MARKET DATA
Internasional

Perang AS-Iran Makin Kacau! Muncul Target Baru, Dunia Bisa Ikut Lumpuh

luc,  CNBC Indonesia
18 July 2026 06:40
Ketegangan di Timur Tengah mencapai babak baru setelah pasukan Amerika Serikat dilaporkan melancarkan gelombang serangan udara keenam secara berturut-turut di wilayah selatan Iran, Kamis 16 Juli 2026 malam waktu setempat. (via REUTERS/U.S. Central Co
Foto: (via REUTERS/U.S. Central Command)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki babak yang lebih berbahaya. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepekan eskalasi perang, kedua negara mulai menyerang infrastruktur penting, memicu kekhawatiran perang meluas ke fasilitas sipil dan energi yang menopang kawasan Teluk.

Militer AS pada Jumat (17/7/2026) melancarkan serangan terhadap sejumlah jembatan di Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi di Kuwait. Di saat yang sama, ketegangan di laut juga meningkat setelah kapal tanker kembali menjadi sasaran serangan dan jalur pelayaran utama energi dunia semakin terancam.

Di kawasan Selat Hormuz, tempat konflik telah memutus pasokan energi dari Teluk, Marinir AS menaiki sebuah kapal tanker di dekat selat tersebut. Sementara itu, dua kapal tanker minyak dilaporkan meledak dan terbakar setelah melintasi jalur yang dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz, menurut laporan media Iran yang mengutip Garda Revolusi Iran (IRGC).

Situasi di Laut Merah juga semakin memburuk. Kelompok bersenjata menyita sebuah kapal di lepas pantai Yaman, memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia, yakni Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan Garda Revolusi yang menegaskan bahwa selama "agresi" Amerika Serikat belum dihentikan, ekspor energi dari kawasan tidak akan dapat berjalan.

"Sampai agresi Amerika Serikat berakhir, tidak akan mungkin mengekspor pupuk kimia maupun bahkan 'setetes pun minyak dan gas' dari kawasan," demikian pernyataan Garda Revolusi yang disiarkan televisi pemerintah Iran, sebagaimana dilansir Reuters.

Washington dan Teheran terus menguji batas eskalasi sejak gencatan senjata yang mereka capai runtuh pekan lalu. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran perang berskala penuh akan pecah.

Pasar energi langsung merespons perkembangan terbaru tersebut. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 3% pada Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Lonjakan harga itu juga meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu Kongres pada November mendatang.

Trump sebelumnya telah mengancam akan meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap infrastruktur Iran. Ia juga tidak menutup kemungkinan melakukan operasi darat di wilayah pesisir maupun pulau-pulau Iran.

Sejumlah pejabat AS mengatakan operasi militer di wilayah selatan Iran sebagian dirancang untuk memberikan lebih banyak opsi militer kepada Trump.

Namun, langkah tersebut berisiko memicu respons lebih keras dari Iran, baik melalui serangan terhadap infrastruktur vital negara-negara Teluk maupun melalui sekutunya di Yaman yang dapat mengganggu pasokan energi global lewat Laut Merah.

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan Washington agar tidak terus meningkatkan eskalasi maupun mencoba merebut wilayah Iran.

"Jika serangan Amerika Serikat terus berlanjut selama beberapa hari lagi, kami akan memasuki fase operasi ofensif berskala penuh," kata Rezaei, seorang mantan komandan tertinggi Garda Revolusi Iran.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyampaikan keprihatinannya atas eskalasi terbaru.

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan Guterres mengkhawatirkan peningkatan konflik, terutama karena kini telah menyasar fasilitas sipil. Dia prihatin terhadap eskalasi tersebut, khususnya "serangan terhadap infrastruktur sipil di Iran dan di seluruh kawasan," kata juru bicaranya.

Sebelumnya, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan sasaran operasinya meliputi "infrastruktur logistik militer", pertama kalinya istilah infrastruktur digunakan dalam pernyataan resmi mereka dalam lebih dari sepekan terakhir.

Dalam serangan terbaru, CENTCOM menyatakan pihaknya kembali menggempur Iran untuk malam ketujuh berturut-turut, dimulai pukul 15.00 EDT atau sekitar pukul 22.30 waktu Teheran.

"Serangan-serangan ini dirancang untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran atas arahan Panglima Tertinggi," tulis CENTCOM melalui akun X.

Tak lama setelah itu, media Iran melaporkan ledakan terdengar atau serangan terjadi di Sirik, Ahvaz, dan Yazd.

Kantor berita Mehr menyebut tidak ada korban jiwa akibat proyektil musuh di luar Kota Yazd, yang terletak sekitar 600 kilometer di selatan Teheran.

Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan sedikitnya lima jembatan di wilayah selatan negara itu menjadi sasaran serangan.

Sebanyak tujuh orang dilaporkan tewas dalam serangan terhadap jembatan di kota pelabuhan Bandar Khamir. Stasiun kereta api kota tersebut juga ikut terkena serangan.

Bandara di Iranshahr, wilayah yang berbatasan dengan Pakistan, juga dilaporkan menjadi sasaran.

Video yang telah diverifikasi Reuters memperlihatkan puing-puing, pagar pembatas yang hancur, kendaraan rusak di atas jembatan yang ambruk di Bandar Khamir, serta kobaran api di lokasi kejadian.

Sebagai balasan, Iran mengumumkan telah menyerang sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Iran juga mengeklaim menyerang sebuah kapal militer AS di bagian utara Samudra Hindia.

Garda Revolusi menyatakan mereka menyerang gudang penyimpanan drone milik AS di Bahrain serta menghancurkan pusat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) utama Bahrain menggunakan rudal balistik dan drone.

Sementara itu, Angkatan Laut Iran menembakkan rudal jelajah pantai-ke-laut ke arah kapal AS yang disebut sebagai kapal musuh di Samudra Hindia bagian utara.

Kantor berita pemerintah IRNA melaporkan rudal tersebut memaksa kapal AS menjauh dari jangkauan Angkatan Laut Iran. Militer Iran mengatakan peluncuran rudal itu telah menimbulkan "ketakutan dan kepanikan" sehingga kapal tersebut mundur dari area operasi.

Adapun pemerintah Kuwait mengonfirmasi salah satu fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air laut negara itu terkena serangan Iran.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan, kebakaran, dan gangguan terhadap sejumlah besar unit pembangkit listrik.

Negara-negara Arab Teluk sangat bergantung pada fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi untuk memasok air bersih bagi kota-kota mereka yang berada di wilayah gurun.

Serangan terhadap fasilitas desalinasi Kuwait pada 30 Maret lalu sebelumnya telah dipandang sebagai salah satu bentuk eskalasi terbesar dalam konflik kawasan.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Update Terkini Perang AS-Iran, Hujan Rudal bak "Langit Runtuh"


Most Popular
Features