terlalu tinggi. Jadi ruang fiskal saya untuk stimulus terbatas, selain APBN," kata Purbaya saat ditemui di kawasan Kantor Pusat PBNU, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Peperangan di kawasan Timur Tengah makin panas setelah setelah militer Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap sasaran militer Iran untuk malam ke-11 berturut-turut.
Pada saat yang sama, Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya mencegat drone Iran, memperluas kekhawatiran pasar bahwa konflik berpotensi mengganggu arus pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Dengan adanya kondisi itu, Purbaya mengatakan, tren pelemahan harga minyak hingga awal Juli ini bisa terganggu.
"Tadinya kan ketika saya harap harga minyak turun ke US$ 79 per barel, sebelumnya kan anggaran saya hitung dengan harga US$ 100. Jadi saya ada uang lebih gara-gara dipakai untuk mendorong perkembangan ekonomi," paparnya.
"Sekarang mungkin jadi uangnya agak berkurang, jadi saya harus hati-hati lagi," tegas Purbaya.
Meski begitu, Purbaya menekankan, tekanan harga minyak yang kembali berpotensi tinggi akibat memanasnya peperangan di Timur Tengah tidak akan mengganggu secara signifikan stabilitas perekonomian Indonesia.
"Tapi fondasi ekonomi tetap terjaga dengan baik. Anda lihat kan sebelumnya dengan harga minyak tinggi pun, kita masih tubuh bagus kan. Jadi ekonomi akan terus membaik ke depan, walaupun global ekonomi gonjang ganjing," ujar Purbaya.
Stabilitas ekonomi tanah air ia pastikan akan masih terjaga dan bahkan masih bisa tumbuh cepat karena daya dorongnya bertumpu pada permintaan domestik. "Kenapa? Karena 90% ekonomi kita didorong oleh domestik demand," ucapnya.
Sebagaimana diketahui, harga minyak dunia melanjutkan reli pada perdagangan Rabu (22/7/2026) pagi, didorong eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Mengacu Refinitiv hingga pukul 09.30 WIB, harga Brent berada di US$92,13 per barel, naik 1,23% dibanding penutupan sehari sebelumnya di US$91,01 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$85,28 per barel, bertambah 0,44% dari posisi Selasa di US$84,91 per barel.
Kenaikan ini membawa Brent ke level tertinggi dalam lebih dari lima pekan. Dibandingkan penutupan Jumat (17/7/2026), Brent telah melonjak sekitar 4,6%, sedangkan WTI naik sekitar 3,4%.
(arj/arj) Add
source on Google