Stok Mobil di Diler Terancam Numpuk, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Senin, 20/07/2026 15:55 WIB
Foto: Aktivitas Car Terminal di Pelabuhan Internasional Patimban, Subang, Jawa Barat, Jumat (17/12/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) memunculkan kekhawatiran baru di industri otomotif. Salah satu yang menjadi sorotan adalah potensi penumpukan stok kendaraan di diler apabila konsumen mulai menunda pembelian mobil akibat cicilan yang semakin mahal.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Kukuh Kumara mengatakan kondisi di setiap diler tidak bisa disamaratakan. Sebab, kebijakan pengelolaan stok maupun program penjualan sangat bergantung pada strategi masing-masing Agen Pemegang Merek (APM).

"Ya, mengenai dealer itu sisi yang berbeda lagi. Tergantung dari brand-nya seperti apa. Dealer-dealer lokal cenderung independen. Saya tidak punya informasi yang akurat mengenai mereka, tetapi tentunya akan didukung program-program yang disiapkan brand-nya," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (20/7/2026).


Produsen memiliki kepentingan agar distribusi kendaraan tetap bergerak dari pabrik hingga ke tangan konsumen. Karena itu, dukungan terhadap jaringan diler akan disesuaikan dengan strategi pemasaran masing-masing merek, termasuk melalui program promosi maupun skema penjualan yang dinilai paling efektif.

"Brand tidak akan mau membiarkan stoknya diam. Maunya mengalir ke dealer lalu ke konsumen," kata Kukuh.

Tantangan terbesar justru muncul apabila calon pembeli memutuskan menunda transaksi. Kondisi tersebut dapat menghambat perputaran stok kendaraan yang sudah diproduksi pabrikan dan dikirim ke jaringan penjualan.

"Kalau sudah hold biasanya panjang. Tidak cukup seminggu dua minggu, bisa dua, tiga, empat bulan. Kita kehilangan momentum. Kendaraan sudah dibuat di pabrik, tidak bisa dilipat, makan tempat storage dan biaya juga," ujar Kukuh.

Karena itu, setiap merek memiliki strategi yang berbeda untuk menjaga arus distribusi kendaraan tetap berjalan. Besarnya dampak kenaikan suku bunga juga tidak bisa dipukul rata karena kemampuan masing-masing perusahaan dalam menghadapi perlambatan pasar berbeda-beda.

"Ini relatif tergantung dari masing-masing brand. Mereka punya cushion berapa lama. Tidak bisa digeneralisasi tiga atau empat bulan. Harus melihat historical data dan kebijakan masing-masing perusahaan," kata Kukuh.

Di tengah kondisi tersebut, produsen bersama perusahaan pembiayaan diperkirakan tetap akan menggelontorkan berbagai promo agar konsumen tidak menunda pembelian. Berbagai program penjualan menjadi salah satu cara menjaga perputaran stok kendaraan di diler tetap sehat hingga akhir tahun.

"Ini yang kami sempat berpikir akan ada kecenderungan seperti itu karena sempat ada wacana insentif namun tidak muncul. Tetapi ternyata dibuktikan dengan penjualan bulan Juni yang tetap meningkat, sehingga penjualan Januari-Juni dibanding tahun lalu juga lebih baik," sebut Kukuh.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

IHSG Bangkit, Tinggal Taklukkan 'Tembok Terakhir Menuju Fase Bullish