Diteken Era Habibie, Akhirnya Proyek Gas Raksasa Dibangun Prabowo

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Jumat, 17/07/2026 08:30 WIB
Foto: Presiden Prabowo Subianto saat menyaksikan Groundbreaking Proyek Strategis Nasional Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela yang disaksikan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (16/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)

Maluku, CNBC Indonesia - Proyek gas raksasa Lapangan Abadi Blok Masela akhirnya resmi memasuki tahap pembangunan fisik. Proyek yang sudah disepakati sejak tahun 1998 ini memasuki babak baru ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada Kamis (16/7/2026).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut proyek yang telah direncanakan selama 28 tahun itu baru bisa dieksekusi pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Pada hari ini tepat pada tanggal 16 Juli kita menandai babak baru proyek Abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu sudah 6 Presiden, pak Prabowo Subianto lah yang bisa eksekusi hari ini," kata Bahlil dalam acara groundbreaking PSN Lapangan Abadi Blok Masela, Kamis (16/7/2026).


Bahlil membeberkan, selama bertahun-tahun proyek Lapangan Abadi Blok Masela terhambat karena adanya perdebatan panjang mengenai konsep pengembangan kilang yakni antara pembangunan di laut (offshore) atau di darat (onshore).

Namun Prabowo meminta untuk segera mengeksekusi proyek tersebut serta memberikan kepastian terhadap seluruh konsesi dan perizinan migas yang sudah selesai Plan of Development (PoD) nya tetapi belum dilaksanakan.

"Atas dasar itu surat peringatan pertama kepada Inpex kita layangkan dan alhamdulillah hari ini kita lakukan groundbreaking," ujarnya.

Prabowo mengatakan, pembangunan proyek ini sangat penting dalam perjalanan pembangunan Indonesia. Ia bersyukur, setelah hampir tiga dekade menunggu, akhirnya Proyek ini mulai dibangun juga.

"Proyek ini hampir 3 dekade 3 dasawarsa, kita tunggu. 3 dekade 3 dasawarsa rakyat menunggu. Alhamdulillah hari ini kita mulai pembangunan, dan pembangunan tidak boleh terhambat, harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya," ujar Prabowo dalam sambutan peresmian.

Prabowo menguraikan bahwa di Kepulauan Tanimbar di Maluku Indonesia memiliki cadangan energi yang sangat besar. "Kita sudah sadar ini 28 tahun yang lalu, dan kita menghargai semua unsur, kita apresiasi kita harus memberi suatu penghargaan sekali lagi kepada semua unsur yang telah memungkinkan proyek ini terwujud," tuturnya.

Prabowo menyebut, ada upaya yang tak mudah dalam pembangunan proyek strategis ini. Membutuhkan sinergi antar kementerian dan lembaga untuk dapat merealisasikannya. Sebagaimana diketahui, sejak pertama kali dikontrak hingga akhirnya memasuki tahap pembangunan fisik, Blok Masela telah melewati berbagai perubahan kebijakan, pergantian pemerintahan, hingga tarik-ulur skema pengembangan.

Sementara, CEO Inpex Corporation Takayulo Ueda mengatakan, proyek ini mencerminkan eratnya kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, seluruh pemangku kepentinga, dan INPEX dalam memperkuat ketahanan energi nasional serta mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

"Berkat sinergi yang kuat tersebut, hari ini kita dapat berdiri bersama dan memulai babak baru dalam perjalanan Proyek Abadi Energy," ucapnya.

Menurutnya, proyek ini akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat serta generasi mendatang.

Selain itu, melalui pasokan energi yang dihasilkannya, proyek ini memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung ketahanan energi Jepang maupun kawasan Indo-Pasifik.

"Proyek ini diberi nama Abadi dengan harapan dapat terus menjalankan peran tersebut selama bertahun-tahun ke depan. Selama bertahun-tahun, orang-orang di Jakarta membicarakan Abadi. Orang-orang di Tokyo juga membicarakan Abadi. Para investor membicarakan Abadi, para kontraktor pun membicarakan Abadi. Hari ini, Abadi kembali ke tempat di mana semuanya benar-benar dimulai, yaitu di Saumlaki," sebutnya.

Profil Blok Masela

Lapangan Abadi tercatat memiliki cadangan gas sekitar 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas. Potensi ini menjadikannya salah satu proyek gas paling strategis di Indonesia.

Proyek ini juga berpotensi menghasilkan 9,5 juta metrik ton per tahun (MMTPA) LNG dan 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.

Kontrak bagi hasil Blok Masela sendiri ditandatangani antara Pemerintah Indonesia dan Inpex Corporation pada 16 November 1998, saat Presiden BJ Habibie masih memimpin Indonesia. Meski hampir 30 tahun sejak kontrak diteken, proyek Blok Masela belum juga memasuki tahap produksi.

Selama rentang waktu itu proyek ini mengalami berbagai tantangan. Dimulai dari proses eksplorasi, penyusunan rencana pengembangan (Plan of Development/POD), perubahan kebijakan pemerintah, hingga penyesuaian skema investasi.

Awalnya, kontrak PSC Blok Masela berlaku selama 30 tahun dan seharusnya berakhir pada 2028. Namun, pada Oktober 2017, pemerintah memberikan perpanjangan kontrak selama 20 tahun hingga 2048. Selain itu, pemerintah juga memberikan tambahan waktu tujuh tahun sehingga masa kontrak berlaku hingga 2055.

Perpanjangan tersebut diberikan karena proyek belum memasuki tahap produksi, sementara Inpex menyatakan komitmennya untuk tetap melanjutkan pengembangan Lapangan Abadi.

Tambahan tujuh tahun juga menjadi bentuk kompensasi atas perubahan kebijakan pemerintah yang mengharuskan pembangunan fasilitas kilang gas alam cair (LNG) dilakukan di darat (onshore) bukan lagi di laut (offshore) sebagaimana rencana awal.

Operator Blok Masela

Inpex Masela Ltd merupakan pemegang hak partisipasi (Participating Interest/ PI) terbesar di Blok Masela yakni mencapai 65%. Sebelumnya, Inpex ditemani oleh Shell Upstream Overseas Services dengan saham 35%. Namun sayangnya, Shell memutuskan hengkang dari proyek gas abadi yang berlokasi di Maluku itu.

Adapun 35% saham Shell tersebut sejak Juli 2023 lalu telah diambil oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas 15%.

Perjanjian jual beli hak partisipasi dari Shell ke Pertamina dan Petronas ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan PI diperoleh pada 4 Oktober 2023.

Berikut jejak penting Proyek Gas Lapangan Abadi, Blok Masela:

1998: Kontrak bagi hasil (PSC) ditandatangani oleh Inpex

2000: Penemuan cadangan gas jumbo di Blok Masela

2019: Persetujuan Rencana Pengembangan Pertama (PoD-I) oleh Pemerintah Indonesia, untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas bumi, dan 35.000 bph kondensat.

2023: Shell hengkang, Pertamina dan Petronas masuk memegang hak partispasi masing-masing 20% dan 15%. Kemudian, Revisi 2 POD-I disetujui Pemerintah Indonesia, karena memasukkan fasilitas CCS.

2025: FEED OLNG resmi diluncurkan.

2026: Groundbreaking LNG Blok Maslea di Darat Kepulauan Tanimbar, Maluku oleh Prabowo Subianto


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Blok Masela, "Bangun dari Tidur" Setelah 28 Tahun